
Mario harus bisa menahan perasaan nya untuk tidak melakukan hak yang akan membuat nekat dengan keputusan nya lagi .
Seperti biasa pagi pagi Sesil sudah cantik wangi parfum dengan bedak babynya. Lea dengan telaten telah mengurusnya.
"Anak Mommy sudah cantik!" Lea dengan gemas menciumi pipinya.
Mario yang kebetulan melihat hal itu hatinya terasa menghangat. Desir desir kerinduan nya kini menyeruak rasanya begitu ingin melabuhkan perasaannya.
Namun kini di hati Lea masih ada satu nama yang Mario sendiri harus kuat untuk bersaing dengan orang yang sudah tiada.
"Sayang?!" Mario mendekati putrinya.
Menggendong dan menciumi pipinya, "Harum wangian putri Daddy" puji Mario dengan senyum nya.
"I Love You Daddy" seperti biasa Sesil akan menyambut papanya dengan kalimat sakti nya itu.
"Love you Too!" ujar Mario yang di dengar oleh Lea. "Apakah I Love You mu hanya untuk Daddy tidak juga untuk Mommy?" Mario melirik sekilas ke arah Lea.
Lea hanya menatapnya dengan wajah datarnya tanpa senyum nya yang selalu dia berikan untuk Sesil.
"Ayo kita sarapan!" Mario selalu mengajak mereka ke meja makan dengan Sesil dalam gendongan nya.
"Hari ini biarkan Daddy yang menyuapi mu,ayo" Mario memberikan sesendok bubur ayam kesukaan Sesil.
"Aku ingin makan di suapi mommy!" tolak Si kecil mungil itu.
"Biar aku yang menyuapinya agar kamu tidak terlambat untuk ke kantor" Lea mengambil sendok dari tangan Mario.
Namun bukan sendok yang di pegang tapi tangan Mario. Hal itu membuat Mario menarik Lea ke dalam pelukannya.
Mario terkekeh melihat Lea yang melotot kepada nya. Sambil berusaha melepas pelukan Mario dari tubuh nya.
"Apa yang kamu lakukan?" Wajah itu menatapnya tajam.
"Memeluk mu, aku kangen kamu!" bisik Mario menggoda.
"Tidak boleh ada kontak fisik" ketus Lea menepis tangan Mario.
"Siapa yang memegang tangan ku?" Mario terkekeh mendengar apa yang di katakan Lea.
Wajah Lea kini cemberut menatap horor pada Mario. "Ada anak kecil jangan pasang wajah seperti itu" Mario berkata lalu mencium pipi putri nya
Mata bulat kecil itu menatap Daddy dengan Mommy sambungnya bergantian.
"Daddy ke kantor dulu jangan nakal sama Mommy ya" Mario beranjak pergi.
Seperginya Mario, Lea menghubungi Malik untuk mengantarkan Lea ke rumah sakit.
Setelah setengah Jam yang di tunggu akhirnya datang. Malik dengan penampilan nya yang menarik tampan dan mempesona.
Tapi sayang di mata Lea Malik hanyalah seorang sahabat baginya. Dan Malik pun memaklumi hal itu.
Tidak ada bisa menggantikan posisi Oscar di hati Lea. Cinta dan kasih sayang Oscar hingga saat ini masih ada di hati Lea.
"Halo cantik!" Malik menowel hidung Sesil. "Hari ini Uncle akan menemani mu ke dokter, kita periksa kaki mu ya" Malik sempat mencium pipi gembul bocah mungil itu.
"Terima kasih uncle!" Sesil menampilkan senyum manis nya.
Mereka berdua membawa Sesil kontrol ke dokter ahli tulang. Siapa lagi dokter nya kalau bukan Reno kakak iparnya.
"Lho kok bukan Papa nya yang datang? apakah dia tidak akan cemburu nantinya, Mario itu cemburuan lho" goda Reno melihat Lea bersama Malik.
Lea hanya tersenyum mendengar Apa yang di katakan Kakak iparnya itu. Reno lalu menjalankan tugasnya periksa kaki Sesil.
__ADS_1
Setelah dari dokter Malik mengajak Lea dengan Sesil untuk singgah di sebuah restoran untuk makan siang, kebetulan hari sudah siang saat nya jam makan siang.
"Nah sekarang Uncle traktir kalian, kita makan siang setelah itu kita bertiga pergi jalan jalan gimana apakah non sesil setuju?" Malik menatap Sesil yang ada di dalam pangkuan Lea yang duduk di sampingnya.
Malik dengan senang hati mengantarkan pujaan hatinya ini bersama dengan anak dari suami kontak nya.
Mereka sampai di sebuah restoran di mana saat itu Mario ada di sana. Mario yang kebetulan sedang makan siang bersama di kliennya.
Pria itu kaget ketika melihat Lea yang baru masuk dan Mario lebih kaget lagi melihat Putrinya di gendongan Malik.
Mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang sedang berbahagia bersama anaknya. Hal itu membuat hati Mario terasa panas.
Mario menatap tajam ke arah di mana Lea bersama sesil, serta Malik yang setaunya pria itu juga menyukai Lea.
Kalau saja Mario tidak bersama dengan klien pentingnya saat ini. Dia sudah akan menghampiri meja mereka dan mengambil anak nya yang berada di pangkuan Malik dengan Lea yang sedang menyuapinya makan.
Sesil sendiri terlihat sangat senang dan gembira bisa makan seperti ini dengan Uncle dan Mommy nya.
Selama ini Mario terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga jarang dia punya waktu untuk bermain atau sekedar jaman jalan dengan anaknya itu.
Mario yang melihat anak dan istrinya pergi dengan laki-laki lain merasa sangat marah. Hatinya bagai tergaruk-garuk, wajahnya yang tadi biasa kirimin merah karena menahan amarahnya.
kepalanya terasa panas dan hati yang terasa mendidih ingin rasanya dia mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada di situ kalau tidak bersama klien nya saat ini.
Dandy yang melihat hal itu malah Barbie sedang tersenyum kepada Mario "
"Slow bos ,,,,slow!"
Mario yang sudah tidak fokus lagi dengan meeting nya ini, segera dia membiarkan Dandy untuk mengurus segala sesuatunya. karena dia sudah tidak lagi fokus hatinya kini seperti digaruk garuk terasa sakit.
Beginilah rasanya kalau orang yang di cintai malah pergi dengan lelaki lain. Mario seakan takut kehilangan Lea untuk yang kesekian kalinya.
Mata Mario masih fokus ke arah Lea dan malik bersama Sesil putrinya. Kalau saja ini bukan di tempat umum Mario sudah ingin menghajar laki laki itu.
"Dia teman baik Lea setelah Kornel, teman Oscar"
Suara Dandy menyadarkan Mario dan membuat dia merasa kalah lagi.
"Apakah mereka pacaran?" Tanya Mario serius.
"Kalau itu persoalan nya kamu tanya kan sendiri sama Lea. Aku tidak tau karena aku aku bukan bapak nya" seloroh Dandy senyum penggoda Mario.
Dandy tau sahabat yang merangkap bos nya ini sedang cemburu berat.
"Jangan terlalu Jalous!"
"Kamu tidak di posisi aku Dan! maka kamu tidak pernah merasakan hal itu!" ucapnya sakit.
"Kamu harus bersabar dan bisa merebut kembali hatinya"
"Akan ku coba, tapi jika memang Lea memilih Malik aku terpaksa harus merelakan itu" Desahnya putus asa.
Siapa sih yang tidak sakit melihat oleh yang di cintai nya bersama orang lain, melihat nya seperti sedang berbahagia.
"Jangan pesimis begitu Bos, tau aja suatu saat cinta nya ada untuk mu lagi, pelan pelan"
Dandy terus memberikan semangat, mereka berdua kini sudah di jalan.
"Antar kan aku pulang!" Ujarnya.
"Baiklah"
Mario memilih untuk pulang ke rumah rasanya dia tidak sabar untuk bertanya soal Malik.
__ADS_1
"Ingat bos! jangan bertindak bodoh' pesan Dandy lalu balik ke kantor.
Kalau sudah begini urusan kantor Dandy yang akan sibuk lagi, beruntung ada Dandy yang bisa di andalkan.
Rumah tampak lengang saat Mario masuk, seperti nya mereka belum pulang. Matik naik ke lantai atas.
Membuka pintu sebuah kamar di mana terdapat foto pernikahan nya dengan Lea beberapa tahun lalu.
Ini kamar mereka saat mereka kembali rujuk dan Mario masih menyimpan semua barang barang milik Lea.
Di rumah ini tidak ada yang berubah semua masih tetap seperti dulu. Di mana dia pernah merajut hari hari indah bersamanya.
Mario memejamkan matanya, perih yang terasa kini. Perih terasa kini melanda di jiwa nya, jiwa yang seakan begitu lelahnya menunggu waktu yang cukup panjang untuk bisa mendapatkan kembali hati wanita yang memporak-porandakan kehidupan nya.
Mario berada di kamar itu hingga hari menjelang sore. Dari sana dia dapat melihat sebuah mobil berhenti di depan pintu pagar.
Di lihatnya Lea turun sambil menggendong Sesil dan melambai dengan wajah ceria ke pada sang pemilik mobil yang Mario tau itu Malik.
Rasa sakit dan cemburu memenuhi hatinya dan dia bergegas turun. Hati nya seakan panas hingga wajahnya memerah menahan kemarahannya.
"Dari mana saja kalian?" Tanya Mario dingin.
Mario lalu mengambil Sesil yang tertidur dari gendongan Lea. Dia membawa anaknya itu ke kamar nya.
Lea tertegun menatap wajah Mario yang seakan marah kepadanya. Lea menarik nafasnya menghembuskan pelan lalu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah menidurkan Sesil, Mario lalu masuk ke dalam kamar Lea.
"Lain kali kalau kamu ingin pergi dengan laki laki lain jangan bawa bawa anak ku besama kalian" ujar Mario yang tidak bisa menahan hatinya.
Nada suara nya terdengar dingin dan penuh kemarahan. Lea menatap nya melihat wajah tidak bersahabat Mario Lea melangkah akan keluar dari kamar nya.
Namun Mario mencekal kuat lengannya, hingga Lea merasa sakit. Mereka kini berhadapan dan Lea menatap tajam kearah Mario.
"Lepaskan tanganmu jangan sentuh aku!"
"Kemana saja kamu pergi membawa sesil?" Mario melepaskan tangannya. "Kalau kamu ingin pergi dengan laki laki itu jangan bawa bawa Sesil karena dia bukan anak mu" tandas Mario.
"Ya .,,,Kamu benar Sesil bukan anak ku! tapi aku bertanggung jawab atas kesembuhan nya, karena aku telah menyebabkan putri mu itu cacat, asal kamu tau aku pergi ke dokter mengecek kaki anak mu dan sekalian membawa Anak mu jalan jalan karena Daddy nya terlalu sibuk! hingga tidak punya waktu untuk mengajak anaknya jalan sekedar hiburan" berkata demikian Lea lantas ke luar dari kamar dan menuju garasi.
Mario tertegun mendengar apa yang di katakan Lea kepada nya. Mario tersadar ketika mendengar deru mobil Lea yang pergi.
"Lea?" Mario bergegas lari ke luar namun mobil Lea telah pergi. Mario seakan tersadar dari emosi yang membuat dia lupa kalau Lea tidak bisa di ajak bertengkar.
Mario menarik rambutnya frustasi apa yang dia lakukan sudah pasti akan membuat Lea membencinya lagi. Sifat nya yang mudah marah tidak bisa di kontrol.
Malam hari Lea baru pulang ke rumah dan mendapatkan rumah dalam keadaan gelap tak ada satu pun lampu yang menyala.
Pelan pelan Lea melangkah ke dapur hanya ada pencahayaan dari ruangan itu.
Lea tertegun melihat Mario yang tertidur di meja makan dengan kedua tangannya menopang kepalanya di atas meja.
Hatinya kini meras iba melihat Mario yang seakan tak terurus. Pria yang kini menjadi suaminya itu seakan begitu lelah dengan kehidupannya.
Mario terbangun saat merasakan ada yang menyentuh pundak nya. "Lea,apakah kamu sudah pulang,,,,,?"
*
*
*
***** Love you All ❤️❤️❤️ salam rindu ku untuk kalian. Thor terlalu sibuk dengan pekerjaan yang menyita waktu hingga jarang jarang Up.
__ADS_1