Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Istri Durhaka


__ADS_3

Meskipun mendapatkan peringatan dari James dan Andre. Yuna tetap bersemangat pergi menemui Edward, dia berdalil ini adalah urusan bisnis dan harus menemani Ricki sebagai seorang sekertaris. Namun penampilan dia terlihat sangat berlebihan dan membuat Ricki yang baru saja keluar dari kamar mandi de.gan masih mengenakan handuk yang melilit pinggangnya itu menghampiri Yuna yang duduk di meja rias.


"Kenapa harus dandan berlebihan?" Ricki mengambil sisir yang ada di sana, dia melihat pantulan wajah Yuna di cermin yang full makeup.


"Gak beagus, seperti badut," sambungnya.


Yuna membalikan badan dan mendongak menatap Ricki. "Masa sih? perasaan ini udah tipis deh."


"Mana ada, tuh lipstik kemerahan. Alis tebal persis punya Shinchan, bulu mata udah lentik ngapain ditambah lagi. Kamu mau ke kantor, bukan ke pesta," cicit Ricki.


"Aku kan mau ketemu Edward, harus istirahat dong."


"Heleh. Yang ada kamu diketawain orang, itu muka udah kayak apa. Jelek, cuci muka sana!"


"Gak! Aku dah dari subuh dandan."


"Ya udah, gak usah ikut. Aku malu punya sekretaris mirip ondel-ondel."

__ADS_1


"Dih, masa di hapus," keluh Yuna.


"Hapus atau gak ikut," ancamnya.


"Iya, iya." Yuna beranjak dari duduk, dia menghentakkan kaki dua kali dan pergi berlalu menuju kamar mandi.


Seperginya Yuna Ricki tersenyum tipis, dia puas telah membodohi istrinya. Ricki menjulurkan wajah ke arah kamar mandi, di ras aman dia kemudian memasukan alat make up ke dalam kantong plastik, kemudian dia menuju ke luar kamar dan melambaikan tangan memanggil pelayan. Meminta pelayan itu membuang semua alat make up Yuna. Pelayan itu mengerenyitkan dahi, tetapi dia tidak bisa menolak. Hingga akhirnya menurut saja.


Ricki kembali menutup pintu dan tersenyum lebar, dengan menepuk kedua tangan seraya bergumam. "Enak aja, dandan cantik untuk orang lain. Mampus, biar jelek sekalian saat ketemu Edward. Haha." Ricki tersenyum devil.


Seperti seorang yang tanpa dosa Ricky berjalan dengan bersiul, dia tampak sangat bahagia padahal Yuna sudah menyambutnya dengan wajah murka dan bertolak pinggang.


"Di mana alat-alat make up milikku?"


Ricki tidak menjawab dia hanya mengedipkan bahu.


"Dih, mana saya tahu kamu yang pakai tanya ke aku," jawabnya.

__ADS_1


"Aku yakin ini pasti ulahmu kan?" tuduh Yuna.


"Coba kamu pikir untungnya apa aku menyembunyikan alat-alat make up-mu. kamu pikir aku biar tidak normal? makanya kalau nyimpen sesuatu itu yang rapi jangan asal," sahutnya dengan berlalu.


"Orang aku simpan di sini tadi kamu bilang aku suruh cuci muka karena terlalu menor. Sekarang pas aku mau merias wajah semuanya jadi nggak ada siapa lagi kalau bukan kamu." Yuna bersikukuh menuduh suaminya.


"Mungkin kamu lupa kali. ada tanya pelayan deh. lagian buat apa sih dandan," cicit Ricki.


"Ya buat Edward lah masih nanya juga."


"Ini nih contoh istri dajjal. berdandan bukan untuk suami malah untuk tunangan orang lain. dah gak usah dandan buruan, telat nih."


"Gak. masa mukaku jadi pucat begini kayak orang sakit tau nggak."


"Ya udah nggak usah berangkat."


Yuna tidak memiliki pilihan lain semua alat tempurnya sudah dibuang oleh Ricky, dia juga sudah bisa menebak bahwa itu perbuatan suaminya tapi tidak memiliki bukti dan terang saja pria itu akan terus mengelak. Yuna sudah sangat lelah terus berdebat dengan pria itu setiap hari. Dia harus mengalah, tetapi bertemu dengan Edward dengan keadaan seperti ini sungguh membuat dia tidak percaya diri. ingin sekali dia memaki tapi tak ada bukti. Yuna bimbang bertemu dengan Edward dengan muka pucat seperti ini sungguh memalukan tetapi jika tidak pergi ini adalah kesempatannya, tanpa alasan pekerjaan dia tidak akan diizinkan oleh James. Dia itu sekarang lebih otoriter.

__ADS_1


__ADS_2