
"Kamu dari mana jam segini baru pulang?" Agnes melihat jam dinding pukul 9 malam.
"Aku bertemu teman," jawabnya berbohong.
"Kamu sudah makan?" tanyanya lembut.
"Sudah tadi di kafe," jawabnya lagi.
"Kalau begitu, aku makan sendiri."
"Dari tadi kamu belum makan?"
"Aku menunggumu," jawab Agnes menarik kursi dan duduk sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
"Agnes, maafkan aku!"
"Maaf?" Agnes mengerutkan keningnya.
"Tadi aku bertemu dengan Kesya," jawabnya jujur.
"Oh."
"Kamu tidak marah?"
"Kenapa aku harus marah? Dia dulu kekasihmu," jawab Agnes santai.
"Tapi, aku bertemu dengannya untuk memutuskan hubungan kami," jelas Satria.
"Aku tahu, kamu pasti akan melakukan itu," ucap Agnes
"Terima kasih sudah percaya padaku," Satria mengenggam tangan istrinya.
"Sama-sama," Agnes tersenyum. "Kapan kita ke rumah Papa Setya?" tanyanya.
"Besok kita ke sana sekalian ke rumah Kak Sarah,"jawabnya.
Setelah menikah, Satria memilih tinggal di rumah Agnes karena istrinya itu belum siap harus meninggalkan rumah milik Omanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, cepat!" Satria memanggil istrinya dari mobilnya yang terparkir di luar pagar.
__ADS_1
"Iya, sebentar!" Agnes menutup pintu pagar dan masuk ke dalam mobil suaminya.
Sepasang mata menatap dengan tatapan tajam dan benci. "Jadi, dia yang telah merebutmu dariku," gumamnya. "Aku akan membalasnya," geramnya. Ia mengikuti laju kendaraan di depannya sampai di tempat tujuan.
Sesampainya di sana, ia juga menghentikan laju kendaraannya. Ia meremas dan memukul setir mobil.
"Kau pikir aku akan diam saja, setelah melakukan ini," gumamnya.
Ia meninggalkan kediaman Satria dengan kecepatan tinggi.
Di rumah sang suami, Agnes disambut hangat oleh Papa Setya dan Sarah. Tampak juga Mayang dengan putri kecilnya.
"Hai, pengantin baru!" sapa Mayang sekaligus sahabat Agnes.
"Hai, putri kecil!" Agnes menyapa anak sahabatnya itu.
"Kata Mama, Tante mau memberikan aku teman," ucap balita berusia 3 tahun itu.
"Sejak kapan Tante mengatakannya?" Agnes melihat ke arah sahabatnya itu yang sedang tersenyum.
"Luna, mungkin Tante lupa," Mayang menatap putrinya.
Agnes menundukkan sedikit tubuhnya dan berbisik pada Mayang yang berlutut agar sejajar dengan putrinya. "Aku tidak pernah mengatakan apapun kepadamu," bisiknya.
"Ayo, kita makan siang," Sarah memanggil adik-adiknya.
Mereka berkumpul di satu meja, semua hidangan Sarah yang membuatnya dibantu para pelayan.
"Sudah lama tidak makan masakan Kak Sarah," celetuk Satria.
"Sepertinya kau harus belajar memasak dari Kak Sarah," Mayang menyindir sahabatnya.
"Memangnya kau pandai memasak?" tanya Agnes.
"Tidak, aku bisa menyuruh Mama yang masak," jawab Mayang.
Ucapan Mayang membuat Agnes terdiam, sahabat itu segera menoleh ke arahnya.
"Maaf!" Mayang tanpa sadar telah menyakiti hati Agnes yang tidak tinggal serumah dengan ibunya karena memang terpisah dan tidak akur. "Nanti kita belajar bareng dengan Kak Sarah," lanjutnya lagi.
"Iya, Kak Sarah dia belajar dari koki profesional yang didatangkan langsung ke rumah oleh Kak Tio untuk mengajarnya memasak," jelas Satria.
__ADS_1
"Benar, Mama mereka juga dulu tidak pandai memasak tapi dia terus belajar agar bisa menghidangkan makanan enak dan sehat untuk suami dan anak-anaknya," sambung Setya. "Jadi, rindu dengannya," lanjutnya lagi.
"Pa!" Sarah mengelus punggung tangan papanya.
"Sudah, jangan mengobrol saja. Silahkan, dimakan!" Satria berusaha tidak larut dalam kesedihan.
Selesai makan dan bersenda gurau bersama. Agnes dan Satria pamit pulang, sedangkan Mayang menunggu suaminya menjemput.
Diperjalanan pulang, mobil mereka diikuti seseorang. Dua motor membuntutinya, Satria sedari tadi melihat dari kaca spionnya.
"Ada apa?" Agnes juga memperhatikan sikap suaminya.
"Aku curiga dengan dua motor di belakang kita," jawabnya.
"Kenapa dengan mereka?"
"Aku sudah memberikan jalan untuk melewati kita tapi mereka sepertinya tetap ingin di belakang saja," jawabnya lagi.
"Kita harus melewati jalan yang ramai untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan," usul Agnes.
Satria akhirnya memutar arah ke jalan raya yang ramai pengendara, walaupun ia harus lama sampai di rumah. Jika memotong, ia hanya membutuhkan waktu 20 menit sampai tujuan.
Dua pengendara motor yang berjumlah empat orang itu, tetap mengikuti mereka.
"Apa mereka masih mengikuti kita?"
"Iya."
"Aku takut, Satria."
"Kamu tenang, aku akan menelepon Kak Tio," Satria berusaha menenangkan istrinya.
Dia pun menelepon kakak iparnya, memberi tahu semuanya, ia lalu menutup panggilan tersebut.
"Kirimkan lokasi kita sekarang pada Kak Tio," ia menyodorkan ponselnya pada istrinya.
Agnes pun mengambil ponsel suaminya dan mengirimkan lokasi mereka.
Satria terpaksa berputar-putar jalan yang sama sampai kakak iparnya mengirimkan pengawal. Tak sampai sepuluh menit, dua motor sudah berdampingan dengan mobil mereka. Salah satu pemotor memberikan kode dengan klakson dua kali dan pria itu paham.
Sementara itu dua pemotor yang mengikuti mereka dari kediaman Papa Setya menghilang.
__ADS_1
"Mereka sudah pergi," ucap Agnes melihat ke belakang.
"Huh, syukurlah kita tadi menghubungi Kak Tio," ujar Satria.