Secawan Anggur di Padang Gersang

Secawan Anggur di Padang Gersang
Mirip Dia


__ADS_3

Lea melangkah santai di koridor kampus menuju kelasnya. Hari ini pengurusan untuk wisuda Minggu depan.


"Hai cantik" Sapa Malik yang juga baru datang.


Lea tak acuh tidak menggubrisnya, namun Malik tetap mensejajarkan langkah nya.


"Hari ini papa tidak masuk" kata Malik, membuat Lea menghentikan langkahnya.


Sekilas menatap Malik pria itu malah tersenyum manis mengalahkan manisnya madu.


Lea kembali melanjutkan langkahnya nya, menuju kelas. meletakkan tas nya. tujuannya untuk datang hari ini ke kampus hanyalah untuk melihat nilai-nilainya di dosen pembimbingnya dan bertemu dengan beberapa dekan nantinya.


"Kamu bisa ikut aku ke ruangan papa untuk melihat apakah nilai kamu bagus atau tidak" kata Malik sambil meletakkan tangannya di


meja,menopang dagunya sambil menatap Lea.



Sekilas dia terlihat Malik mirip Oscar,lagian nama mereka juga ada juga kesamaannya.


Lea hanya berujar dalam hati, "Tuhan kenapa dia begitu mirip dengan Oscar?"


Lea tidak ingin berlama lama di ruangan itu bergegas dia melangkah ke luar menghindari Malik.


Tapi sayang lagi lagi dia harus bertemu dengan Malik. Karena Malik yang di percayakan papa nya untuk melihat daftar nilai nilai Lea setelah itu.


Malik kini duduk di kursi kebesaran papanya dan Lea sekarang ada di ruangan itu bersama Malik.


"aku akan mentransfer semua nilai kamu dan satu lagi papa berpesan agar aku menggantikan beliau menjadi dosen pembimbing kamu sementara papa ku tidak ada, Semua dekan sudah tau karena papa sudah membuat pemberitahuan" terang Malik.


"Oh tuhan rencana apa lagi ini di balik semua cerita ini' batin Lea.


Pria yang dihindarinya kini ternyata menjadi dosen pembimbingnya menggantikan papanya.


Lea terpaksa harus berurusan dengan Malik nanti nya.


Malik kini sibuk menyusun semua nilai nilai Lea dari semester awal hingga akhir. Menyita waktu juga bagi Lea dan Malik.


"Aku harus menyusun semua nilai mu dari awal semester" kata Malik matanya tidak lepas dari Laptop di hadapannya.


Menyusun nilai dari semester awal hingga akhir dalam waktu lima hari bukanlah hal yang mudah.


Malik harus bekerja ekstra agar bisa menyelesaikan pekerjaan itu dalam lima hari.


Malik awalnya kesulitan mencari data tentang Lea agar bisa menyesuaikan dengan program studi nya.


"Oh ya,,, maaf nama lengkap mu siapa ya, agar aku bisa membuka akses nya" tanya Malik masih serius dengan layar di depan nya.


"Astaga!" Lea baru ingat semua akses nya memang tertutup.


"Maaf bisa aku lihat datanya dulu, karena memang semua akses lengkap tentang data data ku tertutup" Lea berdiri dan menghampiri Meja kerja Malik.


Tepat nya meja di mana laptopnya berada untuk membuka sendiri sandi nya. Malik pun membiarkan Lea mulai menggunakan Laptop di mejanya.


Karena mungkin itu sangat pribadi dan Lea tidak ingin di ketahui oleh siapapun.


Yang menjadi pertanyaan bagi Malik adalah mengapa data data Lea harus tertutup,apakah ada rahasia lain tentang gadis cantik ini?


Karena Lea yang tidak ingin orang lain sampai tau tentang dirinya toh Malik juga tidak perlu tau, akhirnya Lea menutup sebagian data nya.


"Oh ya kalau boleh tau sebenarnya mengapa sampai dua tahun kamu tidak masuk kampus hanya Online?" tanya Malik.


"Aku kerja" jawab Lea singkat.


"Tapi kan kamu bisa kuliah sambil kerja"


"Aku kerja di sebuah perusahaan"


'Kamu bisa tawar kan sama papa, sebagai dosen pembimbing mu"


"Aku terlalu sibuk " bohong nya.

__ADS_1


Ini untuk pertama kalinya Lea berbohong dan mungkin setelah ini dia akan terus menjadi pembohong. Toh untuk apa juga orang perlu tau tentang masa lalunya.


'Apakah perusahaan mu itu bekerja siang malam?"


Lia diam tidak menjawab pertanyaan itu, bagi nya lebih baik diam daripada Malik akan terus berbicara.


"Ya sudah kalau kamu tidak ingin menjawab" Malik meraih air mineral yang ada di meja itu lalu meneguk nya.


"Nih sudah kak!" kata Lea yang telah membuka sebagian akses nya.


Lea lalu kembali ke tempat duduknya melihat Malik yang mulai membuka akses nya.


"Zahira Milea Aldrich Albram Zie" Malik mengeja pelan nama Lea.


"Maaf apa aku boleh tau, apakah kamu anak dari pemilik kerajaan bisnis Lewrans itu?" Malik menatap wajah cantik Lea.


"Ya,,,!"


Lea terpaksa mengiyakan, berbohong pun percuma toh bila wisuda nanti pasti orang tua nya yang datang dan Malik juga pasti tau itu.


Melihat penampilan Lea yang jauh dari kata mewah membuat Malik kagum akan kesederhanaan gadis itu. Eh bukan ....


"Aku tidak menyangka mendapatkan suatu kehormatan menjadi dosen pembimbing mu menggantikan papa" ujar Malik.


Lea hanya diam tidak menanggapi apa yang di katakan Malik yang bagi Lea hanyalah basa basi.


Sementara Malik mulai sibuk bekerja mengerjakan laporan nilai nilai Lea.


"kamu boleh pulang biar aku yang selesaikan ini"


"Terima kasih!" Lea beranjak dari duduknya dan pergi dari ruangan itu.


"Duh ngapain juga aku suruh dia pulang,pada hal ini kesempatan buat aku dekati dia" sesal Malik.


"Beneran pulang dia akhirnya, tidak apa masih ada beberapa hari lagi" Malik tersenyum.


Malik akhirnya menutup laptopnya karena Lea sudah pulang, niat hati bersama Lea eh bodoh nya malah di suruh pulang.


"Trus ada rasa ke dia gitu?' tanya bunda.


"Tidak Bun, rasanya tidak ada ruang di hati Lea"


"Bunda harap itu untuk saat ini, selanjutnya semoga kamu bisa membuka hati agar tidak selalu bersedih"


"Entah lah Bun tapi rasanya aku tidak bisa"


"Ya sudah sekarang makan lalu istirahat"


"Baiklah" Lea pun melangkah ke dapur makan setelah itu masuk ke kamarnya.


Membuka Laptopnya di mana wajah Oscar memenuhi layar benda canggih itu. Lea tersenyum menatap wajah yang selalu dia rindukan itu.


Hari hari belakangan Lea semakin sibuk di kampus demi urusan wisuda nya. Hari ini dia kembali berhadapan dengan Malik.


Dengan ramah Malik mengajak nya ke ruangan papanya. "Kak sebenarnya prof kenapa tidak masuk kampus" tanya Lea.


"Papa sedang ke luar negeri cek Up, sakitnya"


"O" hanya itu yang keluar dari bibir Lea.


Terdengar suara tawa Malik pelan melihat wajah Lea yang lucu menyebutkan kata O.


Seharian Malik meminta Lea menemaninya untuk mengerjakan laporan nya, sampai sampai jam makan siang pun mereka harus makan di tempat itu.


Merasa capek Malik mengistirahatkan tubuh nya sejenak gantian Lea yang bekerja. Membiarkan Malik meletakan tangan untuk menopang kepalanya di meja untuk tidur sejenak.


"Sorry Lea aku tertidur" Malik mengucek matanya.


"Kalau kakak Masih ngantuk dan capek istirahat lah bisa aku kerjakan" kata Lea.


Malik hanya melirik sekilas dari meja tempat dia duduk. Wajah tampan itu seperti duplikat Oscar.

__ADS_1



Lea yang menatapnya jadi tertegun, ada nyeri yang dirasakan Lea saat matanya bertemu dengan mata Malik.


Sungguh Malik membuat luka di hati Lea kembali menganga, "Tuhan kuatkan hati ku, agar aku tidak selalu terpuruk. aku yang kini berusaha untuk tegar kenapa harus bertemu Malik di kampus ini, dia yang selalu mengingat kan aku tentang sosok yang telah tenang di keabadian" tanpa terasa air mata Lea menetes jatuh membasahi kertas di meja itu.


Malik yang sejak tadi hanya diam menatap Lea , menjadi heran kenapa Lea menangis?


Kalau saja ini bukan untuk kepentingan wisuda nya Lea sudah akan pergi dari ruangan ini bahkan mungkin juga dari kampus ini.


Sungguh wajah Malik membuat diri nya kembali terpuruk, luka itu terasa perih kini.


Malik yang melihat hal itu semakin heran dia melihat ada segalur luka di mata yang kini berkabut kesedihan.


Apakah mungkin Lea baru putus dengan pacarnya atau mereka sedang bertengkar sampai dia menangis.


Sebenarnya Lea sudah berusaha untuk tegar dan kuat namun kehadiran Malik justru membuatnya menangis. setiap kali mati itu menatapnya.


"Sini biar ku kerjakan sebaiknya kamu istirahat"


Malik kembali mengambil alih pekerjaan nya, mereka berdua berada di ruangan itu. tanpa ada siapapun hal itu membuat Malik merasa senang dia merasa nyaman bersama Lea yang menemaninya.


Malik sering melirik menatap Lea wajah cantik yang kini berkabut kesedihan. Seperti apa sebenarnya kesedihan itu. andaikan bisa aku ingin membalut luka itu bila seseorang telah membuat mu sampai sesedih ini?


Malik akhirnya menghentikan pekerjaannya lalu menatap Lea. "Apakah kamu punya masalah, aku bisa kamu jadikan teman untuk berbagi, percayalah, jangan simpan sendiri beban di hati mu"


Lea yang sedang termenung menatap wajah tampan yang sedang tersenyum di hadapannya.


"Oh tidak,,,, tidak apa apa!" Lea berusaha menghilangkan kegugupan nya. karena ketahuan sedang melamun.


"Bagaimana kalau kita jalan jalan sebentar cara angin baru kita lanjutkan lagi" tawar Malik.


"Terserah kakak"


"Oke ayolah"


Mereka berdua kini melangkah perlahan menyusuri koridor kampus. Malik nampak begitu santai berjalan sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.


Lea sendiri melangkah sambil melipat tangannya di belakang. mereka berdua nampak sedang berjalan dengan santainya.


Malik akan memulai untuk bercerita tentang kisah nya memancing Lea agar mau bercerita.


Pria berwajah tampan itu ingin mengenal Lea lebih dekat lagi.


"Apakah kamu punya pacar?" tanya Malik.


Sontak Lea terkejut menatap Malik yang melangkah tenang di sampingnya. wajah itu tampak seperti tidak ada beban.


"Tidak aku tidak ingin pacaran masih fokus untuk masa depan" kata Lea akhirnya.


"Hmm begitu ya!' Malik hanya bergumam.


"Kakak aja mungkin punya pacar takut ada yang cemburu melihat kita?"


"Jujur ya,,,aku tidak punya pacar di kampus ini, baru kamu yang dekat, kebetulan ganti in papa" Malik tertawa kecil.


"O"


"O nya kurang bulat!' canda Malik.


Lea hanya nyengir tidak tau akan berkata apa lagi, mereka akhirnya sampai di taman kampus. baru duduk sebentar Lea sudah meminta untuk balik lagi.


Wajahnya nampak berkeringat sosok Oscar melintas di ingatan nya.Malik yang melihat perubahan itu mengajak Lea untuk pergi dari sana.


*


*


*


***** Love you All ❤️❤️❤️ besok lebaran selamat Idul adha ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2