
"Sayang, besok pagi aku dan Papa akan berangkat ke kota C selama 3 hari. Jadi, Felicia yang akan menjagamu kemanapun kamu pergi," ucap Satria.
"Aku berencana besok minta temani kamu ke rumahku untuk mengambil barang, tapi tak apa biar dengan Feli saja," ujarnya tersenyum.
"Begitu dong," ucap Satria mengacak rambut istrinya yang baru saja sisiran.
"Tapi dia tidak pakai pakaian serba hitam 'kan?"
"Tidak, sayang."
"Baguslah, kalau begitu."
Di lain tempat, di sebuah rumah cukup mewah milik keluarga Kesya. "Apa kalian sudah tahu info tentang wanita itu?"
"Suami dan mertuanya akan berangkat besok pagi ke Kota C."
"Bagus, tetap awasi wanita itu!"
...****************...
"Kami berangkat dulu sayang," pamit Satria pada istrinya.
"Iya, Satria. Hati-hati!" ucapnya.
Satria dan Papa Setya berangkat ke kota C menaiki mobil mereka juga mengikuti sopir pribadi bersamanya.
Tak lama setelah kepergian suami dan mertuanya, pengawal pribadinya datang.
"Selamat pagi, Nona!" sapa Felicia.
"Pagi juga. Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Agnes.
Felicia membukakan pintu penumpang untuk istri majikannya hari ini menggunakan celana jeans warna biru dengan baju kotak-kotak warna yang sama, rambut di ikat dan menggunakan kacamata berwarna putih.
Selama perjalanan menuju kediaman Agnes semua berjalan lancar tanpa hambatan. Sesampainya di sana asisten rumah tangga yang lama sudah menyambutnya.
"Apa kabar, Non?" sapanya.
"Baik, Bik."
"Selama saya tinggal tidak ada yang mencurigakan?"
"Tidak ada, Non. Tiap pagi saya datang masih tetap seperti biasa," jawabnya.
"Apa ada tamu yang datang?"
"Tidak ada, Non."
"Baguslah. Saya ingin mengambil beberapa pakaian dan barang-barang yang kemarin tak sempat di bawa," ucap Agnes.
__ADS_1
"Apa perlu saya bantu, Non?"
"Tidak usah, kerjakan saja pekerjaan Bibik."
"Kalau begitu. Saya permisi, Non!"
Kurang lebih setengah jam, Agnes mencari barang-barang yang akan di bawa ke rumah suaminya. Sudah hampir sebulan juga ia tinggal di kediaman mertuanya.
"Bik, aku mau pamit!"
"Iya, Non. Kapan kembali lagi ke sini?" tanyanya pada Agnes.
"Belum tahu, Bik. Jika seandainya rumah ini dijual, Bibik akan tetap bekerja padaku," jelasnya pada asistennya.
"Benarkah, Non? Terima kasih banyak!"
"Bibik juga sudah lama mengurus dan merawatku tentunya aku tidak mau pisah begitu saja," ucapnya.
"Sekali lagi terima kasih, Non."
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi!"
"Iya, Non. Hati-hati."
"Mari, Bik. Permisi!" pamit Felicia tersenyum lalu ia memakai kembali kacamatanya.
Felicia membukakan kembali pintu mobil untuk Agnes sambil melirik ke kanan kiri, memperhatikan sesuatu yang mencurigakan.
"Tidak ada, Nona!"
"Syukurlah!"
"Kita mau ke mana, Nona?"
"Langsung pulang saja!"
"Baik, Nona."
Mobil pun meluncur ke rumah Papa Setya, di tengah perjalanan tiba-tiba kendaraan yang ditumpangi Agnes mendadak berhenti.
"Apa yang terjadi?"
"Sepertinya ban mobil bocor, Nona!"
"Daerah ini cukup jauh dari bengkel mobil," ucap Agnes.
"Nona, tenang saja!" Masih di dalam mobil, Felicia menghubungi seseorang.
"Apa kita tidak keluar saja mencari bantuan?" usul Agnes pada pengawal pribadinya.
__ADS_1
"Biarkan begini sampai bantuan datang, Nona!" ujar Felicia.
"Baiklah," ucap Agnes. Ia pun memainkan ponselnya sambil menunggu bantuan.
Tak lama, sebuah mobil hitam mendekati mobil yang mereka tumpangi.
"Apa mereka yang akan membantu kita?" Agnes melihat empat orang pria ke arahnya.
"Iya, Nona." Felicia turun dan mengobrol dengan salah satu pria lalu ia berjalan ke arah pintu penumpang. "Kita akan berpindah mobil, Nona!"
Agnes pun turun, beberapa orang pria itu tampak saling melihat ke kanan dan kiri.
"Terima kasih," ucap Felicia pada empat pria itu lalu ia berlari ke arah pintu sopir dan kembali melajukan kendaraannya.
"Kenapa kita harus mengganti mobil?"
"Jika kita harus ke bengkel itu hanya akan memakan waktu, Nona!" jawabnya.
"Tapi, aku tidak lagi kemana-mana."
"Tapi musuh anda di mana-mana," tuturnya.
"Musuh?"
"Apa mereka mengikuti kita?"
"Iya, Nona. Makanya saya tetap berada di dalam mobil sampai bantuan datang," jawabnya.
"Oh, begitu!" Agnes melihat ke belakang mobil untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya, ada rasa takut di hatinya.
Akhirnya, mobil yang ditumpanginya memasuki halaman rumah mertuanya.
"Barang-barang Nona, nanti akan mereka kirimkan!" ucap Felicia saat membukakan pintu untuk Agnes turun.
"Iya. Kamu boleh pulang!"
"Saya akan tetap di sini sampai ke empat teman saya tadi datang," ucapnya.
"Ya, sudah terserah kamu. Saya mau masuk!" Agnes tersenyum.
"Baik, Nona. Selamat beristirahat!"
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf slow update, kondisi kesehatan masih dalam masa pemulihan.
__ADS_1
Sekali lagi mohon maaf.
Selamat Membaca...🌹