
Bel sekolah berbunyi pukul 14.05. Mereka pun pulang untuk bersiap-siap ke cafe dan Iren juga mempersiapkan sebagian data-data yang sudah terkumpul untuk dia kerjakan sedikit demi sedikit, sembari menunggu datanya lengkap setelah teman-temannya melakukan wawancara.
Mereka berjalan ke gerbang sekolah bersama-sama, seperti yang biasa mereka lakukan. Iren yang rencananya akan pulang bersama Widi, menunggu Widi untuk mengambil motornya di parkiran sekolah.
Tiba-tiba Iren mendengar teriakan namanya dari arah belakangnya. Iren membalikkan badannya dan ternyata Rudi yang sejak tadi meneriaki namanya. Rudi sudah lama menunggu Iren pulang sekolah. Dia bermaksud untuk mengajak Iren berjalan-jalan sebelum mengantarkannya pulang.
“Ayo pulang nonaku, mau aku ajak jalan-jalan dulu.” Ucap Rudi menggoda Iren.
“I..Iya mas tunggu sebentar.” Jawab Iren terbata-bata, melihat ke arah gerbang.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih? Kamu takut ada yang lihat? Kamu ada pacar di sekolah? Jawab Iren!” tanya Rudi dengan nada kesal sambil menatap Iren.
“Gak kok mas, kamu jangan gampang marah gitu dong mas! Aku mau bicara sama Widi sebentar, mau bicara soal tugas kelompok aku. Mas tunggu sebentar, enggak apa-apa kan?” ucap Iren berbohong pada Rudi. Iren takut kalau dia berkata jujur, bahwa dia akan pulang bersama Widi, Rudi akan marah dan salah paham padanya.
“Yasudah, jangan lama-lama yah. Aku kepanasan nih nunggu kamu di luar.” Kata Rudi mengizinkan Iren untuk masuk ke sekolahnya kembali.
Iren akhirnya masuk kembali ke sekolahnya, karena Widi tidak muncul juga. Ternyata Widi sedang berbicara dengan Pak Erlan untuk mempertanyakan perihal tugas kelompoknya yang kurang dia pahami. Setelah Pak Erlan berjalan meninggalkan Widi, Iren pun dengan rasa tidak enak pada Widi harus bilang, kalau dia tidak bisa pulang bersama Widi karena Rudi menjemputnya tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
“Memangnya kenapa? Aku bisa kok antar kamu dulu baru aku ke cafe.” Jawab Widi meyakinkan Iren, karena Iren tiba-tiba berupah pikiran.
__ADS_1
“Iya makasih sebelumnya Di. Tapi, mas Rudi ada di depan buat jemput aku. Enggak apa-apa kan?” kata Iren bersuara pelan karena merasa tidak enak pada Widi.
“Oh yasudah! Kamu pulang aja sama pacar kamu itu!” jawab Widi sangat kesal.
“Kok kamu marah sih Di? Aku minta maaf kalau kamu marah. Kan aku sudah ambil data-data tugas kita juga, aku pasti kerjakan dengan cepat kok. Aku pasti utamakan tugas kita, kamu enggak usah khawatir. Hmm.. Kamu enggak apa-apa kan?” kata Iren merasa bersalah dan berusaha memberi penjelasan pada Widi agar tidak marah padanya.
“Percuma juga aku itu jelasin ke kamu! Kamu enggak akan percaya. Kamu kayaknya sudah cinta mati banget sama Rudi. Padahal kamu baru mengenalnya sebentar, kamu tidak tahu apa-apa. Yasudahlah percuma juga ngomong sama kamu!” ucap Widi sangat kesal mengepalkan tangannya, lalu berjalan meninggalkan Iren dan pergi mengendarai motornya.
Iren yang merasa sudah sangat aneh dengan reaksi Widi yang selalu kesal saat tahu kalau Iren akan pergi bersama Rudi, semakin dibuat bingung. Sebenarnya apa yang disembunyikan Widi? Kenapa dia tidak langsung bercerita pada Iren? Apa yang membuat Widi sangat marah jika Iren dekat dengan Rudi?.
__ADS_1
Iren terus menepis pikiran buruknya pada Rudi, walaupun Widi sudah sangat menekankan padanya agar tidak berhubungan dengan Rudi. Tetapi, karena Widi tidak menjelaskan apa sebenarnya maksudnya, Iren tidak mendengarkan kata-kata Widi. Yang Iren tahu dan dia rasakan, Rudi selama ini bersikap sangat manis padanya.
***