
"Kakak,aku baru saja sampai. Aku masih capek Kak!"ujar Rasti mengikuti langkah kaki Reno.
"Kakak tidak mau tahu,besok kamu harus segera pulang dan jangan pernah kesini lagi!"bentak Reno."Kamu mau ayahnya itu mengambil Rado?"lanjutnya bertanya.
"Ayahnya? apa kakak tahu siapa ayah kandung Rado?"Rasti membatin."Ayahnya tidak mungkin mengambilnya,"ucap Rasti santai.
"Dia sudah tahu, cepat atau lambat dia juga akan datang mengambilnya!"ucap Reno tegas.
"Aku tidak mau,dia mengambil Rado dariku!"ujar Rasti menggelengkan kepalanya.
Sementara dari orang kepercayaannya Danu mengatakan bahwa Rasti datang ke rumah orang tuanya,ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Cari siapa,Tuan?"ucap petugas keamanan rumah Reno di depan pintu pagar.
"Saya ingin mencari Tuan Reno,"jawab Danu.
"Sebentar,saya akan kembali lagi!"ujarnya berlalu.
Tak lama kemudian pria itu kembali lagi.
"Maaf,Tuan Reno tidak ingin menemui siapapun hari ini!"tutur petugas keamanan itu.
"Tapi ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan dia,"desak Danu memaksa ingin masuk ke dalam halaman rumah.
Petugas keamanan menahan Danu,"Maaf,anda tidak bisa masuk!"
"Aku harus bicara dengannya!"ucap Danu dengan nada tinggi.
"Tuan,jangan sampai kami memakai cara kasar untuk mengusir anda!"bentak petugas keamanan lainnya.
Danu berusaha berlari masuk ke dalam halaman rumah dan berteriak,"Rasti ,aku tahu kamu di dalam. Keluarlah!"
Petugas keamanan berusaha menarik paksa Danu.
"Rasti aku tahu semuanya!"teriak Danu membuat Marni dan Reno mendengarnya.
"Itu siapa,Nak?"ucap Marni pada Reno."Mengapa dia memanggil nama Rasti?"lanjutnya.
"Dia mau mati rupanya,"batin Reno."Ibu di sini saja, biar aku yang menghadapinya!"ucapnya lembut.
Reno pun keluar menemui Danu,"Kalian boleh pergi?"perintahnya pada petugas keamanan rumah.Dia menatap tajam Danu,"Mengapa ke sini?"
"Aku ingin bertemu dengan anakku,"ucap Danu tegas.
"Anak?"tanya Reno dengan tersenyum sinisnya."Dia tidak di sini!"imbuhnya.
"Aku tahu kamu berbohong,dia baru datang pagi tadi,"ucap Danu.
"Rupanya dia memata-matai rumah ini!"batin Reno."Lebih baik kamu pulang!"ucapnya dingin.
"Aku tidak mau sebelum aku berjumpa dengan anakku!"ucap Danu lantang.
"Lupakan dia, anggap kalian tidak saling kenal!"ujar Reno menatap sinis Danu.
Danu memukul wajah Reno lalu berucap,"Aku akan mengambil dia!"
"Itu tidak akan mungkin!"ucap Reno yang memegang rahangnya.
"Kalian akan menyesali semuanya!"ujar Danu menekankan perkataannya kemudian berlalu.
Danu sudah pergi,ia pun masuk ke dalam rumah untuk mengobati luka lebamnya.
"Kenapa wajahmu begini,Nak?"tanya Marni cemas.
__ADS_1
"Tadi terjatuh,Bu!"ucapnya berbohong.
"Kenapa bisa jatuh? kayak anak kecil saja,apa kamu berlari?"tanyanya lagi.
"Ini tidak apa-apa,Bu!"jelas Reno.
"Kamu tidak berbohong dengan Ibu 'kan?"ia menatap curiga dengan anaknya itu, baru ketemu orang begitu kembali sudah lebam wajahnya.
"Aku akan mengobatinya!"ucap Reno berusaha menghindar.
...****************...
Sarapan pagi ini terasa berbeda, biasanya ketika Rasti pulang suasana begitu hangat dan penuh canda. Reno sengaja menyuruh asisten rumah tangganya membawa Rado ke taman rumah dan di sekitar ruangan makan tidak ada orang lain selain dirinya,Rasti dan ibunya.
"Aku sudah memesankan tiket untukmu. Malam nanti jadwal keberangkatannya,"ujar Reno menyesap kopinya.
"Kakak!"rengek Rasti memohon.
Ibu yang mendengarnya pun ikut berbicara,"Apa yang terjadi sehingga Rasti harus kembali lagi?"
Reno hanya diam tak menjawab pertanyaan ibunya.
"Bu, tolong Rasti katakan pada Kakak. Jangan suruh Rasti kembali hari ini!"ucapnya memohon.
"Reno sebenarnya ada apa?"tanya Marni bingung.
"Pria itu datang!"ucap Reno dingin.
"Tio? maksud kamu pria yang datang kemarin sore itu Tio? kenapa tidak disuruh masuk?"cecar Marni.
"Bukan dia ,Bu!" jawab Reno.
"Jadi?"tanya Marni.
Marni dan Rasti terperanjat kaget mendengar nama itu.
"Ngapain dia ke sini?"tanya Marni lagi.
"Dia ingin mengambil Rado!"
"Tidak! dia tidak boleh mengambil Rado,"sahut Rasti menggelengkan kepalanya.
"Jadi ayah kandung Rado,Danu Wijaya ?"tanya Marni menyakinkan.
"Iya ,Bu!"jawab Reno.
"Apa benar yang dikatakan Kakakmu?"cecar Marni menatap putrinya itu.
Rasti tertunduk menyesal,"Iya ,Bu!"
"Ibu kecewa dengan kamu. Mengapa tidak jujur?"tanya Marni menahan sesak di dada.
Rasti memeluk wanita paruh baya itu yang masih cantik."Aku takut Bu, kalian tidak menerimanya!"ucapnya menangis.
"Ibu ingin bertemu dengannya,"ucap Marni tegas.
"Tapi,Bu!"sahut Reno.
Tanpa menjawab Marni berlalu menuju kamarnya.
Reno dan Rasti saling berpandangan.
"Kamu temui pria itu, sekarang juga! Kakak akan memberikan alamatnya dan kamu tetap pergi bersama pengawal!"ucapnya membuang wajahnya.
__ADS_1
Rasti pun pergi menemui Danu . Ia pun mengetuk pintu rumah . Seorang pelayan wanita membuka pintu.
"Cari siapa,Nona? tanyanya ramah.
"Saya ingin bertemu dengan Danu Wijaya,"ucapnya tersenyum.
"Tunggu sebentar,saya akan panggilkan!"ujar pelayan wanita itu.
Wanita itu pun datang bersama dengan Danu.
"Itu Tuan, wanita yang mencari anda!"tunjuk pelayan wanita itu.
"Ya sudah, kembalilah bekerja!"titah Danu.
Pelayan wanita itu pun berlalu meninggalkan Danu dan Rasti.
"Maaf,Nona! ada apa mencari saya?"tanya Danu.
Rasti membalikkan badannya dan membuka kacamatanya,Danu yang melihatnya merasa terkejut dan senang wanita yang dicintainya ada dihadapannya.
"Aku tidak ingin berlama-lama. Ibuku ingin bertemu denganmu!"ucap Rasti ketus.
"Ibumu?"tanyanya heran."Aku akan datang dengan senang hati!"lanjutnya semangat.
"Jam lima sore ,kami tunggu di rumah!"ucap Rasti cuek."Aku permisi!"lanjutnya lagi kemudian berlalu.
"Aku antar kamu pulang,"tawar Danu mendekati Rasti.
"Aku bersama pengawal,"ucapnya memakai kacamatanya.
"Aku akan datang!"teriaknya kegirangan.
Sore harinya tepat jam lima, Danu datang.
"Silahkan masuk,Tuan!"ujar pelayan rumah Reno.
"Terima kasih!"ucapnya tersenyum.
Danu duduk di ruang tamu menunggu pemilik rumah. Tak lama pelayan menyuguhkan minuman,Marni dan dua anaknya menemuinya.Danu berdiri dan tersenyum.
"Silahkan duduk!"tawar Marni.
Danu pun kembali duduk.
"Aku ingin bertanya kepadamu?"tanya Marni menarik nafasnya."Apa kamu mencintai anakku?"lanjutnya bertanya.
Danu melirik Rasti dan Reno.
"Aku mencintainya, Nyonya!"jawab Danu.
"Jika kamu mencintainya,kamu tidak meninggalkannya!" sahut Reno .
"Aku sudah mencarinya tapi kalian menutup pintu pertemuan kami!"ujar Danu jujur .
"Kami tidak menyetujui hubungan kalian karena kamu seorang pemain wanita!"ucap Marni.
"Tapi aku benar-benar mencintai Rasti, Nyonya!"ucap Danu bersungguh-sungguh.
"Aku akan tanya pada putriku,apakah dia mencintaimu?"tanya Marni menoleh ke arah putrinya."Bagaimana Rasti,apa kamu mencintai dia?"tanyanya lagi.
Rasti menganggukan kepalanya.
"Besok kalian menikah!"ujar Marni.
__ADS_1
"Apa!" teriak mereka bertiga terkejut.