
Perlahan Lea membuka matanya, dia menatap sekeliling ruangan yang terasa asing baginya.
Lea merasa heran semua keluarga nya ada di sampingnya.
Bunda, papi, serta kelima kakaknya ada bersamanya.
Lea masih bingung dengan selang infus yang tertancap di tangan nya.
Lea hendak bangun tapi bunda melarangnya, untuk tetap berbaring.
"Kamu sedang sakit, jangan paksakan diri mu untuk banyak bergerak"
Bunda memberikan isyarat agar mereka semua ke luar dari ruangan itu. membiarkan bunda sendiri bersama Lea.
Lea perlu istirahat untuk beberapa hari agar kondisi nya kembali pulih. Karena Lea harus mendapatkan perawatan yang intensif.
Lea mengingat ingat saat terakhir dirinya bersama Oscar. mereka di acara ulang tahun Regina. Terakhir kali Lea ke toilet dan pusing di sana.
Ada seorang pria menolong nya, setelah itu Lea merasakan perasaan yang aneh, Lea masih ingat samar samar kejadian itu.
Saat mengingat semuanya Lea menangis memeluk bunda.
"Bunda, Lea kini kotor dan menjijikkan! Lea meratapi nasibnya.
Bunda memeluk erat putrinya membiarkan Lea menumpahkan tangis nya. Bunda mengelus lembut punggung putrinya.
"Kamu tidak apa apa, kamu justru selamat dari peristiwa buruk itu, Mario yang telah menyelamatkan kamu sayang,,,,?!"
"Tapi bunda kesucian Lea telah ternoda" tangisnya makin menjadi. Lea yang masih kekanak-kanakan.
Bunda tersenyum mencium pipi Lea berulang kali agar dia tenang.
"Ssst,,,! jangan katakan apa pun, dengarkan bunda sayang?! saat kejadian itu mereka semua menolong mu, Mario dan yang lainnya.hanya saja saat itu mereka terlambat menyadari saat kamu sudah di berikan minuman yang di campur obat terlarang itu, untuk menolong mu dari pengaruh obat berdosis tinggi itu, sudah Mario lakukan cara lain tapi tidak bisa, karena kamu di recoki dengan dosis tinggi, yang bisa membuat diri mu kehilangan nyawa" tutur bunda memberikan pengertian agar Lea tidak trauma dan stress dengan apa yang di alaminya.
"Kamu harus kuat menjalani nya, kamu masih sah sebagai istrinya Mario, meskipun pengadilan sudah memutuskan perpisahan itu.Tapi Mario belum tanda tangan surat cerainya sampai saat ini. andaikan semalam tidak ada Mario, entah apa yang akan terjadi pada mu sayang" bunda berusaha membuat Lea tenang dengan membujuk pelan pelan.
Lea hanya diam dia teringat sesuatu "Bunda Lea sangat haus" pintanya.
Bunda menuangkan air di gelas untuk Lea. tapi Lea meminta seceret air. Lea mengambil teko dari tangan bunda gadis itu lalu meminum air sebanyak itu hingga habis dan bersendawa.
Bunda tersenyum melihat apa yang di lakukan Lea.
"Apakah kamu tidak ingin punya anak?" tanya bunda hati hati sambil tersenyum.
Bunda tau apa yang di lakukan Lea. putri itu sengaja meminum air sebanyak itu untuk membersihkannya rahimnya agar benih yang masuk tidak berkembang dan akan keluar melalui urine saat buang air kecil.
"Lea tidak ingin hamil dari kejadian memalukan ini, jika nanti anak itu akan membuat Lea trauma kelak, Lea akan punya anak bila Lea sudah siap menjadi seorang ibu" kata nya sendu.
Lea lalu mendekat kan wajah di telinga bunda lalu berbisik bisik, entah apa yang mereka bisikan terlihat bunda hanya manggut-manggut sambil tersenyum.
Bunda merupakan seorang ibu dan teman bagi anak anak nya mereka bisa bercerita kepada bunda sebagai teman curhat, karena bunda sangat memahami dan mengerti tentang mereka.
Tidak berapa lama Lea minta di antarkan ke kamar mandi. Diri nya tidak bisa berjalan untuk bergerak saja sakit semua.
"Bentar bunda panggil suami mu, kamu harus harus berendam dengan air panas agar mengikuti rasa sakit di tubuh mu"
"Tidak usah Bun, kita usaha pelan pelan" tolak Lea, dia sangat malu jika mengingat apa yang telah dia lakukan pada Mario.
'Tidak apa sayang, dia suami kamu, lama lama juga akan terbiasa" bunda senyum menggodanya.
Wajah Lea memerah menahan rasa malunya, Tapi bunda sudah memanggil Mario.
Mario masuk ke kamarnya dan menuju tempat tidur, dengan hati hati Mario lalu menggendong Lea, membawanya ke kamar mandi.
"Aku akan menunggumu di luar panggil aku kalau sudah selesai"
Lea mendesis menahan nyeri saat buang air kecil, rasanya teramat sakit. sekujur tubuhnya hampir tidak bisa di gerakan.
"Rio,,,?" teriaknya.
__ADS_1
Mario lagi bersandar di dinding segera membuka pintu kamar mandi lalu masuk.
"Aku ingin berendam dengan air panas, tolong bantu aku"
"Bentar sayang"
Mario lalu mengisi bak mandi dengan air panas, setelah dirasa cukup, dia lalu menggendong Lea, meletakan dengan hati hati ke dalam bak mandi.
Kalau saja Lea tidak dalam keadaan sakit Mario sudah pasti ikut masuk ke dalam.
Senyum terukir indah di sudut bibirnya.
Lea yang sempat melihat Mario tersenyum merasa malu.Lalu memasang wajah datar.
"Letakan tangan mu di sini, agar tidak merasa capek pegang botol infus nya" Mario membantu meletakkan tangan Lea dan botol infusnya agar Lea merasa nyaman.
Setelah itu barulah dia keluar untuk menyiapkan makanan untuk Lea.
Semua keluarga nya sudah berlari pulang, membiarman Mario mengurus Lea sebagai suaminya.
Papa liton sempat memberikan nasehat kepada putranya, begitu pula papi valen dan juga bunda.
Mereka memberikan pesan singkat untuk Mario.
Bunda sudah menegaskan kepada Lea untuk tetap tinggal bersama Mario. Dengan kejadian yang menimpa nya.
Hal itu merupakan aib apabila Lea tidak mau untuk ikut Mario. Semua fasilitas nya akan di tarik.
Sebagai orang tua mereka wajib memperbaiki anak nya, mereka sudah menikah, semua kejadian itu membuat Lea sadar.
Bunda sudah menegaskan agar kejadian yang menimpa putrinya jangan sampai terexpos.
Semua pihak sudah di beri peringatan.
Biasanya berita besar seperti ini akan di siarkan berulang ulang apalagi sampai soal narkoba.
Tapi dengan cepat pihak yang berwajib telah mengamankan semuanya di bawah wewenang yang di jamin oleh Jhon.
Perwira polisi itu memberikan laporan hanya soal penangkapan narkoba. tidak ada yang lain nya.
Yang jelas nama Lea tidak terdapat dalam berita, itu menyangkut nama baik keluarga nya.
Di kantor nya Jhon sedang periksa semua berkas dan laporan yang di berikan tentang kegiatan dan identitas para napi yang barusan tertangkap.
Surat panggilan pun sudah di kirim kan kepada Lea. Gadis itu akan di periksa sebagai saksi.
Jhon tersenyum mengingat kejadian waktu Penangkapan itu, saat mereka sedang menunggu untuk penggerebekan.
Mario yang saat itu bersama mereka begitu tidak sabaran dia sangat mencemaskan keselamatan Lea.
"Sebaiknya kita masuk saja kedalam" ujar Mario.
"Sebaiknya Anda bersabar, kami jamin keselamatan istri anda, jangan gegabah kami bisa gagal beroperasi, akibat ke cerobohan anda" tegas Jhon berwibawa.
Mario terpaksa harus sabar meskipun dirinya merasa jengkel setengah mati.
Bagaimanapun tidak istrinya yang di jadikan umpan, target operasi.
Oscar sedang berdiam diri di ruangannya menatap foto seorang gadis.
Wanita yang belakangan mengisi hati nya sayang dia sudah ada yang punya.
Mata Oscar tidak lepas menatap foto Lea yang ada di ponselnya.
Satu persatu foto Lea di scroll Oscar, foto foto itu di ambil Oscar saat mengajak Lea jalan jalan di beberapa tempat.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tegur Jhon.
"Melihat pujaan hati" jawab Oscar asal.
"Jangan bermain dengan perasaan, nanti kamu malah patah hati,siapa suruh menjaga jodoh orang" sindir Jhon.
Oscar menanggapi dengan tertawa karena, namun rasanya seakan hambar. Dia terlambat menyatakan perasaannya.
Wanita yang di cintai nya kini telah kembali kepada suaminya.
Oscar baru menyadari kalau Lea masih sah menjadi istri Mario.
Suaminya sengaja untuk tidak tanda tangan surat cerai nya.
Sekalipun mereka telah berpisah namun Oscar sadar Lea masih menjadi istri Mario.
Sakit ,,,,, itu yang di rasakan Oscar, saat kejadian malam itu Oscar yang terlambat menyadari kehadiran suami Lea.
Semua kini menjadi hampa kebersamaan kerinduan,dan rasa sayang nya. semua kini harus berakhir.
Meskipun begitu ada sebaris kerinduan di hati Oscar.
Oscar tersenyum mata nya tidak lepas dari ponselnya.
Dia baru mematikan benda pipih itu saat Jhon kembali memanggilnya.
"Hay bro, pujaan mu datang"
Oscar dengan berat hati menemui Lea, yang datang sebagai saksi.
"Dia datang dengan suaminya" bisik Jhon.
Oscar hanya tertawa sumbang lalu mengikuti Jhon untuk menemui Lea.
Lea terbelalak hampir tidak percaya melihat sosok pria berseragam polisi yang bersama Jhon.
"Oscar,,,,,?????"
Pria tampan tegap dan kekar itu tersenyum untuk nya. Namun Lea membuang muka dari nya.
Lea tidak ingin melihat Oscar lagi sejak kejadian itu.
Lea begitu muak melihat Oscar yang telah mempermainkan diri nya. Lea mulanya menaruh harapan untuk Oscar, tapi semua harapan itu hancur berkeping keping.
Ternyata Oscar hanya menjadikan dirinya sebagai target operasi nya.
Lea sendiri tidak pernah tau kalau ternyata Oscar adalah seorang Intel.
Lea menjalani serangkaian pemeriksaan dia tidak ingin bertemu dengan Oscar.
Ternyata Oscar bersama tim penyidik dan melengkapi keterangan dari Lea.
Mereka berdua berada di dalam satu ruangan. Oscar yang dengan tenang, duduk di samping Lea.
Setelah selesai pemeriksaan dari wawancara sampai periksa urine. Oscar bersama nya.
"Lea,,,,????" Oscar menarik tangan nya saat Lea hendak keluar dari ruang penyidik. "Dengar kan aku dulu!" namun lea menepis tangan nya dengan kuat.
"Sudah tidak ada lagi yang perlu aku dengar dari mu, mau kata kan kebohongan apa lagi" Ketus Lea dingin.
"Lae,,,?! aku bisa jelaskan semuanya, kamu dengar aku dulu, kita bisa bicarakan baik baik!" ujar Oscar, menekan rasa kesal pada dirinya sendiri.
"Semua sudah berakhir dan kamu sukses mencapai misi mu, jangan pernah temui aku lagi, aku sudah bersuami" Tegas Lea lalu pergi.
Rasanya Lea ingin menangis menumpahkan beban rasa di hati nya. Tapi Lea tidak ingin menangis di hadapan Mario yang saat ini mengantar kan dirinya ke kantor polisi.
Lea tidak ingin menangis untuk seorang laki laki.Dari Mario, Frans lalu kini Oscar. Mereka semua seakan mempermainkan perasaan nya.
__ADS_1