
Mario semakin merasa bersalah, saat Papi dan Bunda menyalahkan Lea. Akibat ulah nya sampai menyebabkan ibunya Mario masuk rumah sakit.
"ini bukan salah Lea, semua terjadi atas kesalahan ku" Aku Mario di depan keluarga besar itu.
"Apapun masalah rumah tangga kalian selesai kan secara baik baik" Potong papi saat Mario akan jujur mengakui semuanya.
"Pikirkan kesehatan ibu kalian" Papi berkata bijak.
Lea sendiri memilih menjaga ibu mertua nya, Lea sadar karena perkataan nya yang tidak melihat seperti apa kondisi ibunya mertuanya itu.
Karena kemarahan nya kepada Mario Lea memberitahu soal gugatan cerainya.
Papa Liton pun mengadili putranya itu "Papa sudah memberikan peringatan kepada mu, tapi kamu malah lupa, seperti apa penyesalan yang papa rasakan dulu. Memang benar k.ata pepatah, Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Berkata demikian Liton lalu melangkah menuju ruang di mana mama Tiara di rawat. Dia tidak mengerti dengan pemikiran putra nya ini.
Liton melihat Lea yang sedang mengusap air matanya sambil menatap wajah ibu mertua nya yang belum sadar kan diri.
"Maaf kan Lea Ma?! Lea tidak bermaksud membuat mama seperti ini" Sesalnya.
Liton mendekat mengelus pundak Lea, "Mama akan baik baik saja, jangan menangis"
Lea menatap papa Liton lalu memeluknya "Maaf kan Lea pa! Lea telah membuat mama sakit lagi" tangis nya.
"Jangan menangis semua bukan salah mu, papa tau Mario pasti telah melakukan kesalahan, andaikan kamu tidak bisa maafkan nya. Papa mendukung mu untuk menceraikan Mario" Perkataan Papa sempat di dengar Mario saat hendak masuk.
Lelaki itu tertegun mendengar penuturan papanya, Mario masih ingin memperbaiki segalanya. Meskipun kaca yang retak tidak bisa di perbaiki. Gelas yang pecah tidak mungkin menjadi utuh.
Mario tau ibunya yang memilih Lea menjadi istri nya, wanita itu sangat berbahagia Lea menjadi menantunya. Dan Mario lah yang telah menghancurkan harapan ibunya.
Hingga wanita yang telah melahirkan dirinya itu terbaring di rumah sakit menutup mata seakan tidak ingin melihat kenyataan di mana Lea mengatakan perceraian itu.
Mario melihat papanya yang berusaha untuk tegar, Lae yang tidak beranjak dari sisi tempat tidur ibunya. Semua itu membuat Mario sadar kebahagiaan nya adalah kebahagian orang tua nya pula.
Mama yang selalu bertanya tentang kehamilan Lea, wanita itu sampai datang dan tinggal bersama mereka di apartemen hanya untuk menjaga Lea agar tidak terlalu capek bekerja biar menantu kesayangan nya itu bisa cepat hamil.
Bagaimana istri nya bisa hamil kalau Mario sendiri tidak pernah menyentuhnya. Dia malah menghabiskan malam malam indah nya bersama Jenny.
Jika papa sudah mendukung Lea untuk bercerai maka semua harapan ibunya akan sirna.
Dan mungkin keselamatan ibunya tidak akan tertolong.
"Tidak aku tidak akan membiarkan sesuatu sampai terjadi dengan mama!",. Mario bertekad untuk memulai semuanya dari awal.
Mario lalu keluar dari sana dia menuju restoran terdekat memesan beberapa kotak makanan dan juga beberapa jenis buah yang ada di samping restoran.untuk mereka makan malam di ruangan ibunya.
Mario kembali dengan makanan yang telah di belinya, meletakkan di meja dan beberapa botol air mineral.
"Papa,,,?! Lea,,, hari sudah malam,Ayo kita makan malam dulu di sini, Rio sudah beli makanan untuk kita" ujarnya.
Papa membimbing Lea ke Maja di mana Mario telah menata kotak makanan nya dengan rapi.
"Makanlah Mama akan baik baik saja" Papa memberikan kotak untuk Lea. Perhatian papa menggugah hati Lea. Tega kah dia menghancurkan impian orang tua Mario? Lea menatap Mario yang sedang manatapnya.
Pandangan mereka bertemu saling diam. Mario tersenyum, untuk yang kesekian kalinya Lea melihat senyum Mario.
__ADS_1
Lea tidak ingin terbuai dengan pesona senyuman Mario. Lelaki itu teramat tampan. Lea segera melanjutkan makan nya.
Papa yang tidak ingin menggangu segera menghabiskan makanannya, lalu pamit ke luar sebentar, ingin memberi waktu pada pasangan yang sedang di landa konflik itu.
Mario berpindah duduk di samping Lea, mengambil air mineral memberikan kepada istrinya itu.
Mario selalu tertarik menatap gaya makan Lea. dia selalu makan dengan gaya nya yang khas, anak bangsawan.
Lea tidak terlalu banyak makan, dia hanya akan menikmati sedikit makanan nya, setelah terlebih dahulu makan buah.
Mario yang tau selera makan Lea sudah menyiapkan semuanya dari buah hingga minuman nya.
Lea sendiri tidak tahu sejak awal bertemu Mario sudah memperhatikan apa saja yang dia makan.
Bahkan saat mereka bersama di apartemen Mario selalu menyediakan banyak buah di kulkas untuk Lea.
Sejak mengajak Lea di setiap pertemuan selera makan Lea tidak berubah, hingga Mario hafal betul apa apa saja yang di makan gadis itu.
Itulah salah satu sifat Lea yang menarik perhatian Mario. Setiap pulang kerja Mario masih sempat membeli buah untuk di simpan di kulkas buat Lea.
Mario juga sudah menyiapkan suatu barang yang sangat di butuhkan Lea. semua masih Mario sembunyikan di ruang kerjanya di apartemen. Dia berniat memberikan jika sewaktu-waktu Lea membutuhkan.
"Lea? bisakah kita mulai semua dari awal?" pinta Mario pelan. Mario sempat menatap ke arah mama, takut kalau mama terbangun dan melihat mereka bertengkar nanti.
"Maaf Rio, aku ingin menjalani kehidupan ku, dengan normal, menghabiskan masa muda ku dengan teman teman, selayaknya anak remaja seusia ku, usia ku belum genap delapan belas tahun. tapi aku sudah menjadi seorang wanita bersuami, rasanya lucu kalau anak sekecil aku menjadi emak emak" tuturnya.
"Baik lah kalau itu keputusan mu, jalani masa muda mu, aku akan memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mu Lea"
"Itu artinya kamu setuju kita berceraikan?" tanya Lea pelan.
"Kamu egois" Lea mulai marah.
"Lea,dengar aku dulu sayang?" pinta Mario pelan menatap lekat wajah cantik yang ada di hadapannya.
Lea tertegun mendengar kalimat sayang yang mendadak terasa indah di pendengaran nya.
Mario menatap nya seakan ingin berenang di telaga mata indahnya.
"Aku tidak akan mengusik kebebasan mu, kalau pun kamu tidak ingin kembali tinggal bersama dengan ku di apartemen. Di mana pun kamu bebas tinggal. Hingga waktu kamu lelah menjelajah dunia maka kembalilah,aku akan tetap menanti waktu di mana semua akan menjadi tujuan hidup mu"Mario berkata bijak.
Lea menatap wajah tampan yang ada di hadapannya.
namun kebekuan hati Lea membuat Lea tidak ingin berbagi cerita hidup dengan Mario lagi.
Itu semua akibat dari sifat Mario yang selalu dingin pada nya. Sehingga membuat hati Lea membeku.
"Aku akan mengantarmu pulang" Mario berdiri dari duduknya.
"Aku ingin menjaga Mama di sini" kata Lea pelan.
"Ada aku dan Papa yang akan menjaga Mama,kamu boleh datang besok, setelah beristirahat , Oke....?"
Lea terpaksa mengikuti Mario yang akan mengantarkan dirinya pulang.
__ADS_1
"Papa..?! Lea pamit pulang, besok Lea akan balik lagi ke sini"
Papa hanya mengangguk dan tersenyum,Lea masih sempat mencium tangan papa Liton sebelum pergi.
Di perjalanan pulang Lea lebih banyak melihat ke arah luar jendela,dia menurunkan sedikit kaca dan melihat lampu lampu kota yang indah di sepanjang jalan.
Mario melirik kearah nya entah mengapa dia tidak ingin bercerai dari Lea. Mario akan memberikan hak kebebasan penuh untuk Lea, dia pun tidak akan mengusik hari hari nya setelah ini.
"Pulang kemana?" tanya Mario.
"Antar kan aku ke apartemen"
"Baiklah"
Mario mengantarkan Lea ke alamat yang dituju, sampai di apartemen Lea turun tanpa kata.
Mario mengantarkan istri nya itu sampai di depan pintu.
Memastikan Lea aman barulah dia pergi "Nikmati kebebasan mu,jaga dirimu baik-baik" kata Mario sebelum pergi.
Mario berharap Lea menahannya melarang nya untuk pergi, tapi sayang Lea malah menutup pintu dari nya tanpa berkata kata.
Mario masih sempat berbalik menatap dengan raut kecewa sambil bersandar sebentar dari kejauhan.
Ada rasa kecewa saat Lea benar benar tidak mempedulikan dirinya.
Perasaan yang hampa Mario rasakan, andaikan ada sedikit rasa, Lea pasti akan menengok kepergiannya. Tapi harapan itu hanyalah hampa di gelapnya malam.
Mario lalu masuk ke mobilnya, merenung kan apa yang kini terjadi, sebelum akhirnya memacu mobilnya kembali ke rumah sakit.
Di kamar nya Lea merebahkan tubuhnya di ranjang dan mencoba menutup mata.
Membayangkan apa yang terjadi di dalam kehidupannya, Lae merasa seakan lelah.
Kalimat yang diucapkan Mario terngiang di ingatan nya. "Nikmati kebebasan mu, hingga kamu lelah menjelajahi dunia, aku akan menanti saat kamu lelah dan kembali"
"Kembali...????" desis Lea.
"Itu tidaklah mungkin, masih bersama ku saja kamu sudah selingkuh, apalagi tidak bersama lagi, selamat menikmati hidup mu, mungkin lebih cocok kamu bersama Jenny" Lea tersenyum menatap langit-langit kamarnya lalu menutup mata.
Mengurai mimpi untuk menjalani hari esok tanpa Mario, tanpa lelaki yang membuat hatinya kini membeku. meskipun ada tangis yang tidak terdengar Yang hanya bisa di tahan dalam diam.
*
*
*
*
Hay Hay Love ❤️❤️❤️ Salam manis untuk kalian semua, jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
Like dan komentar serta Vote juga jangan lupa..