Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Season 2_ Berpura-pura Tegar


__ADS_3

Follow Ig otor Yustian_Yuliana


Fb_ Yuliana Yustian


Suara tepuk tangan nyaring terdengar memecah kebisuan malam, benturan gelas menghempas kesunyian. Para tamu bersulang dengan diselingi tawa renyah yang terlukis dari bibir mereka. Gaun indah membalut tubuh para tamu perempuan, memberikan kesan mewah dan menunjukan bahwa pesta ini bukan dari kalangan biasa.


Kebahagiaan terpancar dari wajah Helena yang baru saja bertukar cincin. Kini mimpinya menjadi kenyataan, resmi sebagai calon istri Edward. Suami sahabatnya sendiri. Di tengah keramaian dan kebahagiaan ada hati yang bergejolak menahan nyeri. Yuna diam tak bergeming menyaksikan pertunangan suaminya. Jiwanya porak-poranda tak bersisa. Napasnya tercekat, ia seakan sulit untuk menghirup oksigen.


Yuna berdiri bersisian dengan Ricki, berada di tengah-tengah tamu undangan.  Beberapa kali Yuna menghembuskan napas kasar, mencoba agar ia terlihat biasa saja. Sekuat tenaga ia berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, bertepuk tangan meski hatinya terasa hambar. Ricki mengerti bagaimana perasaan wanita bersurai pirang ini, tangannya terulur merengkuh pundak Yuna, memberikan kekuatan.   Yuna mendongak menatap Ricki, hingga pandangan mereka beradu, Ricki memiringkan wajahnya dan tersenyum tipis.


"Kau pasti kuat." Ricki berbisik. "ini hanya tunangan, belum menikah, kau masih memiliki kesempatan," serunya. Tangan Ricki beralih mencubit hidung mancung Yuna. Yuna mengangguk, hatinya terenyuh. Ia cukup beruntung memiliki suami yang begitu pengertian.


"Jangan sedih nanti aku belikan balon," godanya dengan terkekeh.


Mendengar itu, wajah Yuna berubah muram, hilang simpati yang tersisa hanya kekesalan yang menjalar. "Kau pikir aku anak kecil, hah?!" sungut Yuna dengan menatap sengit.


"Salah lagi, kan aku mau kasih kamu balon. Apa yang salah? Anak kecil aja suka," cicit Ricki tanpa dosa dengan tersenyum cengengesan. Tangannya mengacak rambut Yuna. "Udah ya, udah. Nanti kukasih permen deh," bujuknya dengan melebarkan senyuman dan itu terlihat sangat menyebalkan di mata Yuna.


"Jangan mengacak rambutku. Apa kau tahu? Aku berdandan hingga dua belas jam!" berang Yuna. Ia memelototi Ricki.


"Kondisikan matamu, itu mata apa biji jengkol?" sahut Ricki dengan mengulum senyuman.


"Kau ini! Kenapa menyebalkan sekali, aku sedang kesal!" Yuna mengepalkan kedua tangannya.


"Kesal ko bilang-bilang," cicit Ricki.


"Au, ah gelap!" Yuna mendelik.


"Gelap di Hongkong! Terang begini," jawab Ricki dengan melihat sekeliling dan membuat Yuna semakin geram, ia menginjak sepatu Ricki dan pergi bejalan cepat meninggalkan Ricki yang sedang meringis kesakitan.

__ADS_1


"Ah, ****! sakit  sekali," desis Ricki. "Dasar, istri tidak ada akhlak! "Aku menyesal mengkhawatirkan perasaannya," sungut Ricki.


<<>>


Acara pertunangan selesai, menyisakan acara jamuan makan malam untuk para tamu. Helena berjalan mendekati wanita paruh baya yang mengenakan long dress tanpa lengan berwarna late. Ia berdiri anggun dikelilingi teman sosialitanya. Wanita paruh baya ini adalah ibu Edward. Helena menghampiri sang calon ibu mertua, ia mendekatkan bibirnya dan membisikan sesuatu.


"Mom, aku melihat Anastasya."


"Apa?" Mata wanita tua ini membulat sempurna. "kau pasti salah, Helena. Bukankah dia sudah mati? Tidak, ini tidak mungkin!" Karena kaget wanita paruh baya ini tidak bisa memelankan suaranya. Membuat tamu yang berada di sekitarnya, menoleh ke arah mereka. Kedua perempuan ini tersenyum malu dan pergi menjauh dari keramaian.


Mereka pergi ke tempat yang sepi dan minim pencahayaan.


"Lihatlah wanita itu." Helena mengangkat jarinya di udara menunjuk Yuna yang sedang duduk di bawah pohon, jauh dari keramaian.


"Aku tidak jelas melihat wajahnya."


"Apa kau yakin dia Anastasya?"


"Entahlah, hanya saja dia sangat mirip."


"Jika kau ragu kenapa kau tidak mencari tahu."


"Caranya? Dia tidak akan mengaku. "


"Bodoh! Bukan begitu."


"Lalu, gimana caranya, Mom?"


"Anastasya dia wanita yang terdidik."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Kau cari saja keributan dengannya. Kita lihat reaksi dia. Setelah itu, jika kau belum yakin. Kau bisa meminta dia bernyanyi dan bermain musik. Kau ingat bukan bahwa itu satu-satunya hal yang tidak bisa dilakukan olehnya."


"Bagaimana kalau kita minta dia menyanyi sekarang? Setelah itu aku akan mencari masalah setelah puas mempermalukan dia."


"Terserah kau saja. Apa rencanamu, Helena?" selidiknya. Helena membisikan sesuatu di telinga sang calon ibu mertua. Kemudian keduanya tersenyum devil.


Bersambung,


Maafkan jika ada plot hole atau apapun beri tahu aku dengan komen, karena terlalu lama hiatus.


Maaf lagi dah, sudah terlalu lama up, tapi kalau mau yang tiap hari up. Bisa baca karyaku di aplikasi unyu, itu loh kuda poni yang lari-lari 💜 Free koin🤗


_ The Shackle Of Ayesha Love_


Salam kenal dari aku Yuliana Yustian, semoga karya remahan ini bisa menghibur. Jujur aku nulis ini untuk mengobati kerinduan pada anak pertamaku, Yuna. Selain itu, aku kembali nulis untuk kalian pembaca yang pernah DM dan PC aku. Aku tulis ini spesial pake telor buat kalian. Ayo baca ulang😅. Buat yang baru baca, uwuuu muakasih banyak-banyak mau baca karya remahan ini🤭


Kalau ikhlas kasi like, komen.


Vote, gift, gimana Thor?


Terserah, aku tidak maksa, kasi silahkan kaga ya harus😅😅


Maksa itu, Thor!


Wkwkwk😅😅


Terimakasih 😍

__ADS_1


__ADS_2