Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
BAB 10


__ADS_3

Iren tidak berbicara apa pun selama di perjalanan, karena tidak mau Rudi semakin marah dengannya. Rudi pun tidak berbicara apa-apa, karena dia takut kalau Iren merasa tidak nyaman jika terlalu ditekan oleh dia.


Rudi ingin mencairkan suasana yang sejak tadi hening, dia menggoda Iren dengan mencubit lembut punggung tangannya dan menariknya keatas, kearah bibirnya dan menciumnya. Iren pun tertawa dan merasa malu karena tingkah manis Rudi padanya, agar dia tidak marah lagi.


“Pulang sekolah, aku enggak jemput yah sayang. Aku ada tugas penting dari Ayah.” ucap Rudi bersuara manja untuk merayu Iren agar tidak sedih karena tidak menjemputnya pulang sekolah.


“Hmm gimana dong? Mas Rudi kok gitu sih! Aku pulangnya sama siapa dong?” jawab Iren berwajah sedih memandang Rudi.


“Kamu enggak boleh kemana-mana, kamu langsung pulang ke rumah aja pokoknya!” tegas Rudi.


“Iya deh mas.” kata Iren singkat, berjalan ke gerbang sekolah.


Sesampainya di sekolah, Iren berjalan ke kelasnya untuk menyimpan tasnya, lalu akan segera ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera dan ternyata tidak dilaksanakan upacara karena hujan turun membasahi lapangan sekolah.

__ADS_1


Pak Erlan akan masuk jam pertama, karena akan ada perubahan jadwal pengumpulan tugas penelitian. Benar saja, tugas yang diberikan pak Erlan yang katanya harus dikumpulkan jelang ujian kelulusan sekolah, akan dipercepat. Tugas tersebut harus dikumpulkan pada tanggal 20 maret. Artinya, tinggal satu minggu lagi.


“Gimana nih Ren? Kita harus ekstra cepat nih.” ucap Arindi merasa cemas.


“Kita diskusikan sama teman-teman kalau sudah istirihat yah Rin.” jawab Iren dengan tenang.


***


Jam istirahat, Iren dan teman-temannya memilih untuk tetap berada di kelas untuk mendiskusikan apa yang akan mereka kerjakan selama satu minggu ini. Termasuk mengganti rencana awal dan tugas masing-masing yang sudah mereka sepakati bersama.


“Iya benar. Banyak hal yang harus kita ubah biar selesai tepat waktu.” jawab Arsya serius.


“Yasudah, aku sudah mengerti sedikit banyaknya bagaimana menjadi kasir dan berapa pemasukan dari cafe itu setiap harinya. Kita enggak perlu meneliti lagi karena kita sudah pernah melakukannya hari itu, kita jadikan saja itu sebagai patokan hari-hari berikutnya. Jadi tugas kita tinggal mewawancarai kakaknya mas Rudi untuk tahu semua hal yang menjadi pokok-pokok penelitian kita.” Penjelasan Iren panjang lebar pada teman-temannya.

__ADS_1


“Iya aku setuju banget, supaya kita bisa membuat makalah penelitian kalau datanya sudah terkumpul.” kata Arsya setuju.


“Yasudah, kita ke cafe sore ini buat wawancara sama kakaknya Rudi.” tambah Widi singkat.


“Gimana biar selesainya lebih efisien, aku kerjakan makalahnya di rumah saja? Kalian yang wawancara ke cafe?" ucap Iren memberi masukan.


Widi yang saat itu memang tidak setuju dengan kedekatan antara Rudi dan Iren, merasa bahwa Iren membuat keputusan yang benar dan berpikir bahwa Iren mendengarkan kata-katanya untuk menjauh dari Rudi demi kebaikannya.


“Ide bagus. Biar waktunya enggak mepet juga kan? pokoknya tugas kita harus selesai sebelum waktu yang pak Erlan tentukan.” Jawab Widi penuh semangat, dengan senyum yang lebar memandang wajah Iren.


Teman-teman yang lain setuju dengan keputusan Iren, akhirnya yang akan datang untuk melakukan wawancara di cafe 27 hanya Widi, Arsya dan Melda. Arindi juga tidak ikut ke cafe itu karena punya tugas lain yang bisa dikerjakan di rumahnya.


***

__ADS_1


Vote.. Vote.. Vote yaaa readears.


With love^_^


__ADS_2