Secawan Anggur di Padang Gersang

Secawan Anggur di Padang Gersang
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Lea yang kini seakan lelah dengan kehidupan nya dan akhirnya tertidur di pelukan Mario.


Selama menjaga sesil hingga sembuh Lea sebenarnya merasa capek karena kurang tidur dan sehari hari menggendong Sesil.


Pada akhirnya Lea pun ambruk dan terbaring di pelukan Mario. Dengan rasa sayang Mario membelai wajah yang terlihat menyimpan beban itu.


Mario memeluk tubuh yang kini menjadi dingin karena terlalu lama beranda di luar rumah di udara malam yang dingin.,Mario menggendong Lea membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Membaringkan Lea di tempat tidur nya Menyelimuti dengan selimut. Mario menatap wajah cantik yang kini pulas dalam tidurnya.


Ingin mencium bibir seksi yang nampak pucat itu, namun Mario tidak ingin mengganggu tidurnya.


Mario tersenyum dengan lembut membelai pipi Lea. Namun dahinya berkerut meletakkan telapak tangannya di dahi Lea.


"Sangat panas,,,Astaga dia demam!" desis Mario.


Mario jadi bingung melihat jam di pergelangan tangannya, sepertiga malam. Dia harus menghubungi dokter Vivi. Dokter keluarga nya untuk merawat Lea.


Mario sangat cemas melihat Lea yang kini sedang sakit. Pagi nya Lea mengalami muntah muntah hingga lemas.


"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" Tanya Mario setelah dokter selesai periksa Lea yang kini akhirnya tepar.


"Hanya masuk angin dan demam, perlu banyak istirahat karena dia juga kelelahan! salah satu faktor yang membuat istri mu sakit" terang dokter.


Setelah menulis resep obat yang akan di berikan untuk Lea, dokter cantik itu pamit pulang.


Mario segera menghubungi Dandy untuk ke apotek membeli resep obat untuk Lea.


"Aku akan memberitahu Papi dan bunda untuk menjenguknya mu" kata Mario yang duduk di sisi tempat tidur Lea.


"Tidak usah, jangan merepotkan mereka,aku tidak apa-apa"


Lea melarang Mario agar tidak memberitahu kedua orang tuanya, soal sakit nya. Lea tau pasti akan heboh nantinya.


"Apakah aku perlu memberitahu Malik?" ujar Mario.


"Apakah dunia perlu tau, kalau aku ini sedang sakit" kata Lea kesal.


Mario tertawa melihat kekesalan Lea, yang marah saat Mario menyebut nama Malik.


"Ya sudah kalau begitu sekarang kamu makan dulu buburnya" Mario mengambil sepiring bubur ayam yang telah di masak bi Ratih.


"Aku bisa sendiri"


Lea menolak untuk di suapi Mario, dia tidak ingin merepotkan Mario karena sakit nya ini.


"Jangan melawan biar aku suap ya?" kata Mario lembut.


Lea akhirnya hanya menurut saat Mario menyuap dirinya. Makannya pun hanya sedikit, Mario tau seperti apa porsi makan Lea.


Mario mengambil air putih di gelas yang sudah tersedia di meja dan lalu memberikan kepada Lea.


Mario menatapnya dengan tatapan matanya yang sendu, begitu menggunung rindu di hati nya, betapa semakin dalam rasa cinta nya untuk Lea.


Lea yang di tatap Mario membuat jantung nya berdebar takaruan. Mata mereka bertemu menghantarkan perasaan masing-masing.


Entah apa yang di rasakan Kea saat ini, dia tidak sanggup menatap wajah tampan Mario.


"Apakah Sesil baik baik saja?" pertanyaan Lea membuat Mario tersadar.


Belum lagi sempat menjawab pertanyaan Lea , ponsel Mario bergetar. Mario tidak menjawab pertanyaan Lea, dia buru buru mengangkat panggilan dari ibunya Karina.


"Halo? ya ada apa dengan Sesil Bu,,,,? Mario masih terdiam mendengar apa yang di katakan mantan mertua nya itu. " bawa dia ke rumah sakit sekarang Bu!" kata Mario cepat.


Terdengar percakapan Mario dengan ibu nya Karina yang membuat wajah Mario berkerut bingung dan nampak cemas.


"Sesil sakit, aku menyuruh mereka membawanya ke rumah sakit" terang Mario.


"Astaga aku akan pergi ke rumah sakit sekarang " Lea hendak turun dari tempat tidur. Namun Mario mencegahnya.

__ADS_1


"Aku tidak mengijinkan kamu untuk pergi ke rumah sakit!" tegas Mario.


"Sesil sedang sakit,aku harus menjenguknya!" Lea buru buru mengikat rambut nya hendak turun dari tempat tidur.


"Lea kamu masih sakit, kondisi mu lemah, jangan membantah!" ujar Mario.


"Tidak Rio,,,?! kamu tidak bisa melarang ku,aku harus ke sana sekarang"


Mario menatap nya dengan tajam, Lea yang aslinya memang keras kepala tidak bisa untuk di larang dan itu membuat Mario menjadi gusar.


"Milea,,,,! sekali aku bilang tidak! kamu tidak boleh pergi. Kamu itu sedang sakit,Sesil akan baik baik saja di sana. ada kakek dan neneknya" suara Mario mulai tinggi membentak Lea.


Lea tertegun menatap nya, dia tidak bisa membiarkan Sesil sampai sakit seperti itu. "Aku masih peduli sama Sesil mengapa kamu melarang ku?!" teriak Lea.


"Aku bukan tidak mau kamu menjenguk Sesil tapi kamu sedang sakit Lea?!" Sengit Mario.


"Aku hanya masuk angin dan demam tidak sakit parah!" teriak Lea tidak mau mengalah.


"Lea kalau aku masih peduli sama kamu, maka jangan melawan! jangan sampai aku tidak lagi peduli sama kamu!" kata Mario semakin di buat emosi.


"Aku tidak butuh kepedulian mu! baik lah mulai hari ini aku tidak akan peduli lagi sama Sesil, percuma selama ini aku membuang buang waktuku bersama nya. hingga mengorbankan masa depan ku!" Ujar Lea masih kekeh dengan pendiriannya.


"Milea!" ujar Mario saat Lea hendak keluar dari kamar nya.


Dandy yang baru datang membawa obat untuk Lea menjadi terkejut melihat dua orang itu sedang bertengkar.


Mario tadi mengirimkan resep obat untuk Dandy, menyuruhnya ke apotek membeli obat sesuai resep yang Mario kirim.


"Hei ada apa ini?" tegur Dandy saat masuk ke dalam kamar karena mendengar ribut ribut. "Nih obat yang kamu pesan"


Dandy menyodorkan obat yang sudah di belinya menatap dua orang itu bergantian.


Sementara Lea yang hendak keluar tiba tiba merasakan kepalanya pusing dan dia pun ambruk.


Beruntung Dandy di dekatnya dengan sigap Dandy menangkap tubuh Lea sebelum jatuh membentur meja.


Mario dengan cepat membantu Dandy membaringkan Lea ke tempat tidur nya.


"Aku melarang nya untuk pergi ke rumah sakit" Mario mengusap wajah nya frustasi.


"Bukan kah itu lebih baik biar istri mu lekas sembuh"


"Dia bukan mau berobat,tapi menjenguk Sesil, putri ku sedang sakit dan di rawat di rumah sakit oleh orang tua Karina"


"Astaga senekat itu Lea akan ke sana dengan kondisinya yang seperti ini?" gumam Dandy.


"Kamu tau sendiri kan, wanita ini begitu keras kepala" Keluh Mario.


"Apa sebaik nya kita bawa sekalian aja ke rumah sakit" usul Dandy.


'Baiklah, kamu siapkan mobil" Mario akhirnya menyetujui usul Dandy.


Dandy menyiapkan mobil sesuai dengan perintah Mario. Dia lalu menggendong Lea yang masih pingsan. Dandy membawa Mario yang memangku Kea di jok belakang, tempat duduknya sedikit di turunkan Mario.


"Sepertinya kamu harus lebih bersabar lagi, jangan ajak istri mu untuk bertengkar. Apakah kamu ingin dia pergi lagi? ujar Dandy sambil menyetir.


Mario hanya diam mendengarkan apa yang di katakan Dandy.Dia kini mencemaskan Lea.


Mereka lalu membawa wanita keras kepala itu ke rumah sakit di mana putrinya juga di rawat di sana. Agar Mario bisa leluasa menjaga keduanya.


Mario meminta agar Lea di rawat bersebelahan dengan kamar Sesil di rawat. Agar dia bisa menjaga keduanya bersamaan.


Urusan kantor di serahkan sepenuhnya kepada Dandy. Mario yang kini pusing dua wanita yang sangat dia sayangi kini sakit bersamaan.


Gabby dan Chintya kini heboh menjenguk sahabat karib mereka itu kini tepar di rumah sakit.


Wajah pucat itu menatap dua sahabatnya itu yang untuk datang mensuport dirinya. Di tangan nya kini tertancap jarum infus. Benda yang paling alergi bagi Lea.


Saat sadar Lea berusaha untuk mencabut selang infus yang menancap di tangan nya. Tapi di larang Mario. Mario benar benar di buat pusing oleh istri bar bar nya itu.

__ADS_1


"Lea, pikir kan kesehatan mu! jangan seperti ini,aku tidak ingin kamu sampai kenapa napa" ucap Mario berusaha untuk bersabar.


Namun Lea mendiaminya tidak menghiraukan ucapan Mario dia benar benar tidak ingin pberbicara dengan Mario.


Mario baru pergi menjenguk putri nya saat Gabby dan Chintya datang menjenguk sahabat mereka yang keras kepala itu.


"Semangat beb!"


"Cepat sembuh ya beb"


Mereka bertiga berpelukan ala Teletubbies, saling menyayangi. Hanya saja nasib Lea tidak seberuntung dua sahabatnya itu yang memiliki suami setia dan pengertian.


Ponsel Lea berbunyi saat tiga wanita itu asyik bercerita. Nama Malik tertera di layar ponselnya.


"Halo beb! apakah mu?" tanya Malik di sebrang sana.


"Buruk sedang di rawat di rumah sakit" Sahut Lea.


"Apa??? kamu sakit, jangan bercanda beb?!" Teriak Malik."Aku akan segera ke sana" Malik menutup pembicaraan nya.


Benar saja tidak sampai hitungan jam Malik pun datang setelah Gabby Dengan Chintya pamit pulang.


Malik dengan wajah cemasnya masuk dengan nafas yang seperti pelari maraton.


"Beb????!! Malik mengambil sebuah kursi lalu duduk di samping tempat tidur Lea.


"Maaf lama tidak mengabari mu, itu karena aku di tugaskan papa ke luar kota, mana di sana jaringan nya ngadat lagi" tutur Malik dengan tatapan lembut nya.


"Ku kira kamu sudah lupa pada ku kak!"


"Hei mana mungkin aku bisa lupa sama wanita cantik seperti mu!"


"Gombal nya" cibir Lea.


"Demi ,,,Demi ,,, sumpah!"


"Demi apa ???"


"Demi seorang Zahira!" Malik tertawa berusaha membuat Lea terhibur. Lea tersenyum mendengar kelakar Malik.


Saat itu mereka tidak menyadari kehadiran Mario.


Mario hendak melihat Lea, namun dia berbalik lagi ke ruangan Sesil. Saat melihat Malik ada bersama Lea mereka terlihat sangat mesra.


Hati Mario menjadi panas serasa mendidih di otak nya. Rasanya dia ingin mengamuk memukul Malik yang selalu mengganggu istrinya.


Rasa cemburunya semakin menjadi melihat kedekatan Lea dengan Malik. Bagaimana Lea tertawa bersama nya.


Mario berusaha menghalau perasaan nya dengan bermain bersama Putrinya hingga gadis itu bertanya tentang Mommy nya yang telah menguji kesabaran Daddy-nya ini.


"Daddy,,,?! Sesil mau mommy?!!" rengekannya.


Tidak ingin membuat putri nya menangis Mario pun menggendong Sesil menuju ruan sebelah di mana Malik sedang menemani Lea.


"Mommy?!" teriak Sesil saat melihat Lea yang sedang berbicara dengan Malik.


Gadis kecil itu ingin di peluk Lea dan bernyanyi meninabobokan dirinya.


"Sayang?" Lea mengulurkan tangannya untuk memeluk Sesil. Ibu dan anak itu pun saling melepas Rindu di rumah sakit.


Malik yang melihat hal itu segera mengecup pipi Sesil, lalu berpamitan pulang.


Mario kini memilih membiarkan istrinya bernama Sesil bercerita, sementara dirinya melihat pesan masuk dari Dandy di poselnya.


*


*


*

__ADS_1


*****Love You All❤️❤️❤️ salam manis*****


__ADS_2