
Sesampainya di bengkel Feli dan membayar transaksi pembayaran, ia melajukan kendaraannya itu menuju rumahnya.
Raka tetap mengikuti Felicia dari belakang dan wanita itu mengetahuinya. Ia tak melarangnya dan membiarkan Raka mengikutinya.
Belum sampai rumah, lagi-lagi mobilnya dihadang beberapa sepeda motor. Beberapa orang pria mengetuk kaca dengan kencang. Mengetahui Feli dalam bahaya, Raka segera turun.
"Hai, kalian!" teriaknya.
"Kami tidak ada urusan dengan anda!" ucap salah satu pria.
"Kalian sudah menganggu perjalananku!"
"Kenapa dia turun, sih?" gumam Felicia kesal. Dirinya masih di dalam mobil, ia pun menghubungi teman-temannya.
"Kau ingin cari gara-gara sama kami!" ucap lantang salah satu pria.
Para pria tak dikenal itu, menyerang Raka. Pukulan dan tendangan mereka layangkan di tubuh pria itu, Felicia bergegas turun membantunya.
Dia pun melawan para pria yang berjumlah 6 orang, walau wajah Raka terkena pukulan tapi ia tetap berdiri membantu Feli.
Salah satu pria berhasil di tahan Feli, tak lama beberapa orang temannya datang.
"Kau tidak apa, Feli?" tanya teman Feli sesampainya mereka.
"Aku tidak apa, tapi temanku terluka." Ia melirik Raka yang sedang menahan sakit. "Serahkan dia pada Tuan Satria!" Feli mendorong pria yang menyerangnya itu kepada temannya.
"Baiklah, kami akan membawanya pada Tuan Satria. Kau urus temanmu bawa dia ke rumah sakit, aku rasa dia menyukaimu!" ucap teman Felicia bernama Carlo berlalu.
"Apa yang dikatakannya dengan teman-temanku?" batin Feli bertanya.
Felicia berjalan mendekati Raka dan membawanya ke dalam mobil. Tak lupa ia memasangkan sabuk pengaman.
"Kau ingin membantuku, tapi kau sendiri terluka. Menyusahkan saja!" omel Feli.
"Yang penting kamu tidak terluka!" ucap Raka tersenyum.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit."
"Terima kasih," ucap Raka.
Sepulangnya dari rumah sakit, Felicia mengantarkan Raka ke rumahnya.
"Kau bisa jalan sendiri, kan?" tanya Feli sesampainya di rumah Raka.
__ADS_1
"Aku masih sakit, bisakah kamu membawaku masuk?"
"Hei, yang luka cuma wajah dan tanganmu. Kakimu tidak terluka," jawab Felicia.
"Tapi aku masih sakit, kalau nanti jatuh bagaimana?"
"Baiklah, aku akan membantumu!" Felicia pun turun dan membantu Raka masuk ke dalam rumah.
"Aku lapar!" ucap Raka saat tubuhnya sudah berada di ruang tamu miliknya.
"Kau tinggal mengambil makanan dan memakannya," jawab Felicia dingin.
"Tapi tanganku terluka, bagaimana bisa aku makan?"
"Kau ini!" geram Feli membuat Raka tersenyum.
"Aku belum memasaknya, bisakah kau memasak untuk kita?"
"Kita?"
"Iya, kau pasti lapar juga."
Feli berjalan ke dapur, ia membuka lemari es. Ia mengambil dua butir telur dan beberapa aneka sayuran. Wanita itu akan memasak capcay telur. Tak sampai setengah jam, Feli selesai memasaknya.
"Makanlah!" Feli menyodorkan piring pada Raka.
"Tolong, suapkan!" pintanya.
"Tadi kau mandi bisa membuka baju, kenapa malah makan minta disuapin?"
"Feli, aku lagi sakit. Masa 'sih kamu tega," ucap Raka dengan wajah kasihan.
"Karena kau sudah menolongku, aku akan menyuapinmu!" Feli mengangkat sendok berisi nasi dan sayuran ke dalam mulut Raka.
"Masakanmu cukup enak," pujinya.
"Aku tidak banyak waktu, jangan banyak bicara!"
"Feli, aku merindukanmu!"
Feli meletakkan sendok dan menatap pria yang ada dihadapannya. "Aku tidak ke mana-mana, untuk apa kau merindukanku?"
"Aku rindu dengan kita 6 tahun yang lalu," jawab Raka.
__ADS_1
"Itu sudah berlalu, bukankah kau bilang tidak menyukai gadis yang manja?"
"Maafkan kata-kataku yang menyinggungmu waktu itu," Raka menundukkan kepalanya.
"Aku sudah memaafkanmu," ucap Felicia.
"Apa kau tidak mau memperbaiki hubungan kita?"
"Pekerjaanku tidak bisa membagi waktu untuk urusan cinta," jawab Felicia.
"Aku tidak masalah," ucap Raka.
Ponsel Felicia berdering, ia pun menjawabnya lalu menutup kembali.
"Aku harus pergi!" Felicia berdiri dari kursinya.
"Kamu mau ke mana?"
"Kesya sudah di tangkap!"
"Aku ikut!"
"Tidak, Raka. Kau harus beristirahat!"
"Kesya pasti sudah mengatakan pada Satria kalau aku ikut terlibat," tutur Raka.
"Mereka sudah mengetahuinya sebelum Kesya berbicara," ucap Feli.
"Bagaimana bisa?"
"Hei, kau pikir mata-mata mereka tidak banyak untuk mencari tahu informasi ini!"
"Lalu dengan Leo?"
"Tidak ada hubungannya dengan keduanya," jawab Feli.
"Maksudnya?"
"Waktu itu adikmu mengatakan cinta pada Kesya, tapi wanita itu menolaknya. Leo begitu frustasi, lalu ia berjalan seorang diri di kolam renang. Kesya kembali datang, mengingatkan Leo untuk tidak mengganggunya. Perdebatan kecil pun terjadi, Kesya mendorong Leo. Gadis itu segera berlari meninggalkannya, kebetulan Nona Agnes lewat ia berlari mencari bantuan tampak wajah panik dan khawatir pada Nona Agnes namun adikmu tidak dapat di tolong," jelas Felicia.
Mata Raka tampak berkaca-kaca mendengar penjelasan Felicia. "Aku siap mendapatkan hukuman dari mereka!"
"Aku harus segera pergi. Jangan lupa minum obatnya!" ucap Feli.
__ADS_1