Secawan Anggur di Padang Gersang

Secawan Anggur di Padang Gersang
Bingkai Kenangan


__ADS_3

Rumah yang sudah lama tidak di kunjungi nya, membuat Lea begitu rindu dengan kamar nya.


Lea kini berada di rumah orang tuanya, sedang bercerita bersama bundanya.


"Apakah kamu dengan Mario baik baik saja?"


Lea hanya mengangguk sambil menikmati salad buah yang di buat bunda. Wanita paruh baya itu sengaja membuat salad buah.


Karena Lea begitu menyukai buah dan ini merupakan makanan kesukaan putri bungsu nya itu.


"Apakah Sesil tidak menangis di tinggal?"


"Sesil sedang bersama orang tua Karina, mereka akan menjemputnya setiap sebulan. Mengajak nya pergi berlibur selama seminggu" jelas Lea.


"Ooh jadi mereka sedang berlibur bersama anak mu itu?!" Bunda tersenyum.


"Ya biar bagaimanapun Sesil merupakan bagian dari kehidupan mereka" ada nada sedih yang tertangkap di tatapan matanya.


Bunda tau apa yang sedang di rasakan Lea saat ini, Putrinya yang punya masalah dengan kandungan nya yang lemah dan sulit untuk bisa hamil.


Gangguan pada rahim nya saat dulu terjatuh dari tangga, kini berdampak pada pernikahan nya.


Lea harus rutin menjalani terapi, namun sepertinya Mario belum membicarakan hal itu dengan nya.


Lea sendiri masih ragu untuk membicarakan hal itu kepada Mario. Dia masih menunggu hingga Mario akan mengajaknya ke dokter kandungan.


"Apakah kamu sudah pernah periksa ke dokter kandungan?"


"Belum, Rio sendiri belum pernah membicarakan tentang kehamilan"


"Sebaik bila sempat kamu bisa pergi sendiri, biar nanti kamu bisa beri penjelasan kepada Mario bila nanti dia bertanya akan hal itu" saran Bunda.


"Baiklah Bun,bila ada waktu Lea akan pergi ke dokter"


"Sekarang kamu sudah bersuami, Bunda harap kehidupan rumah tangga mu dengan Mario tidak lagi terguncang. Belajar lah menjadi istri yang baik,buang ego mu sayang"


"Baik Bun, Lea akan berusaha untuk itu,Lea juga ingin punya kehidupan normal seperti Papi dan Bunda" Senyum merekah di wajah cantiknya.


"Nah mulailah dari sekarang"


"Bun, bagaimana kalau akhirnya Lea benar benar tidak bisa hamil dan tidak bisa punya anak lagi?"


"Kamu masih muda, usia mu masih bisa untuk punya anak percayalah" Bunda memberikan semangat dengan senyuman yang membuat tenang jiwa Lea.


Kamarnya yang sudah lama tidak di tempatinya, terakhir saat masih bersama Oscar. Bahkan foto foto kemesraan mereka masih ada di kamar nya hingga saat ini.


Lea melangkah menuju sebuah figura yang sengaja di gantung Oscar di atas meja riasnya.


Alasan waktu itu agar Lea selalu mengingat nya.


Ternyata semua itu hanya untuk membuat Lea menangis melihat kenangannya dulu.


Lea menutup mata nya berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menetes jatuh. Namun sekuat apapun Lea berusaha untuk menghalau kesedihan nya. Tak urung air mata nya harus menetes jatuh.


Bayangan terakhir saat pemakaman Oscar di mana sang merah putih di bentangkan saat jenazah Oscar di makam kan.


Kematian Oscar yang tragis menyisakan duka dan kenangan yang sulit untuk di lupakan Lea.


Mendiang suaminya, seorang perwira polisi yang menghembuskan nafas terakhirnya tanpa Lea sadari.Semua seperti yang ada di dalam mimpi, Oscar yang kini telah tiada.


Namun sosok penyayang itu menyisakan banyak kenangan. Cinta, kasih sayang, perhatian dan pengertian nya membuat Lea begitu sulit untuk bisa melupakan semua tentang dirinya.


Mata Lea masih fokus menatap wajah tampan dalam bingkai kenangan itu. Tetes air mata yang seakan tidak mau untuk berhenti mengalir dari kelopak mata indahnya.


Duhai hati tak sanggup ku kenang kan, falsafah cinta mu, membuat hati tak kuasa untuk menangis. Semoga engkau tenang di alam sana bersama keabadian cinta mu.


Lea menghapus air matanya lalu naik ke atas tempat tidurnya. Masih dengan air mata nya yang seakan tidak ingin berhenti mengalir bila mengingat Oscar.

__ADS_1


Terlalu banyak kenangan indah yang pernah di lalui bersama nya. tanpa sadar Lea terisak dan menutup matanya.


Air matanya mengalir membentuk sungai kecil yang mengalir di pipi mulusnya.Lea akhirnya tertidur dengan air mata yang masih tersisa di pipinya.


*


*


*


Di kantor nya Mario yang baru selesai


Meeting, kini duduk di kursi kebesaran nya sebagai CEO Memijit pelipisnya.


Kepalanya terasa berat rasanya sangat capek, seminggu ini Mario sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Mario mengambil ponselnya melihat ada beberapa panggilan masuk dari Lea. juga pesan yang yang mengatakan kalau Sesil di jemput orang tua Karina. Sementara istrinya itu sedang berada di rumah orang tuanya.


Mario tersenyum sudah lama dia tidak berkunjung ke rumah mertuanya itu. "Sedang apa wanita keras kepala itu di rumah orang tuanya?"


Mario melirik arloji di pergelangan tangannya, ternyata sudah sore. Mario menutup laptopnya, meraih kunci mobil lalu pulang menyusul istrinya di rumah mertua.


Mario menghubungi Dandy untuk membuat laporan hasil meeting nya tadi. "Dan! kamu urus laporan tadi besok berikan pada ku" titah Mario.


Dia kini di jalan dengan mobilnya menuju ke sebuah toko bunga. Mario sempat membeli sebuket bunga untuk istri nya tercinta.


Mario melaju dengan mobilnya menuju rumah mertuanya. Menyusul istri nya di sana.


Mobil Mario memasuki rumah mewah yang dulu pertama kali dia masuk saat menjenguk wanita yang pernah hadir dalam hidupnya sebelum mengenal Lea.


Setelah memarkirkan mobilnya Mario lalu melangkah masuk. petugas yang berjaga membuka pintu untuk Mario.


Rumah mewah nan megah ini di jaga beberapa orang Bodyguard yang bertugas untuk menjaga keamanan keluarga Zie.


"BI istri ku di mana?" tanya Mario yang baru masuk.


"Rumah nampak sunyi mungkin papi dan bundanya belum pulang" pikir Mario.


Mario lalu naik ke lantai atas menuju kamar Lea. Kamar yang hanya sekali di masuki Mario saat pertama kali menikah dengan Lea.


Tanpa mengetuk pintu nya Mario memutar handel pintu yang ternyata tidak terkunci. Mendorong pelan dan perlahan masuk.


Pemandangan di dalam kamar itu membuat Mario tertegun. Semua yang ada di dalam kamar itu sungguh membuat hati nya terasa sakit dan perih.


Tidak ada satu pun foto dirinya bersama dengan Lea. yang ada hanyalah foto foto mesra nya Lea bersama Oscar.


Mata Mario menatap Lea yang sedang tertidur hingga tidak menyadari kehadirannya. "Sebegitu cinta nya dia terhadap Oscar? lagi lagi aku harus menyaksikan kenangan mereka" Hati Mario bagai tertusuk ribuan jarum.


Mario meletakkan bunga yang di bawah nya di atas meja, lalu mendekati tempat tidur Lea.


Menatap wajah cantik yang sedang pulas dalam tidurnya.


Rasa sakit dan rasanya sangat perih, sekian waktu dia mencoba bertahan dengan cinta nya. Namun pada kenyataannya Lea masih menyimpan semua kenangan nya bersama Oscar.


"Aku hanya memiliki raga nya, namun hati dan jiwa nya kini milik Oscar" Mario masih menatap wajah cantik yang kini sedang pulas dalam mimpinya.


Bahkan Mario dengan jelas dapat melihat bekas air mata yang masih tersisa di pipi mulusnya.


"Dia pasti menangis untuk Oscar, sampai tertidur seperti ini" Mario melangkah perlahan takut untuk membangunkan Lea.


Keluar dari kamar dan kembali pulang ke rumah, hatinya jadi kacau melihat Lea yang masih menyimpan rasa untuk Mendiang Oscar.


Mario merasakan hatinya seakan benar benar sakit. Di merasa kecewa dengan apa yang dia lihat di kamar Lea.


Mario mengendarai mobil nya di atas rata-rata, sampai di rumah Mario memilih masuk ke dalam ruang kerjanya.


Kembali fokus dengan pekerjaan agar bisa melupakan semua kenangan Lea bersama Oscar.

__ADS_1


Entah seperti apa perasaan nya saat ini, untuk yang kedua kalinya Mario mencintai wanita yang di hatinya mencintai orang lain.


Mario membuka laci mejanya mengambil bungkus rokok lalu menyelipkan di bibirnya. meraih korek yang berada di dalam laci itu pula.


Menyalakan rokoknya sambil melepaskan dasinya. Melempar ke sembarang arah, ingin marah entah kepada siapa. Mario memilih untuk keluar dan duduk di balkon.


Mario merokok untuk melupakan kekalutan nya, namun tidak bisa, Hanya sahabat sahabat nya bisa membantu meringankan beban di hatinya.


Setelah menghabiskan rokoknya Mario belum juga tenang. Ia lalu turun menuju ke kamarnya. Mandi berganti pakaian lalu pergi dengan mobil nya menuju sebuah club.


Alunan musik yang menghentak membuat sakit kepala Mario semakin bertambah. Beberapa botol minuman telah di teguknya.


Wajah dan matanya mulai memerah tatapan matanya mulai meredup. Dandy meraih botol yang hendak di minum Mario.


"Ini bukan cara nya menyelesaikan masalah bro"


mereka berdua kini berada di tempat hiburan yang di datangi Mario.


*


*


*


Lea yang baru bangun tidur terkejut ketika melihat sebuket bunga yang dia tau itu pasti dari Mario.


Suaminya itu pasti datang menyusul nya ke mari, Bergegas Lea ke kamar mandi mencuci muka lalu turun mencari keberadaan Mario.


"BI apakah bibi melihat Mario?" tanya Lea.


"Oooh itu non, den Mario tadi datang bawa bunga , tidak lama balik lagi".


"Astaga!" Lea menepuk jidatnya.


Tanpa kata Lea bergegas ke kamar nya mengambil kunci mobil dan tas jinjing nya. Dia akan pulang menyusul Mario.


"Bunda, Lea pamit pulang, apakah tadi Mario bertemu dengan Bunda?"


"Mario? sejak bangun tidur Bunda tidak melihat nya?!" Kening bunda berkerut heran.


Ada apa lagi anak dan menantu nya itu, selalu saja ada masalah dalam rumah tangga mereka.


"Ya udah Bun! Lea pulang dulu" Lea mencium pipi bunda nya lalu pergi.


Bunda sampai menggeleng melihat kehidupan putri bungsunya itu. Tidak pernah ada damainya.


Beruntung Lea merupakan pribadi yang kuat tidak manja dan cengeng.


Sampai di rumah Mario tidak di jumpai nya, rumah nampak sepi.


"Bi,,, Daddy nya Sesil kemana?"


"Tuan Rio, belum lama pergi non"


"Baik lah" Lea menuju ke kamarnya.


Meletakkan tasnya dan mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Mario namun nomor nya tidak aktif.


Berulangkali menghubungi nya namun tidak aktif, Lea mengirimkan pesan agar Mario bisa membacanya nanti.


*


*


*


**** Love you All ❤️❤️❤️ salam Rindu ku untuk kalian*****

__ADS_1


__ADS_2