Secawan Anggur di Padang Gersang

Secawan Anggur di Padang Gersang
Mulai Cemburu


__ADS_3

Mario menatap wajah cantik di bawah tubuhnya, mengecup sekilas bibir seksi yang membuat dirinya mabuk kepayang.


Tapi sayang Mario harus bisa memendam hasrat nya memberi waktu untuk Lea. Agar wanita cantik yang menjadi istrinya itu bisa memikirkan dan mengambil keputusan yang tidak akan membuat dirinya terluka lagi.


"Tidurlah kamu pasti capek seharian tadi sibuk dari pagi,aku tidak ingin membuat mu semakin kelelahan, masih ada waktu untuk kita melakukannya nya nanti" bisiknya sambil tersenyum lalu berbaring di samping Lea.


Lea memiringkan tubuhnya menatap wajah tampan yang dulu pernah di kagumi nya. Mario mengecup sekilas bibir nya.


"Istirahat kah ini sudah larut!" bisik Mario lalu memeluknya.


Mereka akhirnya tertidur tanpa kegiatan apapun karena Mario tidak ingin Lea sampai harus kelelahan melayani hasrat biologisnya.


Karena seharian Lea sudah kelelahan mengurus acara ulang tahun putrinya.


Paginya seperti biasa Lea akan mengurus putrinya itu. Meskipun tidak melahirkan Sesil tapi Lea sudah menganggap sesil sebagai Putri nya.


"I Love you Daddy!" serunya girang.


"Love you to beb! Menerima ciuman dari papa nya.


"Love you to Momm!" memberikan kecupan mesra di pipi Lea.


"Thanks Dadd!" mendapat hadiah senyum indah dari Lea.


Mario lalu duduk di samping Lea, mencolek pipinya menggoda dan menarik tangan nya dengan nakal.


"Dadd!" Lea melotot padanya.


Mario mengedipkan matanya sambil tersenyum menggoda. Membuat Lea memukul lengannya.


"Daddy mau juga di suap seperti Sesil!" Mario mulai manja. Tangannya melingkar di pinggang Lea.


"Bentar aku urus anak nya dulu baru papa nya"


Benar saja setelah selesai dengan Sesil dan menyuruh bi Rita untuk menjaganya,barulah Lea membuat segelas kopi untuk Mario dan segelas susu hangat untuk dirinya.


Saat keduanya sedang menikmati sarapan pagi nya ponsel Lea berbunyi, panggilan masuk dari Malik.


"Pagi beb?! apakah kamu bisa temani aku hari in?" Suara Malik di sebrang sana.


"Dalam rangka?"


"Aku ada jamuan makan malam di sebuah restoran dan ku harap kamu temani aku hari ini"


Lea menatap Mario yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Mario mengangguk mengiyakan.


"Baiklah aku akan menemanimu" Lea.


"Thanks beb! ku jemput kamu siang nanti" Malik menutup panggilan nya.


"Apakah aku boleh pergi dengannya?"


"Pergilah dan ku mohon tentukan pilihan mu sekarang" ujar Mario seperti seorang pembawa acara televisi yang bertajuk pencarian jodoh.


"makasih Daddy!" Lea terdiam saat Mario telah membungkam bibir nya.


Ciuman mesra mereka kini berubah panas mengalahkan kopi buatan Lea yang masih mengepul di meja itu.


Mereka baru berhenti setelah suara Sesil menghentikan kegiatan berciuman nya.


"Daddy???" teriaknya.


"Ganggu aja!" gumam Mario.


"Hahaaaa!" Lea tertawa melihat wajah lipat Mario.


Mario menangkap tubuh mungil yang melompat ke pelukannya. Sesil seakan cemburu melihat kemesraan orang tua nya.


"Anak Daddy jangan nakal gini dong?!' Mario mencium pipi gembul menggemaskan itu.


"Daddy,,, kapan ajak Sesil jalan jalan lagi?" rengeknya.


"Tunggu sampai Sesil punya adik!" Mario melirik Lea.


"Horeeeee Sesil akan punya adik!" seru nya girang.


Lea menegang mendengar kata Mario yang akan membuat adik untuk Sesil. Apa mungkin dia bisa memberikan adek untuk sesil, sementara harus menjalani terapi lagi.


"Jangan di pikirakan aku hanya bercanda sayang?!"


Lea hanya tersenyum masam membuat Mario tertawa melihatnya. Lea menatap wajah yang semakin tampan bila tertawa seperti itu.


Wajah tampan yang dulu pernah di kagumi nya sebelum akhirnya hatinya menjadi milik Oscar hingga saat ini.


*


*

__ADS_1


*


Siang nya Malik menepati janjinya untuk datang menjemput Lea. Wanita cantik itu akhirnya pergi dengan Malik untuk makan siang.


"Bagaimana hubungan mu dengan Mario?" Tanya Malik ketika selesai makan dan mengajak Lea bersantai di pantai.


Ternyata Mario juga ada di sana, setelah Lea pergi bersama Malik, Mario malah mengikuti mereka.


"Kami baik baik saja"


"Apakah kamu punya keputusan untuk tetap melanjutkan studi mu ke Aussie?"


"Ya , aku akan melanjutkan studi ku di sana"


"Kapan kamu akan berangkat?"


"Setelah aku selesaikan dengan Mario"


"Aku akan menunggu mu!"


"Maaf kan aku Malik?! aku tidak mungkin bisa menjalani semua itu bersama mu, karena aku telah memutuskan untuk membangun kehidupan selanjutnya dengan Mario" kata Lea pelan.


"Benarkah,,? aku harap kamu bahagia bersama dengan nya, dan biarkan aku tetap menjadi bagian dari hidup mu sebagai sahabat" Malik nampak kecewa.


"Kamu akan tetap ada dalam kehidupan ku sebagai sahabat sejati kak!"


"Ijinkan aku memeluk mu untuk yang terakhir kalinya" pinta Malik sendu.


Lea membiarkan Malik memeluknya dan sempat mencium Mesra pipinya. Dan semua itu di saksikan Mario dengan darah yang mendidih.


Mario yang tidak bisa melihat Lea dengan lelaki lain memilih untuk pergi dari sana. Rasa marahnya dan cemburu membuat Mario sangat kecewa.


"Akan ku beri kamu pelajaran agar tidak menjadi wanita murahan" Geram nya.


Mario yang sudah di kuasai kemarahan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi pulang ke rumah.


Sorenya Malik mengantarkan Lea pulang di sambut Mario dengan senyum yang berusaha di buat seakan hatinya baik baik saja.


Dia tidak ingin jika nanti Sesil melihat mereka bertengkar.


Setelah makan malam Lea menemani Sesil di kamar nya.


Sementara Mario berada di ruang kerjanya melihat Email yang masuk. Hati nya sudah tidak tenang ingin marah kepada Lea.


Saat akan tidur Mario mengetuk pintu kamar Lea.


Lea tidak sempat melakukan perlawanan karena Mario telah mendorong nya ketempat tidur. menghujaninya dengan ciuman di sekujur tubuh nya.


Membuat Lea terangsang dengan ciuman nya tangannya sibuk melepaskan penutup tubuh indah itu. menyentuh bagian sensitif nya dengan lembut.


Lea yang mulai mendesah dan menggeliat saat Mario membuat nya mendamba. Mario kini menghentikan kegiatannya.


Menatap wajah cantik yang telah membuat dirinya sedang cemburu.


Mario tidak ingin Lea terpaksa melakukan semua ini, biarlah Lea dengan keputusannya, meskipun Mario sendiri harus kecewa dan merelakan Lea, seandainya Malik yang akan di pilih Lea nantinya.


"Tidur lah aku tidak ingin mengganggu mu!" bisik Mario lalu turun dari tempat tidur. melangkah ke luar dari kamar Lea.


Lea menatap kecewa saat Mario keluar dari kamar nya. Entah seperti apa perasaan nya saat ini. padahal Lea sendiri sudah pasrah jika Mario mengambil haknya sebagai suami.


Di kamar nya Mario tidak tidur dia memilih duduk di dekat jendela sambil menghisap sebatang rokok.


Ada nyeri yang kini terasa di relung hati nya, sejujurnya dia ingin melakukan apa yang harus menjadi kewajibannya sebagai suami. Memberikan nafkah lahir dan batin untuk istri nya.


Tapi pernikahan mereka hanya lah perjanjian di atas kertas yang telah di tetapkan oleh Lea.


Sekarang Sesil telah sembuh, namun Mario belum yakin dengan apa yang di lakukan Lea selama ini.


Mungkin karena rasa iba nya kepada hingga Lea harus melakoni peran pura pura nya untuk merawat Sesil.


*


*


*


Lea yang kecewa saat Mario malah pergi setelah membuat dirinya mendamba. Memakai kembali pakaiannya lalu melangkah ke luar membawa gitar kesayangannya.


Lea kini duduk di gazebo dekat kolam renang, perlahan memetik gitar nya mengalun nada sebuah lagu ungkap dari apa yang dia rasakan saat ini.


Terbayang wajah dan senyuman Oscar, kerinduan nya kepada sosok itu kembali menyeruak di ingatan nya.


Tanpa terasa air matanya kini menetes jatuh, betapa sakit nya merindukan orang yang telah tiada.


Hari hari sepi yang berkepanjangan di laluinya dan kini sunyi itu membuat diri nya merindukan belaian kasih sayang, entah pada siapa Lea harus membaringkan rindu rindu nya yang sakit.


Hati terasa sakit di saat semua telah dia pasrah kan kepada Mario. Namun Mario malah menolak setelah membuat dirinya mendamba di ambang rasa.

__ADS_1


Mario seakan mempermainkan perasaan nya setelah menyentuh tubuhnya hingga membangkitkan gairah nya sebagai wanita, dia tidak munafik bahwa dirinya kini menginginkan hal yang lebih dari sekedar sentuhan.


Mario yang masih duduk di dekat jendela terkejut saat mendengar petikan gitar yang dia tau itu pasti Lea.


"Astaga ini sudah larut mengapa dia belum tidur?" gumam Mario.


Buru buru dia keluar dari kamar menuju di mana Lea berada. Di lihatnya Lea yang sedang menangis seorang diri di gazebo.


Lea yang melihat Mario datang kepada tersenyum sinis. Meletakkan gitarnya lalu buru buru pergi saat Mario akan mendekati nya.


Mario menarik tangan Lea saat dia akan melangkah masuk. Mario langsung memeluk nya namun Lea malah melepaskan pelukannya Mario.


"Jangan sentuh aku!" bentaknya.


Mario tidak peduli dia malah mencium bibir Lea dan sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.


"Plak!"


"Aku benci kamu!"


Mario tertegun saat Lea menamparnya dan berlari masuk ke dalam kamarnya.


"Lea ,,,,Lea,,,,,Lea! tunggu!" Mario mengejarnya tapi Lea sudah mengunci pintu kamar nya.


"Lea buka pintu nya! buka Lea!" teriak Mario.


Berulang kali Mario berteriak memanggil nya namun sudah tidak ada sahutan. Dengan lesu Mario melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Merenungkan apa yang terjadi antara dirinya dengan Lea. Mungkinkah dia marah karena Mario telah lancang menyentuhnya atau kah dia teringat akan Malik?


Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan Mario yang kini frustasi dengan sikap Lea yang kini marah kepadanya.


Semalaman mereka sama sama tidak tidur hingga paginya Mario melihat Lea yang sedang bersama dengan Sesil seperti biasa di taman belakang.


Lea yang sedang menyuapi Sesil makan dan mengatakan bahwa dia akan pergi untuk beberapa hari.


"Mommy akan pergi untuk beberapa hari, mommy harap Sesil jadi anak yang pintar,jangan nakal bersama Daddy! tunggu sampai Mommy kembali oke?"


"Memangnya mommy akan pergi ke mana?" wajah polos nan imut ini menatap nya.


"Anak kecil belum boleh bertanya! tunggu sampai mommy kembali oke?!" Lea memeluk mencium pipi gembul nya.


Mario ingin berbicara dengan Lea menunggu hingga Lea selesai dengan Sesil.


"Bi tolong bawa Sesil sebentar aku ingin bicara dengan Mommy nya" kata Mario.


Sambil menuangkan air ke dalam gelas dan meneguk nya. Membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Mario menyusul Lea yang hendak masuk ke dalam kamarnya. Tapi Lea sudah duluan mengunci pintu kamar nya.


Mario menjadi bingung entah apa yang membuat Lea mendiami nya dan selalu menghindar dari nya.


Mario mengetuk pintu Lea berdiri di sana menunggu namun tidak ada respon. pintu itu masih tetap terkunci.


"Lea buka pintu nya,atau akan ku dobrak!" Mario mulai menggedor pintu kamar itu.


Lea merasa kesal membuka pintu lalu melangkah ke jendela. Berdiri di sana membelakangi Mario.


"Katakan apa yang membuat mu marah dan tidak mau berbicara seperti ini?"


Lea menatap Mario dengan kemarahan nya, pria itu kini memasukkan satu tangan nya kedalam saku celananya. satu tangannya menopang di jendela.


Anggap saja ini Mario dengan Lea yang lagi marahan .....ya!.



"Apakah semua karena Malik?" Mario menatap manik Lea.


"Berhentilah menyebut nama Malik, karena aku bukan menikah dengan Malik" Nada Lea mulai tinggi..


"Tidak menikah dengan nya tapi kamu senang di peluk dan di cium seperti wanita murahan!" bentak Mario.


"Plak!"


Satu tamparan keras mendarat di pipi Mario hingga wajahnya memerah. Tamparan Lea membuat Mario menjadi gusar dan langsung menyerang nya tanpa ampun.


Baju Lea kini di robek Mario dengan kasar dan sekali tarik membuat Lea menjerit dan kejadian selanjutnya ......


Silahkan berhalu sendiri bagaimana dan apa yang terjadi ....????


*


*


*


****** Love you All ❤️❤️❤️ Salam rindu untuk kalian******

__ADS_1


__ADS_2