
Hari pernikahan itu pun tiba, Agnes tampak begitu cantik dan anggun. Senyum manis terpancar dari bibirnya. Ia begitu senang bisa menikah dengan Satria. Pria yang ia sukai ketika masa sekolah. Impiannya akhirnya terwujud, walau sebenarnya ia malu untuk mengungkapkannya. Ia berusaha menutupi rasa sukanya selama ini, karena lelaki itu sudah memiliki kekasih. Namun, kini tetaplah dia pemenangnya.
Sehari sebelum acara pernikahan, sebagian keluarga dan Satria telah tiba di Hotel. Penjagaan begitu ketat dilakukan padanya. Sarah melakukan itu agar adiknya tidak melarikan diri.
"Ini bacalah," Sarah menyodorkan selembar kertas saat adiknya itu sedang berpakaian.
"Apa ini, Kak?" tanyanya sebelum membuka dan membaca isinya.
"Itu nama calon istrimu dan ayahnya, jadi kamu harus menghapalkannya," jawab Sarah.
Satria membukanya. "Ini nama Agnes," ucapnya.
"Iya, memang nama calon istrimu Agnes."
"Apa dia Agnes, sekretaris aku?"
"Iya."
"Kakak, kenapa tidak bilang kalau dia calon istriku?" tanyanya dengan tersenyum.
"Ini kejutan buat kamu," jawab Sarah.
"Terima kasih, Kak!" Satria memeluk kakaknya.
"Setelah kau menikah, jangan dekati wanita itu lagi!" ucap Sarah.
"Kakak, tenang saja. Aku akan setia," ujarnya.
"Kakak percaya, cepatlah dikit. Acara segera dimulai," titah Sarah.
Satria dengan semangat menghapalkannya dan berlatih. Sampai sepupunya tertawa melihat wajahnya yang grogi.
__ADS_1
Rencananya, ia akan melamar Agnes setelah kepulangannya dari Kota S tapi malah sekarang ia dihadapkan langsung dengan ayahnya wanita yang ia cintai.
Jantungnya berdetak lebih cepat, rasa gugup menyelimutinya. Dia berusaha tersenyum.
"Tenanglah!" ucap Seno yang baru beberapa minggu yang lalu mengalami hal yang sama.
"Aku belum ada persiapan, tiba-tiba saja disuruh menikah," ujarnya.
Panitia penyelenggara menyuruh calon pengantin bersiap-siap karena acara ikrar suci segera dilaksanakan.
Satria berjalan dengan gagah berhadapan dengan calon ayah mertua, dia hanya sekali bertemu dengan pria itu ketika acara kelulusan sekolah.
Satria melihat sekelilingnya, seluruh keluarga besar hadir dan tersenyum kepadanya tak ketinggalan kedua keponakannya Rangga dan Rasya yang melambaikan tangannya.
Acara pun dimulai, janji pernikahan diucapkan. Satria begitu lancar mengucapkannya, padahal ia baru sejam yang lalu berlatih. Setelah, dikatakan sah oleh para saksi. Sang mempelai wanita dimunculkan.
Wanita yang biasanya, tak pernah berdandan lebih itu tampak cantik dengan gaun menjulur ke lantai. Rasa gugup juga dirasakannya. Agnes duduk disebelah Satria yang tersenyum padanya.
Satria hanya diam dan tersenyum.
Di pelaminan, Agnes masih diam dan berusaha tersenyum. Ia masih tak percaya pria yang selama ini dia pikir hanya main-main ternyata seserius ini.
"Hei, apakah kamu masih bermimpi?" bisik Satria.
Dia menoleh dan menatap sang suami yang tersenyum.
"Aku bukan hanya datang melamarmu tapi menikahimu," ucapnya.
"Aku pikir kamu itu tidak pernah serius, ternyata dirimu menepati janji," ujar Agnes.
"Ini sebenarnya bukan rencanaku tapi keluargaku. Entah, kenapa mereka tahu isi hatiku," tuturnya.
__ADS_1
"Karena mereka menyayangimu."
"Seperti kamu yang selalu mencintaiku," celetuknya.
Agnes menyunggingkan senyumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu ke mana saja 'sih?"
"Kesya, aku minta maaf."
"Maaf?"
"Kita harus putus karena aku sudah menikah," jawab Satria saat menemui Kesya di kafe.
"Jangan bercanda, Satria!"
"Aku tidak bercanda, aku serius." Ia menunjukkan cincin pernikahan.
"Kau bilang akan setia, ternyata..." Kesya mulai meneteskan air matanya.
"Aku minta maaf padamu!"
"Kau menyuruhku untuk setia, ternyata malah datang membawa kabar menyakitkan ini," ucap Kesya meninggi.
"Kesya, pelankan suaramu!" Satria berucap lirih.
"Aku tidak akan membiarkan wanita mana pun memilikimu," Kesya menyiramkan minumannya ke wajah Satria kemudian ia berlalu.
Seluruh mata pengunjung mengarahkan pandangannya ke arahnya.
__ADS_1
"Memalukan," batinnya.