
"Biarkan aku di kursi roda!"ucap Arina meronta.
"Gak usah bawel deh,apa bedanya aku gendong dan menggunakan kursi roda tujuannya tetap sama 'kan,"omel Rayyan.
"Hei,kamu tuh orang lain!"protes Arina yang masih di gendong.
"Mulai sekarang aku bukan orang lain untukmu!"ucap Rayyan asal.
Rayyan mendudukkan Arina tepat di samping Nana sambil menunggu terapis ia mengambil kursi roda di mobil dan kembali ikut duduk di samping Arina.
"Kamu ngapain masih di sini?"tanya Arina tak suka.
"Aku menunggu kalian!"jawabnya santai.
"Aku tak perlu di tunggu,cepat sana pulang!"usir Arina dengan suara pelan.
"Tante,apa boleh saya menunggu kalian di sini?"tanyanya pada Nana.
Arina mendelikkan matanya.Ia memukul lengan Rayyan.
"Auww!"teriaknya kesakitan."Sakit juga pukulanmu!" ucapnya lagi.
"Boleh,Nak!"
"Nah,Tante aja membolehkan!"ujarnya.
Arina mengerucutkan bibirnya.
Tak lama terapis memanggil Arina."Nona, harus belajar berdiri bisa dengan mengunakan sesuatu sebagai penyanggah berat badan."
"Kaki saya terasa lemas,"ujar Arina.
"Ayo ,kita coba lagi !"
Arina berdiri di bantu terapis dan Rayyan. Dia perlahan berjalan tertatih-tatih di pegang erat terapi. Sejam kemudian . "Nona,di rumah juga harus berlatih biar cepat sembuh dan ingat anda jangan stress tetap rutin minum obat!"nasehat terapis.
Mereka pun kembali ke apartemen.
"Sekali lagi terima kasih sudah menolong kami,"ucap Nana.
"Senang hati,saya dapat menolong kalian!"ujar Rayyan.
"Nak,bilang terima kasih dengan Rayyan!"suruh Nana.
"Terima kasih!"ucap Arina jutek.
"Kalau bukan karena harta papa,tidak perlu aku melakukan ini!"batinnya. Rayyan memaksakan tersenyum dan dia pun pamit.
Selepas Rayyan pergi, Arina bicara pada ibunya.
"Bu,kenapa 'sih selalu menerima bantuan darinya?Kita tidak kenal dengannya!"
"Dia tetangga kamu,"jawab Nana.
"Bu,kalau dia niat jahat pada kita bagaimana?"
Nana tersenyum dan berkata,"Semoga saja bukan!"
"Ibu terus saja bela dia!"gerutunya.
"Ibu tak bela dia,cuma berpikir positif saja!"ucap Nana. "Ntar sore ,nanti kamu latihan jalan di taman dengan dia. Ibu memintanya membantu kamu tadi,sebelum dia pamit pulang!"lanjutnya.
"Aku tak mau dengan dia ,Bu! "protes Arina lagi.
"Jadi kamu mau dengan Reno?"
__ADS_1
Arina terdiam mendengar nama itu. Ada rasa rindu dan sesak menyatu di dalam dada.
Sore harinya,Rayyan datang ia menepati janjinya pada Nana untuk melatih Arina.
"Ayo, kita ke taman!"ajak Rayyan mendorong Arina.
Sesampainya di taman ,Arina berkata memberikan peringatan,"Jangan macam-macam!"
"Siap,Nona!"ucap Rayyan. "Sini biar aku bantu!"Ia menggenggam tangan Arina berdiri dan mulai berlatih perlahan."Ayo,Arina kamu bisa!"ucapnya memberi semangat.
Beberapa langkah kemudian Arina terjatuh di pelukan Rayyan."Maaf!"ucap Arina.
"Ayo, bangkit!"seru Rayyan.
"Cukup Rayyan ,aku lelah!"ucap Arina.
"Ya, sudah kita duduk saja dulu!"ujar Rayyan.
"Aku mau pulang saja, aku ingin istirahat!"
"Baiklah, aku antar kamu!"
...****************...
Sejak berpisah dengan Arina dan Ibunya tidak menyetujui hubungan mereka membuat Reno semakin dingin. Apa lagi ketika ia melihat Arina di gendong seorang pria yang sebaya dengannya.
"Reno!"panggil Marni ketika berada di rumah anak lelakinya itu."Kenapa perusahaan kita merugi?" tanyanya lagi.
"Aku tak tahu Bu!"jawab Reno santai.
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu?"omel Marni.
"Bu, kerja sama kita dengan Jaya Grup tidak gagal. Mengapa bisa rugi?"
"Ibu pikir selama ini Reno tidak fokus?"
"Bukan begitu,sejak wanita itu kecelakaan kamu kelihatan lebih murung dan diam,"ujar Marni.
"Ibu tak usah menyebut namanya!"sentaknya."Kami tidak ada hubungan apa-apa lagi, orang tuanya tidak menyetujui hubungan kami. Ibunya sudah tahu masa lalu ayahnya!"jelasnya dengan mata berkaca-kaca.
"Nak!"panggil Marni lirih.
"Tujuan memisahkan kami berhasil, sekarang aku ikutin mau Ibu termasuk menikah dengan pilihanmu!"ucap Reno."Aku pergi kerja,Bu!" pamitnya.
Ibu menelepon Mischa dan mengajak bertemu, akhirnya wanita muda itu ke rumah Marni.
"Ada apa,Tante?" tanya Mischa setibanya di rumah ibunya Reno.
"Kamu ke mana saja?"
"Aku pengen menyendiri aja,Tante."
"Reno dan Arina putus,"ucap Marni.
Mischa tersenyum kecut,"Lalu?"
"Kamu punya kesempatan bersama dengan Reno,"ujar Marni.
"Tidak,Tante. Reno tidak mencintaiku. Aku salah pernah berharap dengannya,"ucapnya lirih.
"Kamu harus menikah dengannya, karena aku tak mau dia kembali bersama wanita itu!"ungkap Marni.
"Kenapa? Mereka saling mencintai,"ujar Mischa.
"Kamu tak perlu tahu alasanku,"tutur Ibu Reno.
__ADS_1
"Aku tak mau sebelum Tante memberi tahu alasannya,"desaknya.
"Kamu mau rumah orang tuamu kembali lagi?"
Mischa terdiam dan menatap Marni.
"Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Lidya."
"Tante Lidya?"tanya Mischa.
"Kalian punya utang dengannya,jadi rumah kamu yang menjadi barang jaminan,"jelas Marni.
"Jadi dia menceritakan semuanya?"
"Iya!" Marni menjedakan ucapannya."Jika kamu mau menikah dengan Reno,saya akan bantu melunasi utang kepada Lidya,"lanjutnya.
Mischa tampak berpikir sejenak lalu ia berkata,"Jika Reno menolak, bagaimana?
"Biar itu menjadi urusanku,"ucap tegas Marni.
"Beri aku waktu untuk berpikir,Tante!"pintanya.
"Saya beri waktu kamu seminggu untuk berpikir, lebih cepat lebih baik. Kecil kemungkinan ia akan kembali pada wanita itu dan rumahmu segera kembali,"jelas Marni .
Sore harinya, Mischa mencoba menelepon Rayyan tapi panggilan telepon darinya tidak di angkat.
"Ke mana dia?"gumamnya. "Apa dia masih di rumah itu?"ucapnya lirih."Bagaimana kondisi wanita itu? lanjutnya membatin.
Mischa pergi ke alamat rumah yang pernah di berikan Rayyan . Namun,dia tak menemui lelaki itu.
"Aku harus memberi tahu semuanya sebelum pernikahan ini terjadi,"gumamnya."Tapi aku tak mau di salahnya sepenuhnya karena aku tak menginginkan ini!"batinnya.
...****************...
Seminggu berlalu, Mischa mencari Rayyan ke sana kemari. Puluhan pesan di kirimnya dan berulang kali meneleponnya tapi Rayyan tak menggubrisnya. Sampai akhirnya Rayyan yang mengirimkan pesan untuk bertemu.
"Ibunya Reno memintaku menikah dengan anaknya,"ucap Mischa.
"Bukan itu yang kamu mau,"sahut Rayyan santai.
"Aku mengundurkan diri dari rencana pernikahan ini,"ujarnya.
"Hei, kesempatanmu bersama pria itu terbuka lebar. Kenapa tak di terima saja?"
"Reno mencintai wanita itu,aku tak tahu di mana wanita itu!"ucapnya lirih.
Rayyan tidak memberi tahu jika Arina bersamanya,
"Semua sudah terjadi!"ucap lelaki itu.
"Ini belum terlambat Ray, mereka bisa kembali bersatu,"ucapnya semangat.
"Kamu bilang Ibunya tidak setuju?"
"Iya,Tante Marni tidak menyetujui hubungan mereka. Aku tidak tahu alasannya. Oh,ya selama ini kamu di mana?"
"Aku yang mencarimu selama ini,sejak kejadian itu seakan menghilang. Aku cuma bilang wanita itu lumpuh!"ujar Rayyan.
"Apa!"Mischa terkejut."Aku tidak mau terlibat masalah ini,"ucapnya panik.
"Hei, dengarkanlah aku! Semua akan baik-baik saja, selama kamu mau menuruti permintaan wanita tua itu,"jelas Rayyan." Andai saja dulu kamu mau menerima aku ,kejadian ini tak akan terjadi!"batinnya.
"Aku buru-buru, minumannya sudah ku bayar dan maaf aku tak bisa mengantarmu,"ucapnya berlalu melihat arlojinya.
Mischa hanya mematung melihat punggung Rayyan yang telah menghilang .
__ADS_1