
Sebulan kemudian...
Hari ini Mischa menyuruh Reno untuk membelikannya coklat di minimarket Sebenarnya dia malas untuk singgah membelinya tapi istrinya itu merengek akhirnya ia pun menuruti kemauannya.
Reno memasuki minimarket dan memulai mencari coklat yang diminta Mischa.
Sementara itu Arina dan Rayyan,baru saja tiba di pelataran parkir minimarket.
"Sayang, aku tidak bisa menemanimu belanja. Tapi nanti aku akan menjemputmu,"ucap Rayyan.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau antar ini ke rumah teman di ujung jalan ini,"ucapnya menunjukkan undangan dari teman Rayyan.
"Baiklah,tidak masalah jika aku belanja sendiri,"ucap Arina membuka pintu mobil lalu turun masuk ke dalam minimarket.
Arina menyusuri lorong minimarket dan mencari barang yang dibutuhkan. Namun,ia berpapasan dengan Reno di rak bagian coklat.
"Arina!"gumamnya.
Arina menundukkan pandangannya dan memutar balik arah,ia bergegas menuju kasir begitu juga dengan Reno. Wanita itu berada di depannya, kasir pun mulai menghitung . Arina membuka dompetnya tapi ia tak menemukan dompet ataupun ponselnya.
"Kak,aku nanti akan bayar. Dompetku ketinggalan,"ujarnya pada kasir.
"Baiklah,Nona!"ucap kasir.
"Biar saya saja yang bayar,"sahut Reno menyerahkan belanjaannya pada kasir.
"Tidak usah,"tolak Arina sopan.
"Sekalian semua hitung,"ucap Reno pada kasir.
Kasir pun menghitung dan menggabungkan tagihan belanja Arina dan Reno kemudian pria itu keluar kemudian disusul Arina.
Reno hendak membuka pintu mobil,namun ia masih melihat Arina berdiri dan melirik ke kanan dan ke kiri.
"Bagaimana jika aku antar pulang?"tawar Reno.
"Tidak, terima kasih."Arina menolaknya dengan halus. "Aku menunggu Rayyan,"lanjutnya.
Reno menjawab dengan anggukan. Tanpa disadari Arina ,sebuah sepeda motor melaju kencang dengan sigap Reno menarik tangan wanita itu hingga membuat wajah mereka semakin dekat. Arina mengingat kejadian ini pernah terjadi setahun yang lalu di depan kafe.
"Apa kamu sudah selesai belanja?"tanya Rayyan mengejutkan keduanya.
Arina segera memundurkan tubuhnya yang mendadak kaku dan berkata menatap pria dihadapannya,"Maaf!". Kemudian ia kembali berucap,"Terima kasih!"
Ia pun memutar balik tubuhnya dan menghampiri suaminya yang sudah berdiri dibelakangnya. Rayyan mengambil barang belanjaan Arina dan memasukkannya ke bagasi mobil kemudian kembali ke pintu pengemudi.
Arina yang sudah duduk di kursi samping kemudi menatap suaminya,"Apa dari tadi ia melihat semuanya,"tanyanya dalam hati.
Rayyan tetap diam,ia tak bertanya atau marah. Wajah suaminya terlihat tidak bersahabat.
"Dompet dan ponselku ketinggalan,jadi tadi yang bayar tagihan belanja dia,"ucap Arina menjelaskan tanpa ditanya
__ADS_1
Bukannya menyahuti, Rayyan malah menyodorkan dompet dan ada ponsel di dalamnya.
"Hem.. yang tadi itu tidak disengaja, karena ada pengendara melajukan kendaraannya dengan kencang ,"jelas Arina lagi.
Suaminya itu tetap tidak merespon,ia fokus menyetir.
"Ray!"panggil Arina lembut.
"Hmm."
"Kamu marah?"tanya Arina dengan hati-hati.
Rayyan menjawab singkat,"Tidak!"
"Tapi mengapa diam?"tanyanya kembali.
Rayyan hanya menoleh sebentar kemudian tersenyum.
"Kamu percaya padaku 'kan?"tanya Arina.
Rayyan menganggukan kepalanya.
"Terima kasih,Ray!"ucap Arina tersenyum simpul.
Rayyan hanya dapat memendam rasa cemburunya,saat melihat istrinya itu berpelukan dengan pria lain tak lain adalah mantan kekasihnya.
*F****lash back..
"Ini punya Arina,mau belanja tapi dompet bisa tinggal,"decak Rayyan."Aku kasih undangan ini saja,baru menyusul dia belanja.Pasti ia kebingungan mencari dompetnya,"gumamnya.
Rayyan pun turun ia mengantarkan undangan temannya, kemudian ia menyusul Arina. Ia melihat istrinya berdiri dipelataran parkir namun saat akan menghampirinya sebuah sepeda motor melaju kencang hingga membuat pria yang berada di dekat istrinya menarik tangannya hingga menubruk pria itu.
Flash On***..
Sesampainya di rumah Rayyan,tetap diam ia menurunkan barang belanjaan istrinya kemudian membawanya masuk lalu ia pergi menuju kamar.
Arina yang melihatnya mengikuti suaminya, yang tidak biasanya seperti itu.
"Kamu tidak jadi pergi?"tanya Arina seingatnya tadi sebelum mengantar ia belanja , suaminya minta izin mau bermain futsal.
"Tidak,aku ingin istirahat saja!"jawabnya ketus.
"Ray,aku dan dia tadi tidak sengaja bertemu,"jelas Arina lagi.
"Aku tak bertanya hal itu,"ujarnya lagi.
"Lalu mengapa tiba-tiba begini?"tanya Arina ia merasa bersalah.
Rayyan malah merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Kamu sakit?"tanya Arina kembali memegang kening suaminya.
Rayyan menepis tangan istrinya itu dengan lembut lalu berkata,"Aku tidak sakit!"
__ADS_1
"Ray, tolong jangan diamkan aku begini!"ucap Arina sedih.
"Aku lagi lelah saja,"jawab suaminya seadanya.
"Aku tahu kamu berbohong,"ucap Arina dengan mata berkaca-kaca .Ia memalingkan wajahnya saat suaminya meliriknya.
Rayyan bangkit dan duduk mendekati istrinya yang duduk di tepi ranjang kemudian ia memeluknya.
"Aku mencintaimu,aku percaya padamu dan jangan tinggalkan aku,"bisik Ray lembut.
Arina pun membalas pelukan suaminya,"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu!"ucapnya meneteskan air mata.
Di lain tempat,Reno memasuki pekarangan rumahnya dia menenteng sebuah plastik berisi coklat dan minuman kemasan.
Ia pun menyerahkannya pada Mischa,"Ini pesananmu!"
Kemudian mendapatkan balasan terima kasih dari istrinya itu.
"Kamu tidak muntah lagi?"tanya Reno karena tadi pagi ia melihat istrinya itu muntah,namun ia tak berniat bertanya.
Mischa menggelengkan kepalanya.
"Baguslah,kalau begitu!"celetuknya kemudian ia ke kamar membersihkan diri.
...****************...
Pagi ini Mischa sudah beberapa kali mengeluarkan isi makanan dari dalam perutnya. Reno mengernyitkan keningnya karena seminggu ini istrinya selalu saja muntah.
"Kalau sakit berobat,jangan dibiarkan begitu!"omel Reno.
Mischa hanya terdiam kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang kembali.
"Kamu tidak kerja hari ini?"tanya Reno.
"Tidak,aku membatalkan semua jadwal hari ini,"jawab Mischa.
"Ya, sudah. Kalau begitu aku pergi kerja,"ucap Reno tanpa bertanya banyak.
Mischa malah memejamkan matanya sehabis muntah ia hanya minum air putih. Hari ini ia berencana akan ke dokter seorang diri. Karena tak mungkin mengajak suaminya yang pastinya akan menolak menemaninya.
Ia memasuki ruangan praktek dokter kandungan bersama dengan temannya sekaligus asistennya .Tadi pagi ia menelepon asistennya kebetulan seorang wanita untuk menemaninya ke dokter. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata dokter mengatakan kalau ia hamil, seulas senyum terpancar di bibirnya. Ia pun pamit.
"Kamu yakin tidak memberi tahu Reno tentang kehamilanmu?"tanya asistennya.
Mischa menggelengkan kepalanya.
Asistennya itu menghela nafasnya lalu berkata,"Sampai kapan kalian begini?"
"Entahlah,dia belum sepenuhnya menerimaku!"ucap Mischa mengelus perutnya yang belum membesar.
"Jika memang itu keputusanmu, semoga tidak membuatmu stres. Ingat kamu lagi hamil!"nasehat asistennya.
"Iya,aku akan jaga calon bayi ini dengan baik,"sahutnya tersenyum.
__ADS_1