
"Ini minum!"ucap Reno menyodorkan sebotol air mineral yang ia minta kepada sopirnya."Cuacanya cukup panas hari ini,"lanjutnya.
"Terima kasih,"sahut Arina mengambil sebotol air dari tangan Reno.
Tio kembali setelah menerima panggilan dari Sarah."Maaf ,aku tak bisa menjelaskan ini. Arina yang akan melanjutkannya,saya harus pulang karena anakku sakit,"jelas Tio pada Reno.
Arina memperbesar bola matanya, rasanya ingin menolak tetapi lidahnya kaku.
"Kamu temani dan jelaskan pada Tuan Reno dan setengah jam lagi Seno akan kemari!"ucapnya pada Arina.
"Baik,Tuan!"sahutnya dan berusaha tersenyum.
Tio pergi tinggallah Reno dan Arina. Wanita itu menjelaskan seluruh konsep pembangunan tanpa senyum. Reno hanya memandanginya berbicara dan seulas senyum terbit.
Arina melihat ke arah Reno lalu berkata,"Apa Tuan mendengar saya?"
"Hah,"ucapnya mengalihkan pandangannya."Coba ulangi sekali lagi!"perintahnya kembali.
Arina menghela nafas.Berusaha tersenyum tipis dan berucap,"Saya tidak akan mengulangi lagi . Jadi,tolong dengarkan!"ia kembali menjelaskan.
"Bagaimana,Tuan? apa penjelasan saya bisa di pahami?"tanya sekretaris Tio itu.
"Ulangi!"titahnya.
"Saya sudah dua kali menjelaskan !"protes Arina.
"Kamu mau saya beri tahu atasanmu,jika karyawannya tak bisa memberikan hasil kerja yang baik!"ancam Reno menyunggingkan senyumnya.
Amarah Arina mulai di ubun-ubun."Karena saya butuh pekerjaan, kalau tidak.."gerutunya.
"Kalau tidak,kamu mau apa?"tanya Reno.
Tak lama kemudian Seno datang,lalu menghampiri dua orang itu."Apa Tuan sudah jelas dengan yang di sampaikan olehnya?"tanyanya.
"Cukup jelas!"jawab Reno padahal penjelasan ketiga baru setengah.
Arina menghela nafasnya dengan kasar. Mereka pun kembali ke kantor masing-masing.
Sementara Tio berlari kecil memasuki rumahnya,"Bagaimana dengan Rangga?"tanyanya panik.
"Dia hanya demam,"jelas Dokter Rino."Beri dia ASI dan kompres kepalanya dengan air dingin biar panasnya turun ,"lanjutnya lagi.
"Baik, Dok!"sahut Sarah.
Dokter pun berpamitan .Tio kembali ke kamar menghampiri istri dan anaknya.
"Mas pulang ke rumah, bagaimana dengan urusan proyek?"tanya Sarah.
"Arina sudah menanganinya,aku khawatir dengan Rangga jadi ketika kamu kabari buru-buru pulang!"tuturnya."Kalian itu berharga!"lanjutnya.
Sarah tersenyum bahagia, karena tidak semua suami yang selalu ada saat istri atau anaknya sakit."Makasih ya,Mas!"ucapnya.
...****************...
"Arina,kamu di panggil Tuan Tio!"ucap ajudan pribadinya itu.
Arina pun mengganguk dan masuk ke dalam ruangan.
Dia berdiri tegak di hadapan meja atasannya itu.
__ADS_1
"Ini bonus untukmu!"ucap Tio menyerahkan amplop coklat berisi uang.
"Bonus?"Arina mengernyitkan keningnya.
"Bos PT. Hadinata puas dengan kinerjamu,jadi saya di suruh untuk memberikan bonus!"ungkapnya.Tio masih melamun dan tidak mengambil amplop. "Ayo,ambil!"ucapnya lagi.
"Saya tidak bisa menerimanya,Tuan!"tolak Arina.
"Kenapa? "
"Saya bekerja untuk anda,jadi sudah seharusnya memberikan yang terbaik buat kemajuan perusahaan ini. Maaf ,Tuan! saya menolaknya karena proyek ini belum sepenuhnya rampung,"jelas Arina padahal ia malas menerima pemberian uang dari Reno.
"Benar,kamu tidak mau?"tanya Tio.
"Benar,Tuan!"jawab wanita itu.
"Padahal ini lumayan,bisa beli sepeda motor terbaru!"celetuk Tio.
Arina tersenyum tipis.
"Baiklah,saya akan katakan padanya. Bahwa kamu menolak bonus ini!"ucapnya.
Arina keluar ruangan dan Tio menelepon Reno,ia menyampaikan bahwa sekretarisnya itu menolak bonus darinya.
Reno menghela nafasnya dan memainkan pulpennya. "Kamu menolaknya,sebenci inikah dia padaku!"gumamnya."Andai saja ,Ibu bisa menerimanya mungkin hari ini aku akan menikahinya,"batinnya.
Pintu ruangan terbuka, sesosok wanita paruh baya masuk bersama dengan wanita muda berusia 25 tahun.
"Ibu ? ada apa kemari?"tanyanya kemudian melirik Mischa.
"Kami sengaja kemari ingin mengajak kamu makan siang,"ucap Marni.
"Kamu menolak Ibu?"tanya Marni.
"Teman bisnisku mengajak makan siang,"jawabnya berbohong.
"Bukankah bisa lain waktu?"tanya Marni lagi.
"Tante,lebih baik kita saja berdua yang makan. Mungkin Reno sudah janji dengan temannya lebih awal daripada kita,"ucap Mischa menghentikan perdebatan mereka.
"Rencana apa lagi di buat wanita ini?"batinnya berkata dan melirik wanita di sebelah ibunya.
"Ya, sudah kita saja!"sahut Marni,ia pun berlalu dengan kecewa keluar ruangan kerja anaknya itu.
Reno menarik lengan Mischa,"Seberapa keras dirimu mengambil hati ibuku, jangan harap aku kembali lagi!"ucapnya dengan tegas.
"Restu orang tua itu lebih baik dari pada memikirkan ego sendiri!"balas Mischa dengan tatapan tajam kemudian menyusul Marni.
Reno melepaskan genggamannya, hatinya membatin."Apa dia tahu kalau Ibu tidak menyukai Arina?"
Siang itu,Arina makan bersama dengan beberapa teman kantornya. Mereka makan siang di sebuah restoran tidak jauh dari kantor tempatnya bekerja.
Kebetulan juga Marni dan Mischa makan di tempat yang sama. Arina yang melihatnya pun menyapa.
"Ibu,apa kabar?"sapa Arina.
Marni menoleh ke arah suara,ia terkejut lalu tersenyum."Eh ,Arina. Kabar Ibu baik-baik saja. Kamu ke sini dengan siapa?"tanyanya melirik sekitarnya.
"Saya dengan teman kantor,"jawab Arina tersenyum.
__ADS_1
"Oh,ini jadi namanya Arina. Cantik juga!"batin Mischa.
Arina melihat wanita muda di samping Marni.
"Oh,ya Arina. Perkenalkan ini Mischa calon istri Reno!"ujar Marni.
Hatinya terasa sakit saat mendengar kata-kata calon istri,jadi yang kemarin pertemuan makan malam mereka cuma main-main saja. Arina berusaha tersenyum dan tegar.
Mischa yang mendengarnya cukup terkejut."Jadi Tante Marni menerimaku,"batinnya.
"Ya, sudah Bu. Saya pamit kembali kumpul dengan teman-teman!"ucap Arina tersenyum tipis.
Marni dan Mischa membalas dengan senyuman. Mereka kembali mencari meja dan memesankan makanan.
"Apa benar yang Tante katakan bahwa aku calon istri Reno?"tanya Mischa penasaran.
Marni tersenyum lalu menjawabnya santai,"Semua tergantung Reno,apa dia mau menerima kamu atau tidak."
Arina terlihat lebih banyak diam saat Ibu Reno memperkenalkan wanita itu sebagai calon istri. Pikirannya terus di penuhi pertanyaan,"Apa ia menjauhiku karena ia sebenarnya sudah di jodohkan,tapi kenapa ibunya berkata ingin bertemu denganku?"ucapnya membatin.
"Arina !"panggil salah satu teman kantornya yang melihatnya melamun.
"Eh, iya!"
"Ayo,di makan!"ajaknya.
Mereka pun mulai menikmati makanan yang di hidangkan,Arina berusaha tersenyum dan bercanda dan dengan temannya walau hatinya perih. Makan siang telah selesai mereka kembali ke kantor, mereka menumpang mobil yang sama. Tak lupa Arina berpamitan pada Marni.
"Iya,Nak. Hati-hati!"ucap Marni. Mischa yang di sebelahnya pun ikut tersenyum.
Baru beberapa langkah keluar restoran, sebuah mobil menabrak tubuh Arina yang hendak menyeberang menemui teman-temannya.
"Arina!"teriak teman-temannya.
Semua berlari termasuk beberapa orang di sekitar restoran, mereka berteriak histeris.
"Bawa dia ke rumah sakit!"teriak salah satu warga .
Marni dan Mischa mendengarnya segera berlari ke arah suara kerumunan.
Marni menutup mulutnya, melihat Arina berlumuran darah dan tak sadarkan diri. Ia mendekatinya dan menangis,"Arina bangun!"
Sebagian teman kantor Arina membawanya ke rumah sakit dan lainnya kembali ke kantor meminta izin dan mengabari atasan mereka.
Marni masih terpaku dan diam lalu berucap,"Kabari Reno!"
Mischa pun membayar tagihan makan dan menghubungi Reno. Panggilan keempat ,Reno pun menjawab.
Seno dan Tio yang baru saja pulang makan siang juga mendapatkan kabar itu dan segera menuju rumah sakit.
Marni dan Mischa juga menyusul ke rumah sakit, beberapa temannya masih menunggu dan menangis.
Reno begitu panik mendengar Arina kecelakaan.
"Bagaimana keadaan dia ,Bu?"tanya Reno cemas.
"Ibu tak tahu,"jawab Marni sendu.
"Begitu cinta ia dengan wanita itu,aku merasa bersalah,"batin Mischa melihat wajah Reno. Suara telepon Mischa berdering,ia pun pamit mengangkat panggilan. Seketika wajahnya berubah ketakutan dan panik.
__ADS_1