
Rayyan kembali ke rumah orang tuanya setelah mengantar Arina pulang. Seperti biasa Mama Hanum selalu muncul saat ia akan melangkah menuju kamarnya karena menurut mamanya itu waktu yang tepat berbicara dengan anaknya .
"Rayyan!"panggil Hanum.
"Haish,Mama selalu tahu saja kalau Ray pulang," ucapnya pelan.
"Ini waktu yang tepat mengobrol dengan kamu, waktumu tidak pernah untuk Mama,"ujar Hanum protes.
"Mama sibuk dan Rayyan juga sibuk!"ucapnya.
"Sibuk apa kamu? Sibuk mengurus wanita itu?"tanya Hanum menyindir.
"Mama mau aku menikah dengannya,caranya aku harus selalu ada untuknya."Rayyan menyakinkan Mama Hanum.
"Kapan kamu akan melamarnya?"
"Tak tahu,Mah. Dia lagi patah hati beri dia waktu berpikir,"ujarnya.
"Jangan lama-lama,ntar diambil orang!"celetuk Hanum.
"Kalau diambil orang berarti tidak berjodoh,"sahut Rayyan santai.
"Itu artinya kamu tidak dapat harta warisan papa," potong Hanum.
"Kok begitu?"
"Iya,mau Mama begitu."
"Mah,tak bisa begitu dong!"rengek Rayyan protes.
Mama memukul lengan anaknya itu dan berkata,"Kalau kamu mau harta,kerja jangan keluyuran tak jelas!"
"Ray udah kerja , lalu mau bagaimana lagi?"
"Mama mau kamu menikah dengan wanita itu!"
"Iya ,Rayyan akan coba membujuknya dan melamarnya tapi kalau dia menolak?"
"Kamu gak akan dapat apa-apa,"jelas Mama .
"Besok Ray akan coba dan berusaha mendapatkan hatinya,"ucapnya kemudian pamit tidur pada Mamanya.
...****************...
Matahari cukup cerah,Rayyan mengendarai mobilnya menuju apartemen Arina. Cukup lama juga ia mengetuk pintu dan wanita yang dicarinya itu membukakan pintu.
"Ada apa?"tanya Arina yang baru bangun tidur.
"Aku mau ajak jalan kamu,"ucapnya.
"Mengapa tak menelepon atau kirim pesan?"
"Aku berkali-kali menelepon dan mengirimkan pesan tapi tak dibalas,"jelasnya.
"Oh,ya!"jawab Arina seadanya.
"Coba periksa ponselmu?"
"Nanti aku periksa,"ucapnya Arina."Kamu tunggu di lobi saja!"lanjutnya lagi perintah.
"Memang kenapa tidak di dalam?"
"Ayah dan Ibu pergi."
"Kemana?"
"Pulang kampung tadi pagi sebelum matahari terbit,"ujar Arina menjelaskan.
"Baiklah, kalau begitu aku menunggu di bawah!"ujar Rayyan.
Satu jam Rayyan menunggu di lobi. Dia terus melihat jam di ponsel."Lama sekali pun,"gumamnya.
Beberapa menit kemudian Arina muncul."Maaf menunggu lama!"ucapnya.
"Huh, hampir tertidur di sini!"ujar Rayyan menunjuk sofa.
Arina tersenyum nyengir dan berkata,"Maaf dong tadi aku harus bebersih rumah dan cuci pakaian sudah gitu.."
"Ayo, kita berangkat sekarang!"ajak Rayyan tanpa mendengar penjelasan Arina lagi.
__ADS_1
Mereka menaiki mobil menuju sebuah taman.
"Kita ke sini?"tanya Arina bingung.
"Iya !"
"Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu,"ucap Rayyan serius.
"Bicaranya nanti aja Ray,aku lapar kita cari makan!"ajak Arina.
"Aku serius eh dia malah bilang lapar,"batin Rayyan.
"Rayyan,ayo!"ajak Arina lagi.
"Kita mau makan di mana?"
Arina melihat ke kanan dan ke kiri, matanya tertuju pada pedagang bubur keliling.
"Kita makan bubur saja!"ucap Arina.
Rayyan mengikuti langkah Arina. Dia memesan 2 mangkok. Rayyan hanya mengaduk bubur tanpa minat memakannya.
"Mengapa itu bubur tak dimakan? tanya Arina.
"Lagi tak selera,"jawab Rayyan.
"Biar aku saja yang makan!"Arina menarik mangkok dari tangan Rayyan dan memakannya."Mubazir tidak dimakan!"ucapnya lagi.
Rayyan hanya melihat wanita dihadapannya dan tersenyum.
"Dia baik,tega sekali diriku harus menyakitinya," batinnya.
"Aku sudah selesai Rayyan,apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Oh,itu. Kita ke sana saja!"tunjuk Rayyan pada sebuah bangku taman yang jauh dari kerumunan orang.
Mereka pun menuju kursi taman dengan pemandangan danau kecil buatan.
"Katakan?"ucap Arina.
"Aku.."
"Kita nonton saja , yuk!"ujar Rayyan.
"Hei,kamu bilang mau bicara .Tiba-tiba ngajak nonton!"
ucap Arina .
"Aku lupa mau bicara apa. Ayo, kita pergi dari sini!"Rayyan menarik tangan Arina.
Mereka pun pergi ke bioskop dan melihat daftar film yang akan ditonton.
"Kita nonton film apa?"tanya Arina menatap wajah pria di sampingnya itu.
"Terserah,kamu!"
"Film horor ,kamu mau?"
"Terserah!"
"Romantis?"
"Terserah!"
"Semua terserah!"gerutu Arina.
"Aku ikut kamu aja!"
"Kita nonton komedi,"ujar Arina.
Mereka memesan 2 tiket nonton tak lupa membeli cemilan. Film pun di putar , mereka duduk sesuai nomor tiket . Arina begitu senang melihat film komedi ia tertawa tanpa memperdulikan Rayyan. Pria itu hanya diam sesekali menatap Arina dan film pun berakhir.
"Filmnya lucu sekali,"komentar Arina sepanjang jalan pulang.
"Hmmm!"
"Kamu tahu,aku paling suka dengan film begini. Membuat pikirannya ini rasanya plong!"ujar Arina.
"Iya,Arina!"
__ADS_1
"Rayyan kamu kenapa 'sih?"
"Aku tidak apa-apa,Arina!"elaknya. "Kita langsung pulang saja ,ya?"tanya Rayyan.
Arina menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di apartemen Rayyan mencoba memberanikan diri berbicara.
"Arina!"panggil Rayyan saat Arina akan membuka pintu mobil.
"Iya!"sahutnya kembali membuka pintu.
"Aku akan menikah!"ucap Rayyan.
Arina terdiam karena terkejut,pria yang selama ini dekat dengannya akan menikah. Ia pun menatap wajah Rayyan dan tersenyum."Selamat,ya!"ucapnya.
"Aku belum tahu wanita itu menerima atau tidak?"
Arina mengerutkan keningnya dan berkata, "Maksudnya? Kamu menikah tapi calonnya belum tahu."
Rayyan menganggukan kepalanya.
Arina tergelak mendengar ucapan Rayyan lalu ia berkata,"Kamu lucu,apa film tadi terbawa dalam dirimu?"
"Tidak, Arina!"jawab Rayyan.
"Kamu mau menikah tapi calon wanita tidak ada,"tutur Arina.
"Wanita itu ada tapi aku belum melamarnya,"ucap Rayyan.
Arina terdiam dan berkata,"Mau menikah tapi belum melamar makin tidak mengerti."
"Aku serius,Mama yang memintaku menikah dengannya!"ucap Rayyan.
"Kalian dijodohkan?"
"Tidak juga,"jawab Rayyan.
"Lalu?"
"Mama,mau aku menikah dengannya,"ucap Rayyan.
"Jika kamu memang mau dengannya, kalian menikahlah!"ujar Arina.
"Tapi aku takut wanita itu menolaknya?"
"Kamu sudah berbicara dengan wanita itu?"tanya balik Arina.
"Ini aku lagi mencoba,"ujar Rayyan.
"Ya sudah,kamu pulanglah dan bicara pada wanita itu?"
"Aku sedang bicara dengan wanita itu,"ucap Rayyan.
Arina terdiam dan menatap Rayyan.
"Aku ingin melamarmu, Arina!"ucap Rayyan lembut.
Arina membuang wajahnya tak percaya. Ia bingung dan gugup,"Aku mau istirahat!"
Rayyan memegang lengan Arina dan berkata,"Aku serius,aku ingin kita menikah!"
"Rayyan, biarkan aku keluar !"ucap Arina salah tingkah.
"Maaf,kalau tiba-tiba aku mengatakan ini,"ujar Rayyan.
Arina tersenyum tipis.
"Kamu bisa menjawabnya jika kamu sudah siap mengatakannya,"ucap Rayyan.
"Aku belum tahu, Rayyan.Saat ini aku butuh sendiri!"ujar Arina membuka pintu mobil dan berlari memasuki apartemennya.
Rayyan memukul setir mobilnya."Bodoh ! Jelas tidak diterima dia baru saja patah hati,"Rayyan merutuki dirinya.
Ia pun memutar laju mobilnya menuju rumah orang tuanya karena ia tidak menyewa apartemen lagi.
Sementara itu Arina termenung di sofa apartemennya.
"Aku belum bisa menghapus bayangan Reno,"batinnya berucap.
__ADS_1