Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Kelahiran di tengah teror


__ADS_3

"Mereka tidak mengakuinya,"ucap Tio pada papa Hendra. Setelah bertemu dengan Citra dan Celin,Tio menemui papanya.


"Papa,yakin Tante Citra dan sepupumu Celin tidak terlibat jika pun mereka melakukan itu hanya membuat mereka dalam masalah besar dan yang menjadi keinginannya tidak mungkin di dapat,"jelas papa Hendra.


"Tio, khawatir dengan Sarah."


"Usahakan, jangan sampai ia mendengar tentang teror ini lagi!"tutur papa Hendra.


Lagi asyik mengobrol dengan papa Hendra,Tio mendapatkan telepon dari Seno ia mengatakan bahwa ada seorang kurir mengantarkan paket berisi bola kaki yang sudah di robek dengan pisau ."Dia kembali meneror ,"gumamnya.


"Apa kamu sudah selidiki alamat pengirim?"tanya papa Hendra.


"Alamat pengirim palsu, mereka menggunakan alamat rumah kosong,"jelas Tio.


"Papa akan membantumu dan kamu harus tetap waspada!"ucap papa Hendra .


"Iya,Pa."


...****************...


"Mas,kamu mau aku masakin apa malam ini?"tanya Sarah.


"Terserah kamu,sayang."


"Aku buatkan ayam teriyaki saja!"


"Iya , sayang! Mama dan Tari kemana?"tanya Tio dari tadi tidak melihat mereka.


"Mama dan Tari pulang ke rumahnya tadi sore,besok pagi mereka kembali lagi ke sini."


"Oh , begitu. Kamu seharian ini kemana saja?"tanya Tio.


"Aku di rumah saja, memangnya kenapa Mas?"


"Tidak apa,"ucap Tio tersenyum. "Apa masakannya sudah selesai? aku laper ,"lanjutnya.


"Sebentar lagi,Mas!"ucap Sarah ."Pria itu tidak mengirimkan teror lagi kan?"tanyanya.


"Tidak ada,kamu tidak perlu khawatir."


Sarah tersenyum tipis sambil mengaduk masakannya,"Mas, besok aku ada jadwal senam hamil. Apa kamu mengizinkan aku keluar rumah?"


"Aku akan menyuruh pelatih senam ke rumah, ini semua demi keselamatan kamu dan calon bayi kita,"ucap Tio meletakkan dagunya di cerukeruk leher Sarah.


"Apa kondisi masih bahaya?"tanya Sarah membalikkan badannya.


"Tidak, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ini ku lakukan semata menjaga kamu dan calon bayi kita dari hal yang tidak di inginkan. Tidak ada teror lagi ,"ucap Tio berbohong,ia tidak ingin kiriman paket di kantor dan kejadian lainnya membuat istrinya cemas.


Sebuah rumah kosong,ibu dan anak masih tetap di tahan sebelum mendapatkan kebenaran yang meneror keluarga Tio.


"Mah,apa kita akan bermalam di sini?"tanya Celin.


"Jika kita masih di sini berarti kita bermalam di rumah ini,"ucap Citra jengkel.


"Harusnya kita bantu Tio,mencari dalang peneror keluarganya,"usul Celin


"Jika kita bantu yang ada mereka akan salah paham dengan kita,"tutur Citra


"Mah,jika kita bantu mereka setidaknya keinginan Mama untuk menguasai separuh perusahaan Jaya Grup berhasil,"ucap Celin.


"Ide mu cemerlang tapi mereka tidak mungkin mau menyerahkan apalagi Om kamu Hendra dan Kakek kamu pasti ikut turun tangan,"ungkap Citra.


"Jadi sampai kapan kita di sini?"tanya Celin menyebikkan bibirnya.


"Sampai peneror itu di tangkap!"jawab Citra.


...****************...


Pagi harinya Tio bersiap akan berangkat ke kantor,mama Maya datang di antar Tari.

__ADS_1


"Mama,pelatih senam hamil Sarah akan datang pagi ini. Tio akan memperketat penjagaan di pintu pagar.


Mama pastikan Sarah tidak mengetahui kejadian apa pun,"ucap Tio.


"Mama,akan menjaga dia. Kamu tenang saja,semoga pelaku teror segera terungkap!"tutur Maya.


"Tari,kamu bareng Kakak ke kantor!"ucap Tio


"Iya,Kak!"


Mereka pun pergi ke kantor di tengah perjalanan segerombolan pria bertubuh besar menggunakan dua sepeda motor menghalangi jalan mereka. Mobil hitam mencoba mendahului jalan,suara klakson terdengar cukup kencang hingga dua sepeda motor menghentikan mobil mereka.


"Tuan!"ucap sopir ketakutan.


"Kakak, jangan keluar!"tahan Tari.


"Kakak ingin tahu maksud mereka!"ujar Tio.


"Ini bahaya,Tuan!"ujar sopir gemetaran.


"Aku telepon Seno,"ucap Tari.


Tio pun keluar bersama dengan sopirnya lalu berkata,"Siapa kalian?"


"Pastinya kami disuruh untuk memberikanmu peringatan!"ucap salah satu pria bertubuh besar itu.


Mereka mulai memukul Tio di bagian perut,ia pun membalas pukulan salah satu pria namun saat ingin memukul perut pria lainnya bagian belakang tubuhnya di pukul hingga membuat ia terjatuh. Sopirnya yang melihat hanya bisa gemetaran dan Tari yang duduk di samping kemudi sopirnya hanya menangis. Para pria suruhan yang memukul Tio pergi,sopir dan Tari memberanikan diri turun.


"Kakak!"teriak Tari menangis.


"Tuan!"ucap sopir membantu Tio berdiri."Maafkan saya yang tidak menolong anda!"lanjut sopir merasa bersalah.


Tak lama kemudian Seno datang bersama dua pengawal,"Tuan ! maaf saya terlambat."


Tio yang tak kuat lagi berdiri akhirnya jatuh pingsan.


"Kakak!"


"Cepat buka pintu mobil!"perintah Seno."Nona,jaga Tuan di belakang biar saya yang mengemudi. Kalian, ikut saya ke rumah sakit!"perintah Seno pada Tari dan sopir beserta dua orang pengawal.


Mereka menuju ke rumah sakit,Tari terus terisak,"Kakak ,kamu pasti kuat!"


Sementara Sarah yang sudah melakukan senam hamil perasaannya menjadi tidak enak, tidak seperti biasanya selalu ceria.


"Nona,apa anda baik-baik saja?"tanya pelatih senam hamil.


"Perasaan ku kenapa jadi begini? rasanya cemas sekali ,"ucap Sarah memegang dadanya.


"Lebih baik kita istirahat saja dulu,Nona!"imbuh pelatih senam hamil.


Sarah menganggukan tanda mengiyakan,pelatih menuntun Sarah duduk dan mengambil air hangat.


Mama Maya yang melihat pelatih meminta air hangat segera menemui menantunya."Kamu kenapa,Nak?"tanya Maya pada Sarah.


"Tadi,Nona mengeluh perasaannya begitu cemas jadi saya menyarankan agar berhenti dahulu,"jelas pelatih.


Di rumah sakit, Tio segera dilakukan pemeriksaan dan pengobatan.


"Apa sebaiknya kita telepon Nona Sarah?"tanya Seno pada Tari.


"Aku bingung,aku gak mau Kak Sarah semakin cemas mendengar kabar ini!"ujar Tari yang masih menghapus air matanya.


Di tengah kegelisahan Tari dan Seno telepon Tari berdering,"Mama!"gumamnya."Bagaimana ini?"tanya ia pada Seno yang menatapnya.


"Angkat saja, Nona!"


"Halo,Mah!"ucap Tari,ia pun menjelaskan semua yang terjadi pada Maya.


"Apa! beri tahu alamat rumah sakitnya pada Mama,"ucap Maya .

__ADS_1


"Siapa yang di rumah sakit,Mah?"tanya Sarah khawatir.


Maya terdiam sejenak lalu berucap,"Kamu di rumah saja biar Mama ke rumah sakit!"


"Siapa yang di rumah sakit,Mah?" desak Sarah sekali lagi .


"Tio!"ucap Maya dengan mata berkaca-kaca.


"Apa!" teriak Sarah lalu ia menangis."Ayo,kita ke rumah sakit!"ajaknya pada mertuanya.


"Kamu di rumah saja,Nak!"pinta Maya.


"Sarah mau ikut,Mah!"rengeknya.


Mama menghela nafasnya kemudian menganggukan kepalanya.


Mereka pergi menuju rumah sakit tempat Tio di rawat.


Mereka disambut oleh papa Hendra,Wisnu,Mayang dan orang tuanya yang sedari tadi sudah menunggu , mereka begitu dikabari Seno segera meluncur.


Sarah memasuki ruangan rawat inap.


"Mas,mana yang sakit?apa mereka memukulmu terlalu kuat?"tanya Sarah memegang seluruh wajah dan tangan suaminya.


"Aku tidak apa-apa,"ucap Tio tersenyum.


"Kalau tidak apa-apa tidak mungkin masuk rumah sakit!"protes Sarah.


"Aku benar,sayang! aku tidak apa-apa."


"Apa mau mereka hingga membuat kamu begini?"geram Sarah.


"Sudahlah sayang,kamu tak perlu memikirkan itu. Biarkan aku saja yang menyelesaikan masalah ini!"ujar Tio memegang tangan istrinya."Kamu tidak jadi senam?"tanyanya.


"Bagaimana aku bisa senam kalau suami aku masuk rumah sakit!"ujar Sarah.


Took


Took


"Apa kami boleh masuk?"tanya Mayang.


Tio dan Sarah tersenyum dan menjawab,"Boleh!"


"Kompak banget,"ucap Mayang.


Keluarga yang hadir memasuki ruangan tempat Tio di rawat, mereka menanyakan kronologis kejadian yang menimpa Tio. Di tengah obrolan mereka,perut Sarah terasa mules.


"Aduuuh,sakit !"rintih Sarah yang tiba-tiba memegang perutnya.


"Sayang,kamu kenapa?"tanya Tio khawatir.


"Panggil perawat!"perintah Maya pada Tari."Mungkin dia akan melahirkan!"lanjutnya


"Mas,sakit!"teriak Sarah,semua orang panik di buatnya.


"Tenang,sayang!"ucap Tio mengelus kepalanya.


Tari datang bersama perawat,Sarah di tandu memakai brankar dorong. Tio ikut berlari ke ruangan Sarah akan melahirkan,"Hanya suami pasien yang boleh masuk!"ucap perawat pada keluarga Tio.


Semua mondar mandir di ruangan tunggu kecuali Seno yang sudah kembali ke kantor. Sepasang bola mata memperhatikan kegelisahan keluarga Tio. Akhirnya teriakan Sarah dan di susul suara tangis bayi membuat seluruh keluarga tersenyum.


"Dia telah lahir!"ucap Maya memeluk Tari.


"Keponakanku sudah lahir!"ucap Mayang tersenyum.


"Aku punya cucu,"ujar Hendra pada Ryan.


Kegembiraan mereka ternyata membuat peneror semakin benci, seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka memberi tahu pria misterius.

__ADS_1


"Brengsek! sekarang kalian bisa tertawa tapi tidak lain kali!"geram pria misterius.


__ADS_2