
Seminggu kemudian...
Mischa masih kembali muntah membuat Reno mengernyitkan dahinya. "Hampir setiap hari kamu muntah,apa kamu baik-baik saja?"tanya Reno menyesap tehnya.
"Ini hanya sakit biasa,"ucap Mischa berusaha tersenyum.
"Sakit apa?"
"Sakit lambungku kumat,"ucap Mischa berbohong.
"Sudah berobat?"
"Sudah."
"Oh, baguslah kalau begitu!"ucap Reno kemudian ia berkata kembali."Nanti malam aku berangkat ke luar negeri,kamu tidak masalah aku tinggal?"
"Tidak !"
"Aku di sana cukup lama, sekitar 3 bulan,"ucap Reno lagi.
"Tiga bulan itu cukup lama,"ucap Mischa membatin.
"Aku tidak masalah,lagian juga memang biasa sendiri,"jelas Mischa membuat suaminya menatapnya.
"Kalau begitu aku berangkat ke kantor,"pamit Reno.
Mischa menghela nafasnya.
Sore harinya Reno bersiap-siap berangkat ke bandara,"Kamu tidak muntah lagi?"tanya Reno sembari memasang arloji di pergelangan tangannya.
"Sudah tidak,"jawab Mischa lagi-lagi berbohong.
"Kamu mau ikut mengantar aku ke bandara?"
"Sepertinya tidak,Ren. Tubuhku kurang fit,"ujar Mischa.
"Ya, sudah . Aku berangkat!"ucap Reno berlalu tanpa ada kecupan di tangan atau wajah.
"Menyebalkan!"gerutu Mischa.
...****************...
Sebulan berlalu...
Sementara itu di kediaman rumah Tio,pagi ini terdengar rengekan manja Sarah yang meminta suaminya membuatkan nasi goreng untuknya. Sang suami jelas menolak karena ia tak pandai memasak.
"Mas,cepat buatkan!"rengek Sarah.
"Aku tidak mau,ntar rasanya tidak karuan,"tolak Tio.
"Tidak apa,Mas!"bujuk Sarah.
"Aku bilang tidak,"ucap Tio tegas.
"Aku menolak ke dokter kalau kamu tidak membuatkannya,"ancam Sarah.
Tio menghela nafasnya lalu berkata,"Baiklah, aku akan buatkan!"
Sarah tersenyum senang mendengarnya. Tio pun mulai memasak nasi goreng,ia memotong bawang merah dan putih serta cabai merah. Tanpa sengaja meletakkan kecap manis terlalu banyak hingga membuat warna nasi menjadi hitam pekat,ia kemudian menaburkan garam di atas nasi kemudian mengaduknya kembali.
Selesai masak ia menghidangkan nasi goreng di meja makan,Sarah sudah menunggunya di sana. Sang istri pun menatap nasi goreng buatan suaminya.
"Mengapa warnanya hitam sekali?"tanya Sarah heran.
"Ini nasi goreng spesial jadi begitu,"ucap Tio asal.
Sarah tersenyum kemudian memakan makanan buatan sang suami,Tio yang melihatnya hanya menelan saliva ."Lahap sekali dia makan, padahal rasanya entah kayak mana?"tanyanya membatin.
"Enak,sayang?"tanya Tio.
Sarah mengangguk dan mengacungkan dua jempol tangannya.
"Kamu yakin?"
"Kalau kamu tidak percaya,coba rasa!"ucap Sarah menawarkan.
__ADS_1
Tio pun menyendokkan nasi ke dalam mulut kemudian ia berlari dan memuntahkannya di wastafel.
"Jangan di makan lagi!"ucap Tio melarang.
"Ini enak,"sahut Sarah.
Tio menarik piring dari meja dan akan membawanya ke dapur.
"Aku belum selesai makan!"protes Sarah.
"Biar pelayan saja yang masakan,"ucap Tio.
"Aku tidak mau,"tolak Sarah mengerucutkan bibirnya.
Akhirnya Tio meletakkan kembali piring itu di meja dan Sarah memakannya sampai habis.
"Terima kasih,Mas!"ucapnya tersenyum.
"Ya, sudah bergegas sana. Kita berangkat ke tempat Dokter Monica,"ujar Tio.
Sarah pun mengangguk tanda mengiyakan.
Setelah berganti pakaian ia bersama dengan Tio pergi ke dokter untuk mengecek kandungan.
Sesampainya di sana mereka harus menunggu karena ada dua pasien lagi yang harus diperiksa. Sambil menunggu mereka mengobrol sesekali bermain ponsel.
Tak lama mereka datang, Mischa pun juga ingin memeriksa kandungannya.
"Nona Mischa!"sapa Sarah .
"Hei,Nona Sarah!"Mischa membalas sapaan wanita itu dan melihat perutnya.
"Kamu di sini juga?"tanya Sarah.
"Iya,Nona. Anda dengan siapa?"tanya Mischa.
"Saya dengan suami,kamu?"
"Saya sendiri,Nona."Jawab Mischa.
"Dia lagi di luar negeri,ada urusan pekerjaan,"jelas Mischa.
"Oh begitu,"ucap Sarah.
Di tengah obrolan mereka,nama Sarah di panggil perawat.
"Saya duluan,"pamit Sarah.
"Ya,Nona. Silahkan!"jawab Mischa tersenyum.
Setelah Sarah diperiksa giliran Mischa yang di panggil.
"Mas,kita di sini saja!"ucap Sarah.
"Untuk apa lagi di sini?"tanya Tio .
"Kita menunggu Mischa ,"jawabnya.
"Memangnya mengapa harus menunggu dia?"
"Tadi dia datang sendiri,naik taksi online dan apa salahnya kita menawarkan tumpangan padanya,"ucap Sarah.
Tio menghela nafasnya kemudian duduk di kursi tamu.
Tak lama Mischa pun keluar ruangan,Sarah kembali menyapa.
"Nona Mischa,mari saya antar pulang!"tawar Sarah.
"Tidak usah,Nona. Biar saya naik taksi saja!"tolak Mischa lembut.
"Tidak apa,Nona. Rumah kita searah,"ucap Sarah menarik tangan Mischa.
Akhirnya Mischa nurut dengan perkataan Sarah.
Mobil pun keluar dari pelataran parkir rumah sakit.
__ADS_1
Tio hanya diam dan sibuk dengan ponselnya,ia duduk di samping sopir. Sedangkan Mischa dan Sarah duduk di kursi penumpang.
"Berapa usia kandunganmu?"tanya Sarah.
"Baru berjalan tiga bulan,Nona!"ucap Mischa.
"Masih muda ,apa suami tahu Nona hamil?"tanya Sarah.
"Jangan panggil saya Nona,kamu bisa panggil dengan nama saya saja,"ucap Mischa.
"Oh, baiklah."
"Suami tidak tahu saya hamil,jika tahu ia akan membatalkan perjalanan bisnisnya ke luar negeri,"ucap Mischa sengaja berbohong.
"Sebaiknya kamu kasih tahu saja,pasti dia senang kalau istrinya hamil,"ucap Sarah.
Mischa tersenyum kikuk lalu berkata,"Setelah ia pulang saya akan beri tahu."
"Oh,ya. Rumah kamu di mana?"tanya Sarah.
"Pagar warna hijau."Tunjuk Mischa ke arah sebuah pagar.
Sarah pun memberi tahu sopirnya berhenti di depan pagar yang dimaksud oleh Mischa.
Mischa pun turun ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada Sarah dan Tio.
"Kapan-kapan singgah ke rumah saya,Nona!"tawar Mischa.
"Lain waktu kami akan berkunjung kemari,"ujar Sarah.
"Kami pamit, titip salam pada Reno!"ucap Tio.
"Saya akan sampaikan salam anda,Tuan!"ucap Mischa.
Sarah dan Tio pun berlalu meninggalkan rumah Mischa. Wanita itu pun masuk ke dalam rumah ternyata ia kedatangan tamu.
"Ibu!"sapa Mischa senang.
"Kamu dari mana?"tanya Marni.
"A.. aku dari rumah teman,Bu!"ucap Mischa berbohong.
"Kamu tidak bohong, wajahmu terlihat pucat? Apa kamu hamil?"cecar Marni.
Mischa menundukkan kepalanya kemudian berkata iya.
"Ibu senang mendengarnya,kalian kenapa tidak beri tahu?"
"Mischa belum sempat ke rumah Ibu,"jawabnya.
"Reno mana?"tanya Marni.
"Reno lagi perjalanan tugas ke luar negeri,"ucap Mischa.
"Itu anak, sudah tahu istrinya hamil tapi masih saja ke luar negeri. Apa tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya?"omel Marni.
"Bu, pekerjaan ini sangat penting jadi tak mungkin bisa digantikan,"jelas Mischa lagi-lagi berbohong.
"Berapa lama ia di sana?"
"Tiga bulan."
"Selama itu? Ibu akan telepon dia dan suruh pulang,"ucap Marni mulai kesal.
"Jangan, Bu!"larang Mischa.
"Harusnya dia selalu ada di dekat kamu,"tutur Marni.
"Iya,tahu. Tapi Mischa tidak apa-apa sendiri,"ucapnya menyakinkan mertuanya.
"Berapa usia kehamilanmu,Nak?"
"Dua bulan lebih,Bu!"
"Ibu akan tinggal di sini selama Reno pergi,"ucap Marni tegas
__ADS_1
Mischa menghela nafasnya,ia tak mungkin mengusir Marni dari rumah anak kandungnya.