Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Mira


__ADS_3

Reno kembali mengunjungi ibu kandungnya sekalian ia ingin bermain dengan putri kandungnya. Dia membawa makanan kesukaan ibunya dan berbagai mainan untuk sang buah hati.


Begitu sampai ia memeluk erat tubuh lucu itu dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi kepada putrinya.


Marni tak dapat mencegah kedatangan anaknya itu untuk memeluk darah dagingnya.


"Aku merindukanmu,Nak!"ucapnya menatap wajah mungil Rania.


Rania mencoba berteriak dan menolak tubuh kekar pria dewasa itu seakan ingin berkata tidak suka.


"Ini ayahmu,Nak!"ucapnya.


"Ayah!"ucap pengasuh mengeja kata ke arah Rania.


"A..ay..ah!"ucap Rania walau terbata.


Reno tersenyum dan kembali memeluk."Kita jalan-jalan yok!"ajaknya. Pria itu pun menghampiri ibunya meminta izin, akhirnya pun ia diijinkan dengan syarat membawa sopir pribadi Marni dan pengasuh Rania. Ia pun menyanggupinya.


Rania digendong oleh sang ayah, mereka menuju wahana permainan. Reno terus mengajak bicara bocah itu dan selalu tersenyum. Sesampainya di sana, pria itu menuntun balita yang berusia 16 bulan.


Rania menunjuk sebuah kereta api, mereka berdua pun naik dengan posisi balita itu dipangku. Kereta api pun berputar diiringi dengan musik. Telunjuk Rania menunjuk seorang gadis dengan menyebut mama.


Mata Reno mengikuti arah telunjuk tangan putrinya itu.


"Mira,"gumamnya.


Kereta api pun berhenti, Reno segera menghampiri gadis yang ditunjuk Rania. Balita itu pun diturunkan dari gendongan dan berjalan menuju Mira. Sang ayah memberikan jarak beberapa meter dan melihat ke arah mana putri kecilnya berjalan.


"Ma..ma!"celoteh Rania.


Mira menoleh ke arah suara,dia menatap bingung balita yang menarik bajunya.Gadis itu pun tersenyum lalu berkata,"Hei,kamu dengan siapa?"


"Dia putriku,"ucap Reno.


Mira mendongakkan kepalanya dan tersenyum kaku,"Jadi dia putri anda,Tuan?"tanyanya.


Reno tersenyum lalu berkata,"Dia pikir kamu mamanya."


"Hah!"batinnya.


Reno kembali mengangkat tubuh putrinya dan menggendongnya."Kamu di sini juga?"tanyanya.


"Tadi dengan kakak,dia lagi membawa anaknya ke toilet,"jawab Mira.


"Oh, kalau begitu kami pamit pulang,"ucap Reno.


"Eh.. iya Tuan,adik kecil sampai jumpa lagi,"ucap Mira melambaikan tangannya.


Rania malah menangis dan tak mau pulang terpaksa Mira menggendong bocah itu. Gadis itu kembali duduk dan mendiamkannya ternyata benar Rania terlihat lebih tenang. Reno pun juga ikut duduk di samping Mira.


Kakak Mira pun datang bersama bocah perempuan juga yang berusia 2 tahun. Ia menatap pria di samping adiknya itu.


"Dia siapa?"bisiknya di telinga Mira.


"Dia temanku ,Kak!"jawab Mira. "Oh,ya Tuan. Ini kakak saya,",ucapnya memperkenalkan kakak kandungnya.


Reno menyodorkan tangannya lalu berkata,"Saya Reno!"

__ADS_1


"Saya Nisa,kakak kandung Mira. Oh jadi pria ini yang sering kamu bicarakan?"tanyanya melirik Mira.


Mira jadi salah tingkah,kakaknya bertanya begitu.Hal sama juga dirasakan Reno.


"Apa benar wajah adikku mirip dengan mendiang istrimu?"


"Ya, sangat mirip,"ujar Reno.


"Tapi adik saya ini tidak memiliki saudara kembar,"ucap Nisa.


"Mungkin hanya kebetulan saja sama,"ucap Reno.


Nisa tersenyum tak lama ponselnya berdering. Ia permisi mengangkat telepon.


Reno dan Mira hanya diam tanpa bicara lagi, hanya Rania yang sibuk mengoceh.


Nisa pun kembali,"Kami harus pulang!"ucapnya.


"Kalau begitu saya permisi,Tuan!"ucap Mira melambaikan kembali tangannya pada Rania begitu juga dengan Nisa dan putrinya.


Reno juga pun bergegas kembali pulang ke rumah ibunya,tak sengaja mereka kembali berpapasan di parkiran. Mira tersenyum ke arah Rania dan Reno. Sopir dan pengasuh saling berpandangan menatap heran.


Akhirnya mereka sampai di rumah ibunya Reno,putri kecilnya itu tertidur sangat pulas di gendongan ayahnya. Pria itu pun memindahkan putri kecilnya ke dalam kamarnya . Ia melihat sekeliling kamar putrinya terdapat dua foto ibu kandung dari anaknya itu.Hatinya kembali menangis,ia mencium kening putrinya.


Reno pun berpamitan pada Marni dan mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah mengijinkannya bertemu dan mengajak jalan-jalan putri semata wayangnya.


...****************...


Keesokan paginya,Rania duduk di pangkuan sang nenek dia berceloteh memanggil mamanya.


"Mama?"Marni mengerutkan keningnya."Kalian kemarin berjumpa dengan siapa?"tanya Marni pengasuh cucunya.


"Wanita?"


"Iya, Nyonya. Gadis itu mirip dengan Nona Mischa,"ucapnya.


"Apa?Kok bisa?"


"Saya pun tidak tahu,tapi Rania begitu senang melihat gadis itu,"jawabnya.


"Benar yang kamu ucapkan?"tanya Marni tidak percaya.


"Benar, Nyonya."


Marni kembali berpikir tentang gadis yang disebutkan pengasuh Rania.


Pagi ini Rayyan dan istrinya itu kembali datang, pasangan suami istri ini begitu rajin mengunjungi Rania paling tidak seminggu sekali mereka datang. Rayyan hanya mau datang jika Arina mempunyai waktu. Walaupun istrinya itu belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.


Balita itu terus mengoceh menyebut mama dan menunjuk foto Mischa di ruangan tamu. Foto pernikahan Reno dan menantunya terpampang di ruangan itu.


Arina dan suaminya saling pandang,"Sayang kamu rindu Mama 'ya?"tanya Arina pada balita itu.


Dia kembali memanggil mama, padahal tidak seperti biasanya.


"Rania berjumpa dengan gadis yang mirip dengan ibunya,"ujar Marni menghampirinya.


"Di mana?"tanya Rayyan.

__ADS_1


"Di wahana permainan,kemarin Reno mengajaknya ke sana dan pengasuh Rania yang mengatakan kalau mereka bertemu dengan gadis yang mirip sekali dengan Mischa,"jelas Marni.


"Mungkin itu hanya kebetulan saja mirip,"tutur Rayyan.


"Apa Mischa punya saudara kembar?"tanya Arina.


"Setahu aku tidak,"sahut Rayyan.


"Menurut Tante juga tidak mungkin,"ucap Marni.


"Apa usia mereka sama?"tanya Arina sekali lagi.


"Kurang tahu juga,Tante belum melihat orangnya,"jawab Marni.


Setelah dari rumah mertuanya Mischa, sepasang suami istri itu pun pergi ke restoran milik sahabat suaminya itu. Arina tidak bekerja lagi di perusahaan Tio sejak setahun yang lalu karena permintaan sang suami untuk membantunya mengurus beberapa usaha milik pribadi dan Mischa.


Seperti biasanya mereka akan mengecek laporan keuangan restoran.


Seorang gadis mirip dengan Mischa datang mengunjungi restoran itu,"Saya mau reservasi tempat untuk 10 orang!"ucapnya.


"Nona Mischa!"gumam kasir restoran.


"Mischa?Nama saya Mira,"ujarnya.


"Eh maaf Nona, untuk tanggal dan hari apa?"


"Besok malam."


"Baiklah,Nona!"


Selesai mengecek laporan Rayyan dan istrinya pun keluar dari ruangan manajer restoran.


Rayyan tiba-tiba terhenti dan matanya tertuju pada seorang gadis berkisar 23 tahun . Mata Arina pun ikut tertuju ke arah pandangan suaminya.


"Apa dia yang di maksud Tante Marni?"tanya Arina.


"Entahlah,tapi hampir mirip,"jawab Rayyan.


Sang gadis yang di tatap pun tersenyum kaku,ia merasa aneh saja."Kenapa orang di restoran ini menatapku seperti ini?"batinnya bertanya.


Arina mencoba mendekatinya,"Maaf Nona kalau saya boleh tahu nama anda siapa? Wajahmu mirip seperti teman saya,"ucapnya.


Mira menggaruk tengkuknya,"Akhir-akhir ini beberapa yang bilang kalau saya mirip dengan seseorang,"tuturnya.


"Benarkah? Apa mungkin Nona yang di maksud?"


"Maksudnya?"


"Hm.. maksudnya saya punya teman pria dia punya balita dan mendiang istrinya persis kamu,"jelas Arina.


"Apa yang di maksud Nona itu Tuan Reno?"


"Tepat sekali,"jawab Arina tersenyum."Senang berkenalan denganmu!"ia menyodorkan tangannya pada gadis didepannya.


"Saya Mira salam kenal juga,"ucapnya."Kalau begitu saya permisi,"pamitnya.


Arina kembali kepada suaminya yang sedang menunggu di meja yang tidak jauh dari posisi mereka berbicara.

__ADS_1


"Namanya Mira dan dia juga pernah bertemu dengan Reno mereka saling kenal,"Arina menjelaskan.


"Kebetulan sekali,"sahut Rayyan.


__ADS_2