Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Penyesalan


__ADS_3

"Apa kamu sudah gila?"tanya Mischa kecewa.


"Itu sesuai dengan keinginanmu,"jawab teman prianya.


"Aku tak menginginkan kejadiannya seperti ini,"sahut Mischa."Bagaimana jika dia meninggal atau cacat?"tanyanya lagi.


"Kita harus bertanggung jawab,"jawabnya santai.


"Aku tidak mau bertanggung jawab,"protes Mischa. "Kamu tahu Reno begitu terpukul melihat wanita yang ia cintai terbaring tak berdaya dan bisa saja Tante Marni berubah pikiran,"ucapnya lagi penuh rasa marah.


"Kamu tahu Reno mencintainya tapi masih mengharapkannya,"ujar pria itu menyeruput tehnya.


"Aku mencintainya,"ucap lirih Mischa.


"Sudahlah, lupakan dia dan bersamaku saja!"ujar pria itu.


"Apa?"batinnya."Aku tidak mau,ini tidak lucu!"ujar Mischa berlalu.


Pria itu kembali ke rumahnya,saat menaiki tangga rumah seseorang memanggilnya.


"Apa yang telah kamu lakukan terhadap wanita itu?"tanya seorang ibu menghentikan langkah anaknya.


"Mama!"ucap pria itu."Sejak kapan di sini?"tanyanya kembali.


"Sejak kamu menabrak wanita itu!"ucap wanita paruh baya berusia 50 tahun.


Pria itu tidak menggubris ucapan wanita tua yang telah melahirkannya,ia malah melanjutkan melangkah menaiki tangga.


"Kamu,dengar Mama!"teriak wanita itu."Mama tidak akan memberi kamu harta papa jika kamu tidak bertanggung jawab!"lanjutnya.


Sementara Tio kembali ke rumah,ia mendapati Sarah tertidur di sofa ruang tamu.


"Sayang!"ucapnya lembut membangunkan istrinya.


Sarah menggeliat dan bangun, melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam."Mas, bagaimana kondisi Arina?"tanyanya karena sebelumnya tadi siang Tio menelepon jika sekretarisnya itu kecelakaan.


"Dia masih belum sadar juga,"ucap Tio.


"Kasihan dia ,Mas!"ucap Sarah sedih."Jauh dari keluarga untuk bekerja malah kayak begini!"lanjutnya.


"Kita berdoa sama-sama,biar dia segera di beri kesembuhan,"ucap Tio memeluknya.


Sarah menggangukkan kepalanya dan menghapus air matanya.


"Aku mau mandi,kamu tidurlah!"


"Besok aku ikut jenguk Arina!"ucap Sarah.


"Iya,sayang. Besok pagi kita sama-sama menjenguknya!"sahut suaminya itu.


...****************...


Orang tua Arina datang tadi malam karena perjalanan dari desa ke kota cukup memakan waktu 10 jam.


"Bagaimana kondisinya,Tante?"tanya Reno pada Nana ibu kandung Arina.


"Belum ada kemajuan sama sekali,"ucapnya bersedih.


Reno memundurkan langkahnya dan terduduk di kursi.Pikirannya benar-benar kacau.

__ADS_1


"Mengapa ini terjadi padamu? Aku takkan memaafkan orang yang sudah mencelakaimu!"batinnya marah.


"Reno!"panggil Tio."Bagaimana,apa sudah membaik?"tanyanya.


"Dia belum sadar juga!"ucapnya lirih.


"Sabar ya,aku yakin dia kuat!"ucap Sarah menguatkan lelaki di depannya itu."Mas,kemarilah sebentar !"Sarah menarik suaminya sedikit menjauh dari Reno.


"Dia ngapain ke sini!"tunjuk Sarah ke arah Reno menggunakan isyarat bibir.


"Entahlah!"sahut Tio."Biarkan saja, mungkin dia suka dengan Arina. Kamu mau tahu saja urusan orang lain,"omelnya.


"Hehehe."


"Malah tertawa, ayo kita ke sana!"ajak suaminya itu.


Tak lama mereka saling mengobrol,Seno datang bersama Wisnu walaupun lelaki yang menikahi Mayang sempat berdebat kecil dengan istrinya karena kecemburuannya terhadap Arina.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau ke rumah sakit menjenguk Arina."


"Kenapa dengan dia sampai sebegitu perhatiannya dirimu?"tanya Mayang cemburu.


"Aku ke sana tidak sendirian.Ada Tuan Tio,Nona Sarah dan Seno juga,"jelasnya. "Kamu makin cemburu ,makin cantik,"godanya.


"Ya ,sudah sana! Jangan lupa bawakan nasi uduk!"ucap Mayang tersipu malu.


"Ya,ampun. Begini kalau mau minta izin pasti ada upahnya,"protes Wisnu menepuk jidatnya.


Sesampainya di sana Wisnu dan Seno menghampiri Tio dan Sarah.


"Belum,Tuan. Sepertinya dia memakai plat palsu,saya yakin Arina adalah target!"ucap Seno.


"Maksud kamu Arina punya musuh gitu?"tanya Sarah.


"Saya kurang yakin,Nona."


"Tidak mungkin dia punya musuh,"sahut Reno.


"Entahlah,Tuan. Saya pun tidak percaya itu!"ucap ajudannya Tio.


...****************...


Seminggu sudah Arina di rawat namun tidak tampak jika ia akan sadar. Orang tuanya masih menunggunya.


Sejak Arina di rawat, Mischa seakan menghilang. Pria itu terus memantau kondisi Arina dari jarak jauh . Ia mendapatkan info tentang Arina dari seorang temannya yang kebetulan juga bekerja sebagai perawat di rumah sakit itu. Reno tetap setia menunggu wanita yang sudah mencuri hatinya itu sadar.


Pria itu mencoba menghubungi Mischa,namun nihil dia tak dapat dihubungi.


"Aku akan ke rumahnya!"ucapnya membatin. Pria itu menuju tempat tinggal Mischa.Ia mengetuk pintu rumah yang menjadi tempat tinggal wanita itu sejak 20 tahun yang lalu. Tak lama pintu terbuka,"Ada Mischa,Tante?"tanyanya.


"Dia tidak tinggal di sini lagi!"ucap wanita paruh baya itu ketus.


"Jadi dia tinggal di mana?"


"Saya tidak tahu,"jawabnya cuek.


"Bukankah ini rumah Mischa?"

__ADS_1


"Iya, itu dulu sekarang jadi milikku!"jawabnya sedikit sombong.


Seingat pria itu Mischa pernah cerita tinggal di rumah orang tuanya dan di asuh oleh tantenya. "Kenapa wanita bilang ia tidak tinggal di sini?"batinnya.


"Malah bengong! Sudah sana pergi ,dia tak di sini . Jangan mencari dia lagi,anak itu cukup menyusahkan saja!"usir wanita tua itu marah.


"Terima kasih,Tante!"ucap pria itu sopan.


Baru selangkah meninggalkan rumah,pria itu dapat telepon dari temannya ,ia mengatakan wanita itu juga belum sadar.


"Di mana kamu Mischa?"gumamnya.


Pria itu menyesap rokoknya di rumah salah satu temannya."Kamu tampak menyedihkan kawan!"ucapnya."Kamu sudah salah jatuh cinta dengan Mischa yang tak pernah mencintaimu!" lanjutnya.


"Aku bukan menyesali pernah jatuh cinta dengan Mischa,tapi Mamaku mengancam tidak akan memberi harta warisan papa jika tak bertanggung jawab!"ujar pria itu.


"Apa yang sudah kau lakukan sampai Tante Hanum mengancammu?"


"Aku menabrak seorang gadis,"ujar pria itu.


"Gila!"


"Iya,aku sudah gila melakukan ini!"ucapnya.


"Siapa yang menyuruhmu?"


"Tidak ada yang menyuruhku, aku cuma sedih mendengar Mischa menyukai pria lain tetapi pria itu menyukai wanita lain,"ujarnya.


"Jadi kau berkorban untuk Mischa walau cintamu tak terbalas? Kau telah menjadi korban cinta buta kawan!"


Pria itu tersenyum tipis lalu berkata santai,"Mungkinlah!"


"Bagaimana dengan gadis itu?"


"Sampai sekarang dia belum sadar,"ucapnya frustrasi.


"Kau harus bertanggung jawab,jika gadis itu meninggal kau harus siap di tahan. Kalau dia cacat kau harus menikahinya!"


"Apa? Aku tidak mau,menikah dengan dia. Aku tidak mengenalnya!"tolak pria itu.


"Apa kamu tidak ingin mendapatkan harta warisan ?"


"Ya,aku mau!"


"Kamu berdoa saja semoga dia baik-baik saja dan memaafkanmu."


"Tetapi pria itu tidak akan memaafkanku!" ucapnya lesu.


"Berani berbuat, berani bertanggung jawab!"


Telepon pria itu pun berdering,"Ika meneleponku!"ucapnya.


"Angkatlah !"


"Aku dapat kabar dari Ika ,jika gadis itu sadar,"ucapnya tersenyum.


"Kamu harus pastikan,kalau ia baik-baik saja!"


Pria itu mengendurkan senyumannya.

__ADS_1


__ADS_2