Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Flashback, Awal Kehancuran


__ADS_3

Helena membuntuti Edward tanpa rasa malu dan seperti tak bedosa. Sampai di halaman parkir, Edward bergegas menuju mobil mewahnya yang tengah terparkir.


Perlahan ia meletakan istrinya di kursi penumpang. Mengusap rambut dan mencium kening wanita yang begitu sangat ia cintai. Senyuman melekat indah terukir di wajah tegas Edwart saat menatap sang istri.


Disampingnya, Helena tengah berdiri ia tidak bisa menyembunyikan rasa tidak  sukanya melihat dua insan yang saling mencintai itu.


Edward berbalik dan menatap tajam, tatapan penuh kasih sayang itu berubah menjadi tatapan kebencian.


Tidak banyak bicara Edward mencengkeram dagu wanita di hadapannya. Helena terkejut dengan perubahan pria di hadapannya ini. Biasanya meski dingin ia tak pernah berlaku kasar padanya.


"Jauhi istriku!" bentaknya. "A-apa- maksudmu," ucapnya dengan terbata. Saat ini Edward sangat mengerikan matanya merah cengkraman tangan pada dagunya pun semakin sakit ia rasakan.


Ck.


"Kau pikir aku tidak tahu, siapa yang selama ini menjebak istriku!" sentaknya dengan mendorong wanita di hadapannya hingga wanita itu tersungkur ke lantai dengan deraian air mata. "Bangun!" Atau akan ku buat kau tidak mampu berdiri selamanya!" Helena segera meraih kaki pria dingin di hadapannya dan bersimpuh.


"Jauhkan tangan kotormu dari kakiku! Selama ini aku sudah cukup sabar menghadapimu, aku menahannya! Kau tahu kenapa? Karena aku tidak ingin melihat istriku kecewa ternyata selama ini dia memiliki sahabat seorang iblis sepertimu!" 


"Aku mencintaimu, Edward!" teriakannya memecah keheningan. "Kenapa harus dia yang kau cintai?! Dia terlalu beruntung mendapatkan semuanya! Sedang aku, aku tidak punya siapapun dan apapun!" tangisannya, sedikitpun tak merubah pendirian Edward.


"Kau tidak bersyukur, itu yang tidak kau miliki! Kau tidak tahu, seperti apa Ana hidup sedari kecil! Sudahlah, aku sudah muak melihat wajahmu!" ucapnya dengan iniberlalu.


"Aku akan pastikan kalian berpisah!" ancamnya. "Apa kau bilang?" Edward berjongkok dan kembali meraih dagu wanita di hadapannya. "Berani kau menyentuhnya, aku pastikan kau akan menyesal seumur hidupmu! Satu lagi, mulai sekarang pergi dari hadapan ku dan Ana! Jangan pernah kau tampakan wajahmu di depan istriku, kau paham!" ancamnya dengan mendorong wanita di hadapannya.


***

__ADS_1


Semenjak kejadian itu, Helena dan Eliot tidak pernah menampakan diri mereka di hadapan Ana dan Edward.


Beberapa kali Ana menanyakan perihal sahabatnya, namun tidak pernah ada jawaban dari suaminya. Pria dingin itu masih diam ketika Ana terus mendesaknya agar mau menceritakan kejadian malam itu.


Ia  tidak pernah ingin melihat istrinya terlihat sedih menerima kenyataan bahwa sahabatnya adalah wanita iblis berkedok malaikat di depan istrinya.


Ana selalu mencari tahu keberadaan Helena, namun tetap saja dia tidak menemukanya. 


Helena bukanlah wanita yang mudah menyerah, ancaman Edward tidak membuatnya jera. Ia mengetahui kelemahan Pria dingin itu terletak pada ibunya.


Dua tahun menghilang dari kehidupan Ana, wanita bermata tajam itu mendekati Mamy Edward. Obsesinya terhadap pria berwajah tegas itu, membuatnya gelap mata. Segala cara ia lakukan untuk mencelakai Ana. Namun, ia selalu gagal.


Ia lupa bahwa Ana adalah sahabat yang baik, yang selalu membantunya  baik dari segi academic maupun materil. Di hati dan pikiranya sudah terikat cinta yang salah, sehingga logikanya sudah tak berfungsi.


Ancaman Edward sedikitpun tak membuatnya mundur. Dengan bantuan nyonya Fern yang adalah ibunda Edward ia kembali menyusun rencana untuk menghancurkan pernikahan Ana.


Pasangan yang tengah bahagia itu juga sudah merencanakan tentang seorang buah cinta mereka, pembicaraan panjang pun terjadi di antara mereka di setiap malamnya.


Sudah tiga bulan berlalu Ana tak meminum pil penunda kehamilan, kehadiran bayi mungil sangat mereka harapkan mereka pun tengah tinggal di sebuah rumah mewah di kota itu.


Selama program kehamilannya, Ana sudah fakum di dunia  bisnis. Semua tender besar di negara besar ini hanya ditangani Edward. 


Senyuman terukir indah dari wajah mungilnya, meja makan sudah penuh terhiasi sajian makanan kesukaan suaminya. Lilin- lilin kecil yang menyala menambah keramain meja itu.


Ana masih memegangi amplop putih dari Dokter yang memeriksanya tadi siang. Sesekali ia tersenyum dengan mengusap perutnya yang masih datar. 

__ADS_1


Ia sudah membayangkan wajah bahagia sang suami saat mengetahui kabar gembira ini. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. Akhirnya, cita- cita mereka akan segera terwujud.


Sedari kecil mereka bersama. Ana tak pernah menyangka sebentar lagi akan hadir pelengkap kebahagian mereka. Akan ada suara tangisan bayi yang menggemaskan.


Ia sudah tak memikirkan tentang kelanjutan studinya. Ia hanya ingin segera menimang sang buah hati dan membesarkannya bersama orang yang sangat ia cintai.


Ana nampak gelisah saat melihat jam dinding yang melekat indah menghiasi kediamannya. Ia berjalan mondar- mandir menunggu suaminya. Sesekali ia membuka jendela dan keluar rumah untuk menunggu kedatangan suaminya. Ia terus menghubungi suaminya tapi tidak ada jawaban. 


Malam ini gerimis turun menyapa, hati wanita mungil itu sudah nampak gelisah. Entah, apa yang tengah terjadi. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tidak biasanya suami kesayangannya itu pulang selarut ini tanpa sebuah kabar.


Ia akan keluar untuk menemui James yang tengah berjaga di halaman depan rumahnya, memintanya untuk mengetahui keberadaan suaminya itu adalah hal yang tepat saat ini.


Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat benda persegi ditangannya menyala. Sebuah notif pesan masuk. Seketika matanya terbelalak melihat isi pesannya. Ia segera masuk ke kamarnya dan menyambar jaketnya. Memasukan amplop putih ke dalam tasnya.


Tidak banyak bicara ia mengambil kunci mobil ia menyalakan mobil dengan tergesa. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. James membuntutinya hampir ia kewalahan mengimbangi cara menyetir Ana. jika bukan sama profesionalnya mungkin ia akan kehilangan jejaknya.


Mobilnya terparkir sempurna di sebuah hotel mewah, ia bergegas masuk mengikuti arahan isi pesan di ponselnya.


 


Dengan langkah sedikit berlari ia menyusuri setiap kamar hotel. Matanya terhenti disalah satu kamar, tidak banyak bicara ia mambuka pintu yang tidak dikunci itu, tanpa ragu dia memutar door handle sekerika daun pintu yang tertutup sempurna itu terbuka lebar, menampakan sesuatu yang mengejutkan mata dan hatinya.


Tangannya bergetar hebat atas apa yang dia lihat, matanya terbelalak, ia tidak pernah menyangka kebahagiaan yang dia impikan hancur sudah malam ini. 


Senyuman yang sedari pagi menghiasi harinya kini musnah, matanya memerah menahan amarah, tangis sudah membanjiri wajah mungilnya.

__ADS_1


Ia menutup mulutnya tak berdaya, mengusap perutnya dengan hati yang hancur tubuhnya bergetar hebat menahan sesak. Apa yang dia lihat menghancurkan jiwanya.


TBC


__ADS_2