
Pukul 9 malam. Widi tiba di rumah Iren, karena mereka akan mengerjakan tugas kelompok bersama.
"Ya ampun Widi. Kamu serius datang! Aku kira kamu cuma bercanda hehehe." ucap Iren menggoda Widi, sebelum mempersilahkannya masuk.
"Enggak dipersilahkan masuk, malah dibully!" sahut Widi mengerutkan dahinya.
"Kamu tuh cepat banget marah. Heran deh aku! Yasudah ayo masuk aja. Biasanya juga enggak pakai permisi kok hahaha." kata Iren kembali menggoda Widi.
Widi tidak menjawab Iren dan langsung mendorong bahu Iren dengan pelan, yang berdiri di depan pintu dan terus menggodanya.
"Yasudah kamu sudah sampai mana ngetik datanya? tanya Widi.
__ADS_1
"Aku belum pindahin sih, baru aku kasih tanda aja mana yang akan aku ketik pertama." jawab Iren.
"Tapi gini Di, sebelumnya kamu jangan marah yah. Aku mau izin nih, enggak ngerjain dulu. Hmm maksud aku gini." ucap Iren terbata-bata tidak jelas.
"Apasih! Ngomong aja langsung. Enggak usah berbelit-belit gitu." kata Widi bernada kesal
"Besok kan libur sekolah karena tanggal merah, jadi gini Di.. Aku mau pergi sama Mas Rudi ke Pantai Marina, katanya ada acara keluarganya disana, makanya dia ajak aku juga." ucap Iren pelan, sambil mengerutkan dahi dan memasang wajah manjanya.
"Jadi maksud kamu gimana? To the point aja, bisa kan?" ucap Widi semakin kesal karna Iren yang sangat bertele-tele.
"Yasudah! Aku pulang dulu." ucap Widi langsung keluar dari rumah Iren karena sangat marah. Widi terus menahan kemarahannya, karena ia tidak mau mengganggu orang rumah Iren yang sudah tidur.
__ADS_1
Iren mengejar Widi ke teras rumahnya. Tetapi Widi memulai pembicaraan duluan, ia sudah sangat menahan emosinya.
"Aku enggak habis pikir, kenapa kamu bisa secinta itu sama Rudi! Kamu tidak tahu bagaimana sebenarnya dia kan? Kamu akan menyesal Iren! Benar-benar menyesal!" ucap Rudi dengan suara bergetar penuh emosi, mengepalkan tangannya.
"Widi cukup! Kita memang sahabat. tapi, kamu sama sekali enggak pantas menentukan orang yang pantas ataupun tidak pantas untuk aku! Urus saja hidupmu sendiri. Perbaiki dirimu, jangan sibuk dengan hidupku!" tegas Iren bersuara lantang.
"Ingat! Jangan menjelekkan mas Rudi lagi di depanku. Kamu itu teman macam apa? Mas Rudi itu teman kamu. Aku diam bukan berarti aku menerima semua omonganmu yang seolah mau menjelekkan mas Rudi! Aku bisa berubah menjadi sangat membenci kamu Widi!" sambung Iren memaki Widi lalu berlari masuk ke rumahnya dengan air mata yang begitu deras membasahi pipinya.
Iren juga tidak menyangka bisa berbicara sekasar itu pada sahabatnya. Orang yang selalu ada saat dia sedih, orang yang selalu mendengar keluhannya saat menghadapi masalah, orang yang selalu memperhatikannya saat dia sakit. Perasaan Iren kacau, ia tak bisa menahan kesedihannya.
Iren tak berbicara apa pun lagi setelah pertengkarannya dengan Widi. Widi pun tak pernah memandangi Iren lagi setelah dimaki oleh Iren hanya karena orang yang baru dia kenal.
__ADS_1
Perasaan Widi sangat hancur, hatinya sakit dan matanya berkaca-kaca. Iren yang merupakan sahabatnya, bisa berbicara sekasar itu. Padahal Rudi hanya orang baru yang masuk dalam kehidupan Iren. Widi merasa sangat sia-sia, maksudnya hanya ingin melindungi Iren. Tapi, Iren sama sekali tidak menghargainya, Iren sama sekali tidak mempercayainya. Tak terasa air mata Widi yang sejak tadi tergenang akhirnya menetes. Widi pun akhirnya pulang dengan beribu tanya dalam hatinya. Kenapa Iren? Kenapa kamu berubah seperti ini? Kamu tidak bisa melihat sisi lain dari Rudi.
*****