
"Awas saja kalau bertemu,aku akan membuat perhitungan dengannya,"ujar Arina dengan geram."Bagaimana aku menghubungi kantor jika gawaiku rusak begini?"Menatap gawainya yang rusak di banting pria itu,dari rumah sakit Arina kembali ke kafe untuk mengambil mobilnya. Gawai yang di banting sudah dimasukin Arina ke dalam tas sebelum pria itu menariknya dengan paksa.
Arina pun terpaksa ke kantor untuk kembali bekerja, semua mata karyawan memperhatikan kening Arina yang di balut perban kecil. Seno pun menghampiri Arina dan bertanya,"Kenapa keningmu?"
"Hmm..kemarin saya terjatuh,Tuan!"ucap Arina berbohong.
"Lalu kenapa kamu bekerja ? "tanya Seno.
"Gawai saya rusak jadi tidak bisa menghubungi anda!" jelas Arina.
"Lebih baik kamu kembali ke rumah dan beristirahat . Saya akan katakan pada tuan Tio,"tutur Seno.
"Terima kasih,Tuan! saya pamit pulang,"ucap Arina permisi pulang.
Dari kantor Arina bergegas menuju ke tempat perbaikan gawai ia berharap gawainya bisa diperbaiki.
"Apa bisa gawai saya diperbaiki?"tanyanya pada pegawai toko.
"Kerusakannya terlalu parah,Nona."
"Jadi saya harus membeli yang baru,"ujarnya.
"Memang seharusnya begitu,Nona."
"Ya sudah,terima kasih ya!"ucap Arina pada pegawai toko.
Arina pun kembali ke rumah untuk beristirahat,besok ia akan kembali ke toko penjualan telepon genggam.
"Harusnya bisa hemat jadinya begini,"keluhnya. Ia sengaja tidak memberi tahu pada Seno perihal pertemuan dengan pria itu,ia takut keluarga Tio akan semakin mendapatkan teror begitu juga dengan dia , pria itu akan menyakitinya.
Saat ia ingin memejamkan mata,suara ketukan pintu terdengar ia pun beranjak bangun dan membukakan pintu.
"Ada paket untuk Nona!"ucap kurir memberikan sebuah kotak kecil berbungkus.
"Saya tidak pernah pesan,"ujar Arina mengelak.
"Nama anda Arina Putri?"tanya kurir.
"Iya nama saya Arina Putri tapi saya tidak pernah pesan apapun. Mungkin anda salah alamat?"ucap Arina.
"Alamatnya benar,anda bisa cek dulu nama dan alamatnya!"ucap kurir.
"Memang benar ,"ucapnya pelan. "Tapi siapa yang mengirimkannya?"gumamnya.
"Mungkin penggemar anda,"celetuk kurir.
Arina tersenyum tipis mendengar ucapan kurir. Arina kembali menutup pintunya setelah kurir pergi,ia pun membuka isi paket tersebut ternyata sebuah telepon genggam dan membuat ia bingung selain itu ada secarik kertas isinya'Maaf buat kemarin'.
"Ternyata dia bertanggung jawab juga,aku bisa hemat juga dan gawainya begitu bagus pasti ini mahal,"gumamnya.
Arina pun memindahkan kartu telepon lama ke tempat yang baru,tak lama ia mengaktifkan gawainya suara panggilan telepon pun masuk.
"Aku bisa menghancurkannya jika aku suka,jadi aku harap kamu jangan pernah ikut campur!"ucap pria itu dengan dingin.
"Kamu mengancamku!"
__ADS_1
"Aku tidak pernah bercanda,"ujar pria itu dengan tegas.
"Kasihan banget hidupmu tidak pernah bercanda!"ejek Arina dari jauh padahal jika dekat belum tentu berani.
"Kamu ingin bermain denganku !"ucap pria itu menekankan kata-katanya.
Arina segera mematikan panggilan teleponnya."Bisa gawat aku jika itu benar,"ucapnya membatin.
...****************...
Sarah menjalankan peran baru sebagai seorang ibu muda,ia berkata kepada bayi mungilnya,"Waktunya kita berjemur,sayang!"
"Sayang, berjemurnya jangan terlalu lama!"ucap Tio.
"Paling cuma sepuluh menit,Mas!"
"Begitu selesai berjemur, langsung masuk ke dalam rumah!"titah Tio.
"Kamu kenapa sih ,Mas?"
"Aku tidak mau Rangga terserang virus yang aneh jika terlalu lama di luar,"ucap Tio berbohong. Ia sebenarnya takut Sarah yang menerima paket teror.
"Mas, berlebihan deh!"tutur Sarah.
"Mas, berangkat ke kantor." Pamitnya tanpa berlama-lama untuk menghindari Sarah bertanya. Ia mencium bayi mungilnya dan istrinya.
"Hati-hati ,Mas!"
Sementara itu Arina bersiap akan berangkat ke kantor,saat hendak keluar rumah ia menemukan kotak kecil di depan pintu yang isinya secarik kertas bertuliskan 'jangan pernah main-main dengan ku' .
"Menyebalkan!"
Ia pun segera pergi ke kantor,ada sedikit rasa was-was di hatinya tapi ia harus tepis . Ia tidak akan menambah masalah lagi dengan pria misterius . Jika dia bertemu dengan pria itu lagi ia akan bicara tentang teror yang ia lakukan kepada keluarga atasannya,ia pun tidak ingin Tio berharap lebih kepadanya untuk mengungkap pria peneror. "Makan siang nanti,aku akan mencoba meneleponnya!"ucapnya membatin.
"Arina apa kamu sudah sehat?"tanya Tio yang baru saja sampai di kantor.
"Saya sudah sehat,Tuan!"
"Lain kali kamu hati-hati biar tidak seperti ini lagi." Tio menasehatinya.
"Lain kali saya akan lebih berhati-hati lagi,terima kasih ."
Waktunya makan siang,Arina segera menghubungi pria peneror itu. Panggilan tersambung tapi tidak di jawab hingga ia melakukan panggilan ketiga.
"Ada apa ?"sahut seseorang diujung telepon.
"Aku ingin bicara denganmu!"ucap Arina.
"Kamu ingin bermain denganku?"
"Aku tidak punya maksud apa-apa!"
"Baiklah,aku akan menemuimu!"
"Di kafe di depan ujung jalan besar, jam lima sore!"tutur Arina.
__ADS_1
"Oke, jangan terlambat!"sahut pria itu dengan nada dinginnya.
Selesai menelepon Arina kembali menikmati makan siang,ia harus menyiapkan mental dan kekuatan untuk bertanya. Satu jam lagi waktu kerja usai.
"Arina,tolong kamu buatkan laporan ini!"perintah Seno.
"Tapi,Tuan..."
"Ada apa?"Seno mengernyitkan keningnya.
"Tidak apa-apa,saya akan membuatnya."
Arina pun melaksanakan perintah Seno, karyawan lain telah berpulangan. Ia pun melirik jam dinding kantor.
"Semoga saja,aku tidak terlambat!"gumamnya sembari jemarinya mengetik laporan.
"Arina ,aku pulang duluan ya!"sapa teman kantor kebetulan satu lantai dengannya.
"Eh..iya, hati-hati!"sahut Arina tersenyum.Ia pun terus melirik jam dinding.
Akhirnya sepuluh menit menuju pukul jam lima sore ia selesai mengerjakan tugas dari Seno dan menyerahkannya. Ia pun mempercepat langkahnya menuju parkiran dan melaju kendaraannya menuju kafe yang menjadi tujuan.
"Sepuluh menit,aku menunggumu di sini!"ucap pria itu dingin.
"Maaf,tadi aku harus mengerjakan laporan,"ucap Arina dengan nafas tersengal karena harus berlari.
"Tapi,aku tidak bisa menunggu. Aku harus pergi!"ucapnya berdiri ingin melangkah pergi.
"Tunggu, jangan pergi!"pinta Arina.
Pria itu kembali duduk dan berucap,"Waktumu lima menit!"
"Aku tidak tahu masalahmu dengan atasanku ,tapi aku mohon jangan pernah meneror keluarganya lagi!"pinta Arina.
"Kamu cuma sekretarisnya!"sahut pria itu dengan tegas.
"Aku cuma sekretarisnya tapi ia memintaku untuk menanyakan motif kamu melakukan ini?"
"Itu bukan urusanmu,apa kamu di bayar ?"
"Aku tidak di bayar,aku hanya berniat menolongnya."
"Waktumu habis,aku harus pergi!"
"Tuan, tunggu aku belum selesai bicara!"
Pria itu tidak menghiraukannya dan tetap melangkah walau Arina mengejarnya.
"Tuan, dengarkan aku!"pinta Arina pada pria itu di pinggiran jalan depan kafe yang hendak membuka pintu mobil.
Pria itu pun membalikkan tubuhnya,"Jangan pernah ikut campur urusanku!"ucapnya menekankan kata-katanya.
Saat Arina ingin berucap sebuah sepeda motor melaju sangat kencang ke arahnya,pria itu dengan sigap menarik Arina hingga membentur tubuhnya. Jarak wajah mereka begitu dekat. Arina begitu gugup saat bola mata pria itu memandangnya,ia menarik tubuhnya dan berucap,"Maaf!"
Pria itu membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Arina yang masih mematung.
__ADS_1