Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
SJC2-bag. 3


__ADS_3

"Apa aku harus minta maaf padanya?" gumamnya. Satria menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, nanti wanita itu akan besar kepala," ucapnya lirih. Ia kepikiran ucapan papa dan kakaknya serta ancamannya. "Oh, kenapa harus minta maaf padanya?" ia memijit pangkal hidungnya.


Ia menelepon bagian kepegawaian untuk meminta alamat Agnes, tak cukup lama ia pun mendapatkan informasinya.


Sepulang dari kantor, ia menyempatkan membeli aneka buah-buahan yang terbungkus rapi dalam satu keranjang kecil dan sebatang coklat.


Ia memasuki daerah kawasan cukup elit, rumah-rumah megah berdiri. Sampailah ia di tempat tujuan. Satria memandang rumah yang cukup besar namun tampak usang karena catnya mulai terkelupas.


"Apa benar ia tinggal di sini?" batinnya bertanya. Dulu ia pernah mengikuti Agnes pulang sekolah tapi alamatnya berbeda.


Pria itu memberanikan diri untuk memencet bel rumah, berkali-kali ia menekan tombol akhirnya seorang wanita tua datang berlari-lari dengan tergopoh-gopoh.


"Cari siapa, Tuan?" tanyanya sebelum membuka pintu gerbang.


"Agnes."


"Nona Agnes, baiklah anda tunggu di sini. Maaf, nama Tuan siapa?" tanyanya.


"Satria."


Wanita itu kembali masuk dan Satria harus menunggu.


Tak lama kemudian ia menghampirinya.


"Maaf, Tuan. Nona Agnes tidak menerima tamu," ucapnya.


"Saya atasannya," ujar Satria.


"Kata Nona Agnes begitu," ucapnya lagi.


"Ya, sudah. Saya titip ini saja buat dia," Satria menyodorkan buah tangan pada wanita tua itu. Ia pun kembali ke dalam mobil, meninggalkan rumah Agnes. "Huh, sombong sekali dia. Aku tidak diterimanya," keluhnya.


"Nona, ini letak di mana?" tanya pelayan pada Agnes.


"Letakkan di atas meja saja," jawabnya.


Pelayan wanita itu pun mengikuti perintah Agnes, ia pun pamit meninggalkan kamar majikannya.


"Pasti dia ke sini karena di suruh Nona Sarah atau Tuan Setya," gumamnya.


*


"Apa kau sudah menjenguknya?" tanya Setya pada Satria sesampainya putranya itu di rumah.


"Sudah, Pa. Tapi dia tak menerima tamu," jawabnya.


"Jadi kau menyerah begitu saja?"


"Aku harus bagaimana, Pa?"


"Temui dia lagi dan minta maaf," perintah Setya.


"Pa, aku jadi seperti pengemis meminta maaf darinya," protes Satria.


"Oh, jadi kau mau Papa turunkan jabatannya atau memindah Agnes ke perusahaan lain," ucap Setya.


"Papa selalu memaksa dan mengancam," celotehnya.


"Papa cuma ingin mengajarkanmu bertanggung jawab, sejak kau mengenal wanita itu jadi berubah." Ungkap Setya.


"Baiklah, nanti malam aku akan menemuinya lagi," ucap Satria.


Malam harinya, ia pun menepati janjinya pada Setya. Pria itu mengendarai mobilnya di tengah hujan deras.

__ADS_1


Sesampainya di sana, ia turun dan menekan bel rumah. Wanita tua yang ia temui tadi siang yang membukakan pintu.


"Bukankah Tuan yang tadi sore datang ke sini?" tanyanya.


"Iya. Apa saya bisa bertemu dengan Agnes?" tanya Satria dari luar pagar.


"Sebentar saya akan tanyakan," jawabnya. Ia pun pergi menemui Agnes.


Separuh badan Satria sudah basah di guyur hujan, ia memilih menunggu di dalam mobil. Tak lama, wanita itu pun kembali menemuinya.


Satria membuka kaca mobilnya. "Bagaimana?" teriaknya dari jauh karena hujan membuatnya bersuara keras.


"Maaf, Tuan. Nona tidak mau bertemu dengan siapapun," jawabnya juga ikut bersuara keras.


Satria menghembuskan nafasnya. Pelayan wanita itu pun kembali menutup pintu pagar. Pria itu akhirnya menunggu di dalam mobil. Kalau pulang bisa saja papanya akan marah.


"Apa dia sudah pulang, Bik?" tanya Agnes.


"Saya kurang tahu, Nona."


"Ya, sudah. Terima kasih, Bik."


"Saya permisi, Non." Pamitnya.


Agnes mengintip disela-sela gorden jendela, ia melihat dari kejauhan mobil milik Satria. Ternyata, pria itu belum beranjak pergi.


Agnes pun memilih tidur dan membiarkan Satria di luar. "Paling sebentar lagi dia juga pergi," gumamnya.


Tiga jam kemudian, Agnes terbangun karena haus ia pun melihat lagi dari jendela apakah Satria sudah pergi atau tidak. Mobilnya pun masih terparkir didepan gerbang rumahnya.


"Kenapa dia tidak pulang? Ini sudah jam 1 malam," ucap Agnes lirih. Ia pun segera turun dan keluar menemui Satria. Ia mengetuk kaca mobil berulang kali.


Satria pun menurunkan kaca mobil ketika mendengar ketukan pintu, Agnes yang mengetuk sambil memegang payung.


"Kenapa masih di sini?" tanya Agnes.


"Masuklah," ucap Agnes, ia membuka lebar pagarnya. Agar mobil Satria bisa masuk.


Satria menunggu di ruang tamu, Agnes ke dapur membuatkan teh hangat. Wanita itu membawa segelas teh dan menyuguhkan kepada atasannya itu.


"Silahkan diminum!"


"Terima kasih!" Satria mengangkat gelas dan menyeruputnya.


"Mau bicara apa?" tanya Agnes.


"Aku mau minta maaf," jawab Satria santai.


Agnes tersenyum sinis. "Biasanya sulit untuk meminta maaf, apa karena Nona Sarah atau Tuan Setya mengancam kamu?"


"Bisa dikatakan begitu," jawab Satria.


"Lebih baik kamu pulang saja, ini juga sudah malam," ucap Agnes.


"Aku tidak akan pulang sebelum kau berjanji mengatakan pada papa dan kakakku jika diriku sudah meminta maaf," ujar Satria.


"Aku tidak akan mengatakan apapun kepada mereka," ucap Agnes.


Satria mengepalkan tangannya menahan geram. "Sepertinya di rumah ini, cuma ada kau dan satu pelayanmu," ucapnya tersenyum jahat.


"Kau mau apa?" tanya Agnes lantang. "Jangan macam-macam, aku bisa berteriak!" ucapnya.


"Silahkan, tidak ada yang mendengarnya. Lagian ini hujan, pelayanmu itu juga tidur dengan lelap." Satria berjalan mendekati Agnes.

__ADS_1


Wanita itu pun memundurkan langkahnya. "Satria, hentikan!"


"Wow, kau memanggilku dengan nama saja. Mana embel-embel Tuan didepannya?"


"Ini bukan jam kantor, jadi aku bebas memanggil apa," ucap Agnes.


Satria semakin dekat hingga jarak keduanya hanya beberapa centimeter. "Kau cantik juga," ucapnya.


Agnes mendorong kuat tubuh Satria hingga hampir terjatuh.


"Hei, kita cuma berdua. Mari bersenang-senang, bukankah kau menyukaiku?" tanya Satria.


"Itu dulu beberapa tahun yang lalu," jawab Agnes.


"Oh, ya. Lalu kau menyukai kakak iparku dan memfitnah Kak Sarah," ucap Satria.


"Aku tidak menyukai Kak Tio," teriak Agnes.


"Lalu, kau menyukai siapa? Kak Reno?"


Agnes menggeleng.


"Oh, kau masih menyimpan rasa untukku?"


"Satria, cukup!" hardik Agnes.


"Oh, kau bisa marah juga," ucap Satria menaikkan sudut bibirnya.


"Apa mau kamu?" tanya Agnes.


"Kau!"


Agnes mengernyitkan keningnya.


"Aku menyukaimu dari dulu, Agnes. Kau tidak sabar menunggu jawaban dariku malah menjalin kasih dengan Leo," ucapnya. "Kau selalu membanggakannya, dia hebat, dia keren, dia jago balapan. Itu 'kan yang kau suka!" ucapnya lagi.


Wajah Agnes berubah, matanya mulai berkaca-kaca.


"Hei, jangan menangis." Satria memegang pipi Agnes dengan kedua telapak tangannya.


"Kau lama sekali memberikan jawaban, Leo menyukaiku jadi aku memilih pria yang benar-benar menyayangiku," ucap Agnes terisak.


Satria mendekap tubuh Agnes yang menangis sesenggukan di bahunya.


"Tubuhmu panas sekali," Satria merasakan dari pelukannya.


"Jangan pergi!" ucapnya lirih.


"Aku akan menemanimu di sini," ujar Satria.


"Aku mencintaimu!" Agnes pun lemas lalu pingsan.


"Agnes!" teriaknya. Pria itu pun membaringkan tubuhnya di sofa tamu. Ia bergegas ke dapur mengambil air putih. Menepuk pelan pipinya perlahan wanita itu pun terbangun. Satria membantunya duduk dan memberikan minuman.


"Terima kasih," ucapnya lirih.


"Sama-sama. Ayo, aku antar ke kamar." Satria membantu Agnes berdiri dan menuntunnya.


"Kau mau tidur juga di kamarku?" tanya Agnes.


"Kalau diizinkan tidak masalah," jawab Satria.


"Enak saja, tidur di ruang tamu!" ucap Agnes.

__ADS_1


"Iya, ya. Aku akan tidur di ruang tamu, jika Papaku tahu kita satu kamar. Bisa-bisa ku di gantung," ucap Satria.


Agnes tersenyum mendengarnya.


__ADS_2