
Praang...
Tanpa sengaja Agnes menjatuhkan vas bunga yang ada disamping pintu ruangan atasannya.
"Siapa di sana?" teriak Satria. Pria itu berjalan membuka pintu ruangan kerjanya. "Kau!" ucapnya.
"Maaf, Tuan!" ucap Agnes panik. Beberapa hari ini ia ditugaskan oleh Wisnu sebagai sekretarisnya Satria. Karena perusahaan yang dipegang Mayang diambil alih oleh suaminya jadi terpaksa harus menjadi bawahan dari adik kandung Sarah.
"Sejak kapan kau di situ?" tanya Satria menatap tajam.
"Hemm...baru saja, Tuan."
"Kau tidak mendengar percakapan kami, kan?" tanya Satria lagi.
"Benar, Tuan. Saya tidak mendengarnya," jawab Agnes.
"Sayang," panggil mesra Kesya pada kekasihnya. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Ini sekretaris yang tak tahu diri, mencoba menguping percakapan kita," ujar Satria.
"Tuan, saya tidak sengaja mendengarnya. Lagian juga kenapa pintunya tidak ditutup?" Agnes membela diri.
"Kamu pecat saja dia, sayang!" usul Kesya.
"Kalau aku bisa dari kemarin sudah ku pecat wanita ini," ucap Satria kesal. "Sudah sana pergi, mau apa lagi di sini?" usirnya.
"Maaf, Tuan. Saya mau memberikan laporan ini," Agnes menyodorkan dua berkas.
Satria mengambil kasar berkas yang diberikan Agnes "Sudah sana!" usirnya kasar.
Agnes kembali ke meja kerjanya dengan hati kesal. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalau tidak butuh pekerjaan, aku tak mau dipindahkan ke sini," gerutunya.
*
*
Satria kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya disusul Kesya dibelakangnya.
"Sayang, kamu kenapa benci sekali dengan sekretarismu itu? Jika memang tidak suka, katakan saja langsung pada Paman Setya," ucap Kesya.
"Aku tidak bisa memecatnya, dia utusan adik iparnya Kak Sarah."
"Tapi kamu pimpinan di sini, jadi berhak memilih karyawan siapa saja," ujar Kesya.
"Entahlah, aku tidak bisa memecat atau memilih karyawan sesukaku," ucap Satria.
"Apa mereka belum sepenuhnya percaya padamu?"
"Aku tidak tahu," jawab Satria.
"Kamu harus cari tahu, sayang."
"Iya, nanti aku bicarakan pada Papa."
"Hm... sayang, aku pingin belanja deh. Sebulan ini kita tidak ada jalan-jalan ke mall," ucap Kesya yang bergelayut manja di lengan Satria.
"Aku belum ada waktu, Kesya. Kamu belanja sendiri saja, mau?"
"Aku maunya sama kamu, tapi jika kamu tak sempat tidak apa-apa," jawab Kesya dengan gaya manja.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu. Ini aku beri kamu uang, pergilah berbelanja!" ucap Satria menyodorkan 50 lembar uang seratus.
Kesya menerima uang tersebut dan tersenyum. "Terima kasih, sayang!" ia mencium pipi Satria.
"Ya."
"Aku pergi dulu, ya!" Kesya pun keluar dari ruangan Satria.
__ADS_1
...****************...
"Jelaskan ini pada Papa!" ucap Setya mencampakkan kertas laporan di meja kerja putranya.
"Aku cuma meminjamnya, Pa."
"Kamu meminjam uang perusahaan sebesar ini?" tanya Setya mulai kesal.
"Ini kecil, Pa."
"Kamu tahu betapa susahnya kakak iparmu dan Wisnu membangun kembali perusahaan ini," ujar Setya mulai tersulut emosi.
"Tenang dulu, Pa!"
"Bagaimana Papa bisa tenang, kamu kemanakah uangnya?"
"Untuk Kesya."
"Wanita itu lagi, apa kamu tidak bisa menjauhinya?" pinta Setya.
"Pa, aku mencintainya. Wajarlah kalau dia bisa menikmati hasil kerjaku," ucap Satria santai.
"Wajar bagaimana?" sentak Setya. "Belum menjadi istri saja sudah membuat perusahaan ini hampir bangkrut," lanjutnya lagi.
"Pa, ini hanya secuil." Ujar Satria.
"Papa akan menyuruh Tio mengambil alih perusahaan ini," ancam Setya.
"Jangan, Pa!" rengek Satria.
"Papa beri kamu kesempatan lagi, jika kejadiannya seperti ini. Jangan harap kau memegang perusahaan," ucap Setya memberi peringatan.
"Satria janji, Pa."
"Satu hal lagi, kamu jangan pernah membawa wanita itu ke sini!"
"Ini perusahaan di mana kamu bekerja bukan tempat memadu kasih," ucap Setya.
"Pasti Agnes yang memberi tahu Papa," tebak Satria.
"Bukan hanya dia tapi banyak karyawan yang memberi tahu Papa," ujar Setya.
"Oke, aku tidak akan membawa Kesya ke sini." Janji Satria.
Setya pun keluar ruangan putranya lalu menghampiri Agnes. "Jika dia masih membawa wanita itu ke sini, beri tahu saya!"
"Baik, Tuan!" ucap Agnes menunduk.
Selepas Setya pergi, Satria menghampiri Agnes. Karena tadi ia melihat papanya berbicara pada sekretarisnya itu.
"Kau ke ruangan ku sekarang!" perintah Satria.
Agnes mengikuti langkah atasannya masuk ke dalam ruangannya.
"Pasti kamu yang memberi tahu Papaku kalau Kesya sering ke sini!" tuduh Satria.
"Maaf, Tuan. Saya hanya menyampaikan apa yang terjadi sebenarnya," ucap Agnes.
"Mau kamu apa? Kenapa selalu mencampuri urusanku?"
"Saya tidak bermaksud mencampuri urusan anda," ucap Agnes menunduk.
"Kau!" tunjuk Satria geram. "Pergilah!" usirnya.
Anggi membalikkan tubuhnya dan beranjak keluar.
"Tunggu!"
Wanita itu kembali membalikkan tubuhnya menghadap Satria.
__ADS_1
"Walau kamu di sini atas izin Kak Wisnu dan Kak Sarah. Jangan harap bisa sesuka hatimu. Aku masih ingat juga apa yang telah kau lakukan dulu kepada kakakku. Ku juga bisa melakukan hal yang sama," ancam Satria.
"Apa saya bisa kembali kerja, Tuan?" tanya Agnes yang malas membalas ucapan Satria.
"Ya."
*
"Sayang, besok kamu tidak boleh ke kantorku lagi," ucap Satria.
"Loh, kenapa?"
"Papaku melarangmu, jika aku melanggarnya bisa-bisa posisiku diturunkan atau dipindahkan," jawab Satria.
"Ya deh, aku mengalah. Tapi kita masih bisa ketemuan, jalan-jalan dan belanja, kan?" tanya Kesya.
"Bisa dong. Apa yang kamu minta pasti ku berikan," ucap Satria.
"Sebenarnya aku ingin kamu menikahiku," ujar Kesya manja.
"Sabar, sayang. Papa belum mengizinkan kita bersatu," ucap Satria.
"Sampai kapan bersabar, jika aku diambil orang lain kamu mau?"
"Aku tidak akan membiarkan pria lain merebut kamu," jawabnya.
"Aku tunggu janjimu, sayang!" ucap Kesya.
...***************...
"Mayang, aku tidak mau lagi jadi sekretaris Satria!" ucap Agnes kesal dengan sedikit berteriak.
"Memangnya kenapa lagi dengan dia?" tanya Mayang yang lagi menyuapi anak keduanya.
"Kau tahu, dia menuduhku memberi tahu Paman Setya kalau kekasihnya itu sering datang ke kantor."
"Padahal bukan kau saja yang memberitahunya?" sahut Mayang.
"Nah, itu. Tapi dia begitu benci kali denganku, apa lagi itu pria selalu mengungkit masalah kita berdua yang menjebak kakaknya," ungkapnya. "Itukan masa lalu, tapi dia selalu mengingatnya, aku jadi merasa bersalah dengan Kak Sarah," ucapnya menyesal.
"Tapi Satria denganku, sikapnya biasa saja. Kami saling mengobrol dan tidak ada tanda-tanda kalau dia membenciku," ujar Mayang.
"Itulah, apa kamu sudah menikah dengan Wisnu makanya dia rada segan begitu," ucap Agnes.
"Entahlah, tapi bisa jadi juga."
"Tapi, kenapa sikapnya dia kepadaku berbeda?"
"Mungkin dia suka denganmu," tebak Mayang.
"Kalau memang suka tidak begini juga, Mayang!" protes Agnes.
"Kamu yang sabar, ya!"
"Sampai kapan?"
"Aku tidak tahu," Mayang menaiki bahunya.
"Tolong, bilang pada suamimu. Untuk pindahkan aku ke mana gitu. Jangan dengan Satria," mohon Agnes.
"Aku tidak ada wewenang, yang berhak itu Kak Tio dan suamiku." Ujar Mayang.
"Tolonglah, sahabatmu ini!" rengeknya.
"Aku sarankan kepadamu untuk banyak berdoa dan bersabar," ucap Mayang tersenyum.
"Dari awal aku bekerja dengannya selalu berdoa," gerutunya.
Mayang hanya bisa tersenyum melihat kegelisahan sahabatnya itu.
__ADS_1