
Malam ini Rayyan sengaja mengajak Marni,Reno dan Rania makan di restoran. Walau mertua Mischa tahu jika ini adalah usaha milik menantunya.
Arina tersenyum kikuk saat berhadapan dengan Reno, suaminya hanya tersenyum tipis ketika tanpa sengaja
mata dari mantan kekasih istrinya mencuri pandang.
Walau sekarang Rayyan tahu jika Reno sangat menyesal telah menyia-nyiakan sahabatnya itu.
"Ada acara apa kalian mengundang kami?"tanya Reno.
"Hanya menjalin silaturahmi saja demi Rania,"jawab Rayyan."Selain itu aku juga ingin menunjukkan seseorang,"jelasnya lagi.
"Seseorang?"Marni dan Reno saling pandang.
"Seperti Tante bilang kemarin bahwa ada seorang gadis yang mirip dengan Mischa,"tutur Rayyan.
Tak lama sekitar 10 orang menghampiri meja yang tak jauh dari meja yang ditempati Rayyan. Tampak seorang pria dan wanita saling bergandengan tangan dan tersenyum.
"Mira,dia yang mirip dengan Mischa."Ucap Reno.
"Benar sekali,dia mirip menantuku."Marni merasa tidak percaya."Tapi siapa pria itu?"tanyanya lagi.
Arina pun bangkit dan mendekati meja Mira."Selamat malam,selamat datang di restoran kami!"sapanya.
"Malam juga,"jawab Mira begitu juga dengan yang lainnya ikut tersenyum.
"Semoga kalian menyukai hidangan yang kami tawarkan,"ujar Arina tersenyum."Jika ada yang kurang berkenan bisa sampaikan kepada saya,"lanjutnya lagi.
"Terima kasih,Nona."Jawab Mira.
Arina membalas dengan senyuman. Lalu ia kembali duduk bergabung dengan suaminya. Mata Reno sempat saling beradu pandang dengan Mira dan gadis itu hanya tersenyum.
"Ini restoran kalian?"tanya Reno.
"Sebenarnya bukan,kami hanya menjalankan amanah saja,"jawab Rayyan.
Makanan pun terhidang di meja makan Rayyan begitu juga dengan Mira. Tepukan meriah terdengar dari arah meja keluarga Mira. Ternyata gadis itu sedang di lamar oleh kekasihnya. Tampak mereka berdua berdiri dan pria itu menyematkan cincin di jari Mira. Gadis itu bahagia dan memeluk kekasih hatinya.
Wajah Reno terlihat tak semangat melihat gadis yang mirip dengan istrinya itu harus di lamar pria lain. Dia menghela nafasnya. Rania berada di pangkuan Arina menunjuk ke arah Mira.
"Tidak boleh sayang,kita di sini saja!"ucap Arina membujuk Rania.
Balita itu terus merengek minta bersama Mira dan akhirnya Reno berdiri ia mengambil alih Rania dan menggendongnya kemudian turun ke lantai bawah.
Rayyan dan Arina mengikuti langkah Reno bersama putri kecilnya.
"Biarkan saja agar Rania tak merengek bersama wanita itu!"ucap Marni.
Rayyan dan Arina kembali melanjutkan makannya.
Selesai makan malam,Reno dan ibunya beserta Rania kembali ke rumah. Di perjalanan pulang Marni mencoba berbicara pada anaknya."Tidurlah di rumah Ibu."
Reno menoleh melihat ibunya seakan tidak percaya.
"Kamu bisa tidur dengan Rania,"ucap Ibu."Pasti kamu menginginkan seharian bersamanya,"imbuhnya.
"Bukan sehari saja,Bu. Tapi sampai ia menemukan jodohnya,"sahut Reno.
__ADS_1
"Menikahlah!"ucap Marni memberikan saran.
Reno tersenyum lalu berucap,"Aku tidak bisa,Bu!"
"Kenapa?"
"Rasa bersalahku pada Mischa terlalu besar,Bu."
Marni mengelus punggung tangan anaknya itu dan tersenyum tipis.
...****************...
Pagi ini Rania membangunkan tidur Reno. Semalam Marni mengijinkan putranya tidur bersamanya.
"Anak Ayah sudah bangun?"tanyanya pada putri kecil mengucek matanya.
Rania mencoba turun dari ranjang,namun di cegah Reno.
"Ayo, Ayah gendong saja!"ucapnya mengangkat tubuh putrinya dan keluar kamar.
Reno menyerahkan Rania pada pengasuhnya dan ia kembali masuk ke kamar membersihkan diri.
Selesai mandi,Reno berkumpul dengan ibunya di meja makan tak ketinggalan putri kecilnya.
"Nak,ada yang ingin ibu katakan."
"Katakan saja ,Bu!"sahut Reno mengoles selai pada rotinya.
"Restoran yang kita kunjungi semalam adalah milik Mischa."
Reno menghentikan mengunyah dan menatap ibunya.
"Ya."
"Aku tahu Mischa begitu marah denganku sampai ia tak pernah memberi tahu semua tentangnya. Rental dan restoran itu bahkan kehamilannya saja ia tak pernah memberitahuku,"ungkapnya sedih.
"Nak!"
"Aku tak peduli dengan itu semua. Sekarang fokus hanya pada Rania,"ucap Reno menatap buah hatinya.
"Jadi kamu tidak akan menikah lagi?"
"Tidak,Bu!"ucapnya tegas."Aku sudah bahagia dengan adanya Rania,"lanjutnya lagi.
Marni meneteskan air matanya.
"Bu,kenapa menangis?"
"Andai Mischa masih ada dan memberikan sayangmu padanya pasti dia akan bahagia,"ucap Marni.
"Mischa sudah tenang,aku akan menebus semua kesalahanku dengan merawat dan menyayangi Rania,"ungkap Reno.
Rania menarik-narik kaos yang digunakan ayahnya.
"Nanti kita main lagi,kamu mau ke mana?Biar Ayah temani ke manapun,"ujar Reno mencium pipi putrinya.
"Nanti kita jalan-jalan lagi,"ucapnya lagi.
__ADS_1
Sesuai janjinya ia membawa Rania, mereka duduk di kursi belakang sedangkan pengasuh di depan bersama sopir.
Belum sampai tempat tujuan mobil mogok. Kendaraannya harus ke bengkel."Nak,kita harus perbaiki mobil,baru kita jalan lagi,"ucapnya membujuk Rania biar tak rewel.
Sementara itu Agnes merasa kesal mobilnya harus mogok lagi padahal ia akan menikmati liburan akhir pekan rumah saja terpaksa ia harus ke bengkel.
Bengkel yang menjadi tempat langganannya tutup akhirnya tetangganya merekomendasikan tempat yang biasa menjadi langganan tetangga Agnes.Ia pun ke bengkel tersebut.
Tanpa sengaja mereka bertemu di tempat yang sama."Tuan!"sapanya.
"Hei,kamu?Maaf siapa?Saya lupa namanya,"ucap Reno.
"Astaga,ini orang belum tua juga sudah lupa."Batinnya."Nama saya Agnes,Tuan!"jawabnya.
"Oh, iya. Ternyata kita jumpa di sini,"ucap Reno.
Agnes hanya tersenyum nyengir,"Ini putrinya,Tuan?"
Reno menjawab dengan tersenyum.
"Nama kamu siapa cantik?"
"Rania,"jawab sang ayah.
"Bagus namanya, pasti ibumu orangnya cantik!"
"Dia sangat cantik,"sahut Reno.
Agnes merasa bangga seorang pria memuji istrinya."Pasti anda bahagia memiliki istri sepertinya."
"Saya bahagia sekali,"ucap Reno dengan wajah sedih.
"Aduh..apa aku salah bicara? Wajahnya kok sendu begitu,"batin Agnes kembali berucap."Anda tidak apa-apa,Tuan?"tanyanya.
"Tidak,saya duluan 'ya,"pamit Reno karena sopir pribadinya datang.
"Oh,ya.Tuan! Bye Rania,"ucap Agnes melambaikan tangannya pada putri kecilnya pria itu.
Rania pun membalas lambaian tangan dari Agnes.
"Aku siap kok jadi ibu sambung putrimu,Tuan!"batin Agnes berharap.
"Nona! Mobilnya sudah selesai,"ucap montir.
"Oh,iya. Berapa?"
Montir pun menyebutkan angka dan Agnes menyerahkannya kemudian pergi meninggalkan bengkel.
Setelah dari bengkel Reno sengaja membawa Rania ke pemakaman Mischa.
"Ini Mama!"ucap Reno pada Rania."Putri kita cantik seperti kamu, terima kasih sudah melahirkannya. Sekali lagi maaf aku tidak membahagiakanmu selama kamu hidup. Aku janji akan menjaga dia sampai ia menemukan pria yang benar-benar mencintainya dengan tulus,"ujarnya berjanji di depan makam istrinya itu.
Reno kembali menggendong putri kecilnya itu berjalan meninggalkan pemakaman.
......................
...****************...
__ADS_1
Kisah Rania ada di judul 'Calon Istriku Musuhku'.