Secawan Anggur di Padang Gersang

Secawan Anggur di Padang Gersang
Ingin Sendiri


__ADS_3

Perlahan Lea membuka matanya, bunda yang duduk di sampingnya tersenyum untuk nya.


Lea melihat ke sana kemari semua kakaknya ada di kamarnya.


Mereka menunggui adik nakalnya, "sudah siuman?" Kaka bersuara.


Lea tersenyum kepada mereka semua, wajahnya nampak pucat karena capek selama dua hari tidak tidur di tambah lagi kehujanan di pemakaman mama Tiara.


Di kediaman Mario suana duka masih menyelimuti keluarga mereka.


Lian yang masih lemas akibat pingsan berulang kali.


"Sayang?! kuat kan hati mu, ingat anak kita di dalam sana,ikhlaskan kepergian mama biar beliau tenang di alam sana, kita iringi kepergian mama dengan do'a" ucap Leo lembut berusaha memberikan kekuatan kepada istrinya.


Mario yang bagai orang linglung, papa Liton yang berusaha untuk tegar.


Semua terasa bagai mimpi, mama yang beberapa hari yang lalu memberikan semangat kepada Mario, untuk memperjuangkan rumah tangga nya yang retak.


Mario tahu Mama begitu menginginkan Mario hidup berbahagia bersama Lea beliau sangat mencintai dan menyayangi Lea.


Hingga Mario berjanji akan membawa Lea kembali seperti dulu. menjadi bagian dari kehidupan mereka. Begitu ingin nya ibu agar Mario segera memiliki anak.


Tapi sayang semua keinginan ibunya hanya lah kenangan, belum lagi Mario memenuhi janjinya ibunya keburu di panggil yang maha kuasa.


Setiap yang bernyawa pasti akan kembali berpulang ke asalnya.


*


*


*


Di rumahnya Lea mulai bersin bersin suhu tubuhnya naik, batuk dan demam. akibat kehujanan kemarin.


Melihat putrinya yang sedang demam bunda memanggil dokter keluarga, untuk mengobati Lea.


"Pasti Malarindu Tropikangen nih!" goda Rilley.


"Pa an sih kak" Lea memanyunkan bibirnya.


"Dapat salam dari Jhon, dia turut berdukacita atas meninggalnya ibu mertua mu!" ujar Rilley.


"Kakak bertemu dengan nya?" tanya Lea.


"Ya, dia kakaknya ivony teman kuliah kakak di Hervard" jelas Rilley.


"Kakak jadian sama dia?" tuduh Lea.


"Jhon ada di bawah sama papi" jelas Rilley.


"Benarkah" kata Lea senang suaranya yang berubah akibat flu.


Jhon yang masih bercerita dengan papi meminta ijin untuk menengok Lea. Papi memberi ijin pada nya.


"Boleh masuk?" suara seorang pria yang betul-betul dikenal oleh Lea.


"Jhon?!" pekik Lea senang.


Jhon tertawa melihat keceriaan Lea, pada hal Susana duka masih menyelimuti hati nya. Namun itu lah Lea. dia akan lupa semua kesedihan nya bila ada yang menghibur nya.


"Cepat sembuh aku akan mengajak mu, ke Mandalika kita adu balap di sirkuit itu" ujar Jhon.


"Benarkah, aku tidak sabaran untuk pergi ke sana" seru Lea bersemangat.


"Iya,,,, asalkan kamu benar benar sudah sembuh,aku tidak mau mengajak orang sakit ke sana" kata Jhon lagi.


"Janji ya kalau aku sudah sembuh, kamu harus ke sana bersama ku" tegas Lea.


"Hmmm" Jhon ha ha bergumam.

__ADS_1


Di kamar Lea hanya Rilley dan Jhon yang baru masuk. Semua penghuni rumah pada sibuk beraktivitas.Lea cemberut melihat Jhon yang begitu mesra kepada kakaknya.


"Jhon,,,,?! jangan buat aku cemburu" pekik Lea.


Lea melotot melihat Jhon mengecup bibir Rilley


keduanya memang sudah jadian. Lea yang terlalu sibuk dengan dunianya, hingga tidak tau dengan semua itu.


Perwira polisi yang tampan dan gagah itu telah resmi menjadi kekasih Rilley, mereka akan segera bertunangan dalam waktu dekat.


Jhon dan Rilley malah tertawa melihat tingkah Lea yang lucu menurut mereka.


"Jangan cemburu,Mario menanti mu" ujar Rilley.


Lea tertegun dia baru ingat akan Mario, kemarin di pemakaman hingga membuat Lea sampai sakit.


Lea terdiam untuk beberapa saat lalu berucap, "kami sudah berpisah".


"Benarkah tidak ada sedikitpun rasa di hati mu untuk Mario?" goda Jhon. Dia masih ingat saat pertama pergi dengan Lea, gadis itu mengungkapkan perasaan sukanya pada Mario malam itu, hingga membuat Jhon tertawa.


"Jhon jangan menggodanya sayang?! lihat wajahnya sudah seperti kepiting rebus, hidungnya seperti Tomat" ujar Rilley. mereka lalu tertawa.


"Sebaiknya kalian pergi aku ingin sendiri " usir Lea.


"Benarkah? baik lah! ayo Jhon kita pergi" Rilley menarik tangan kekasihnya untuk keluar dari kamar adiknya . Rilley tau adik nya itu ingin sendiri.


"Lekas sembuh ya sayang?!" goda Jhon lalu keluar mengikuti langkah Rilley.


Lea tidak menyangka Jhon yang di kagumi nya, malah jadian dengan kakaknya.


Lea teringat sudah beberapa pria yang dekat dengan dirinya, Jhon, Rony adik iparnya Kiki, sekarang malah Frans, Bodyguard pilihan bunda. selain Mario.


"Mario,,,?!" Lea mendesis menyebut nama nya. Mengingat Mario yang menggores luka, membuat Lea bertambah sakit.


Bunda merasa sangat khawatir akan kesehatan Lea, ia memberi perintah untuk membawa Lea ke rumah sakit.


Lea kini harus di rawat di rumah sakit, karena demamnya yang tidak kunjung sembuh.


"Cepat sembuh ya sayang?!" Jhon kembali menggoda nya, saat menjenguk Lea di rumah sakit.


Mata Lea melotot nyalang padanya, "aku tidak ingin melihat wajah mu lagi" kata Lea jutek.


Rilley duduk santai di sofa menyaksikan pacarnya mengganggu Lea.


"Sayang?! sudah lah jangan ganggu dia terus,kamu akan buat dia semakin sakit" Seru Rilley.


Saat itu masuk Gabby bersama Cynthia, mereka di temani para pria tampan kekasihnya.


"Nah ini teman teman mu sudah datang kakak balik dulu ke kantor, sekalian Jhon akan tugas ke luar kota" pamit Rilley. Dia bersama Jhon lantas pergi sebelum itu Jhon masih sempat menggoda Lea.


"Jhon ayolah jangan goda dia terus" Rilley menarik tangan Jhon untuk segera pergi. Jhon lalu melingkar tangan nya di pinggang ramping Rilley dengan sangat mesra. Keduanya melangkah keluar menuju parkiran.


Perawat yang berpapasan melihat kemesraan pasangan ini ikut tersenyum. mereka mengagumi kecantikan Rilley dan ketampanan Jhon.


"Mereka benar-benar pasangan yang serasi" puji para perawat itu.


"Sayang?"Seru Gabby dan Cynthia, Mereka berpelukan.


Lea tidak bisa banyak bergerak ada jarum infus yang tertancap di tangan nya.


"Jangan banyak bergerak nona, darah anda akan naik ke slang infusnya" kata perawatan yang menjaga Lea. benar saja cairan infusnya kini berwarna merah darah Lea mengalir ke sana.


"Aku paling benci seperti ini" sungutnya.


Gabby dan Cynthia memberikan semangat agar Lea lekas sembuh, mereka merasa sunyi bila Lea tidak bersama.


Lea sendiri merasa senang sakit nya seakan tidak terasa bila ada dua temannya ini.


Tomy bersama Dandy duduk manis di sofa sambil memperhatikan tiga wanita itu bercengkerama.

__ADS_1


Sesekali terdengar tawa mereka entah apa yang mereka tertawa kan. Hingga mereka menyadari dua kaum Adam yang ada di ruangan itu punya pekerjaan yang tidak bisa di tinggal.


"Beginilah kalau punya pasangan, waktu kita selalu terbatas" sungut Cynthia ketika Dandy mengatakan ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.


"Makanya lain kali kalau datang jangan bawa mereka" seru Lea.


"Mereka sih yang mau nya ikut serta, takut ada yang naksir sama pacar mereka, apalagi setelah melihat Bodyguard mu yang tampan abis" bisik Gabby.


"Heh, jangan terlalu Genit, si Tomy taringnya belum keluar" balas Lea berbisik.


Mereka masih sempat tertawa sebelum pergi meninggalkan Lea.


Dandy memberitahu Mario soal Lea yang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Namun reaksi Mario biasa saja.


mengingat mereka masih dalam masa berkabung .


Papa Liton yang selalu terlihat baik baik saja meskipun lelaki paruh baya itu merasa sangat kehilangan, wanita lembut yang selalu menemani dirinya selama ini di setiap tugas tugas kantor nya ke manapun.


Seminggu menjalani perawatan di rumah sakit kesehatan Lea kini benar benar membaik dan hari ini dokter mengijinkan dirinya untuk pulang.


Lea yang masih malas malasan berbaring di kamar nya.


Hingga Kini mengetuk pintunya lalu masuk.


"Sayang,,,! Sorry kakak jarang menjenguk mu, karena kembar yang tidak enak badan dan rewel" kata Kiki lalu memeluk adik tersayang nya ini.


Lea menatap Kiki yang kini duduk di sisinya, dia baru ingat Mario sangat mencintai kakaknya ini sewaktu dulu saat mereka masih berseragam putih abu-abu.


Mario menikahi Lea mungkin karena kakaknya ini, atau juga demi ibu nya.


Mengingat semua itu Lea kembali teringat akan ibu Mario yang telah tiada.


"Lea?!" Kiki mengguncang tubuh Lea yang seakan Linglung menatapnya.


"Kakak teramat cantik!"Lea tersenyum masih menatap kakak nya.


"Adik kakak juga tidak kalah cantik nya" puji Kiki meraih tangan adik nya.


Keduanya sempat bercerita hingga Reno masuk dan memberikan semangat untuk Lea.


Kakak iparnya yang tampan itu sangat beruntung menikah dengan Kiki bukan Mario.


Mengingat Mario hati Lae terasa perih dari luka yang entah kapan tergores di sana.


Namun bayang mama Tiara tiba tiba hadir di ingatan nya.


Lea tiba tiba merasa rindu akan sosok itu hingga membuat dirinya ingin mengunjungi makam nya.


Setelah kepulangan Kiki dengan suaminya Reno, Lea mandi bersiap siap untuk Ziarah ke makam mama Tiara.


Setelah izin bunda, Lea pun pergi namun tidak boleh sendirian harus di kawal bodyguard nya,siapa lagi kalau bukan si tampan Frans.


Lelaki kekar itu dengan gaya dan penampilan nya yang macho selalu bisa membuat Lea tersenyum.


Frans bukan lah pria yang kaku seperti pada umumnya, dia merupakan sosok yang hangat dan suka bercanda.


Lea meminta Frans menepikan mobilnya di sebuah toko bunga.


Lea membeli sebuket bunga mawar putih untuk di berikan pada mama Tiara.


Frans melajukan mobilnya menuju tempat di mana mama Tiara di makamkan.


"Aku akan menemanimu kedalam sana" ujar Frans setelah memarkirkan mobilnya. dia lalu keluar membuka pintu untuk Lea.


Lea sempat melihat sebuah mobil terparkir di situ, dia kenal betul itu mobil Mario.


"Dia ada disini?" batin Lea.


"Ayolah" ajak Frans.

__ADS_1


Mereka lalu melangkah bersisihan, menuju makam mama Tiara. Beruntung ada Frans, membuat Lea tidak terlalu canggung bila nanti bertemu Mario di sana.


__ADS_2