Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Season 2 Pria Misterius


__ADS_3

Acara hiburan masih berlanjut, tetapi Ricki membawa sang istri meninggalkan panggung dengan sedikit perdebatan. Namun pasangan suami istri ini, bisa berakting sangat baik ketika di depan orang mereka tampak seperti pasangan yang romantis dan harmonis. Siapa yang menyangka di balik keceriaan dan senyum Yuna tersimpan luka yang mendalam.


"Hay, mau dibawa ke mana aku!"


"ke mana aja. asalkan jangan bikin malu mana mungkin pesta senyawa ini kau ajak tamu dangdutan," omel Ricki.


"Kamu tidak tahu saja mereka pasti akan suka. hanya saja orang-orang elit ini bertingkah sok elegan padahal pasti ingin bergoyang juga."


"Jika kamu terus membuat anak lebih baik kita pulang!"


Yuna tidak memberontak lagi dia berpikir itu keputusan yang cukup baik, karena lebih lama berada di tempat ini hatinya akan semakin sakit. melihat Helena bertunangan dengan pria yang sampai detik ini belum resmi bercerai dengan dirinya. Namun, langkah pria itu terhenti ketika seseorang memanggil namanya dan ternyata pria itu adalah rekan bisnis. Mereka saling menyapa, dengan bangga Ricki memperkenalkan istrinya.


"Anda yang tadi bernyanyi di atas panggung?" tanyanya.


"Iya. Maaf jika suaraku menyakiti pendengaran Anda," sesal Yuna.


Pria itu menggeleng cepat dan dia justru memuji, perempuan bergaun grey itu sangat tidak suka ada orang yang menyanjung dirinya berlebihan, karena pasti ada sesuatu hal di balik itu, sehingga dia memutuskan untuk pergi meninggalkan klien suaminya. Memberikan ruang untuk mereka berbicara.


"Jangan jauh-jauh," ucap Ricki.


"Iya. Aku di taman belakang," jawab Yuna.

__ADS_1


Duduk di teras belakang gedung dengan memeluk lututnya, senyum dan tawa yang sejak tadi dipamerkan tidak seperti yang dirasakan. Hatinya begitu sangat perih, nyeri melihat Edward bertunangan dengan Helena. Dia menenggelamkan wajah di kedua lutut. Tanpa disadari seorang pria duduk di samping Yuna dan pria itu menyodorkan sapu tangan di depan wajah Yuna seraya berkata, "Jika tangis itu diketahui orang lain, maka sudah bisa ditebak semua penyamaran akan sia-sia."


Yuna menoleh dan menatap pria yang sedang duduk di sampingnya, dia mengamati pria yang terlihat lebih muda, ada perasaan aneh dalam hati. Jantung yang berdegup lebih kencang, tetapi dia tidak mengenalnya. Namun, apa yang membuat pria itu berkata seolah-olah mengetahui banyak hal tentang dirinya. Yuna mengambil sapu tangan, mengusap wajahnya yang basah kemudian membuang ingus di sapu tangan dan kembali memberikan sapu tangan lengket itu pada sang empunya.


"Ambil saja," ucap pria itu dengan meringis.


"Air mata itu akan membawa petaka, jika dilihat oleh mereka." Pria yang mengenakan potongan tiga setel itu kembali berucap.


Yuna semakin yakin bahwa pria misterius ini mengetahui sesuatu, tetapi dia tidak ingin terjebak dan harus bersikap biasa saja.


"Aku gak nangis, orang tadi cuma kelilipan," kelit Yuna.


Pria itu terkekeh pelan, "Sedari dulu saat terdesak, sering memberikan jawaban yang tidak masuk akal."


"Emang kamu siapa?" Yuna memiringkan wajahnya ke satu sisi. "Sok tau!"


"Anda tidak kenal dengan saya?"


"Saya tidak suka bermain teka-teki, siapa kamu dan apa maumu?"


"Aku hanya ingin Anda tidak ceroboh, karena bukan hanya Anda yang ingin membuktikan sebuah kebenaran."

__ADS_1


Yuna masih tidak ingin banyak bicara, dia benar-benar penasaran siapa pria ini. Namun dunia Anastasya sangat kejam, dia harus waspada dengan orang asing dan tidak boleh terjebak.


"Aku tidak mengerti arah bicaramu." Yuna membuang wajah ke satu sisi, tetapi matanya masih melirik, mencoba berusaha membaca ekspresi wajah pria itu. Nihil, semua terlihat datar.


"Siapa dia? Pandai sekali menyembunyikan sesuatu," batin Yuna.


"Aku tahu Anda penasaran dengan saya, akan tetapi tidak mungkin mengatakan siapa saya sebenarnya. Saya berharap akan bertemu Anda kembali, permisi!" ucapnya dengan beranjak dan berlalu.


"Jaga dirimu baik-baik. Sekarang kau begitu pandai bersandiwara. Namun, jangan lupa masih banyak mata-mata jadi aku rasa menangis di tempat ini adalah tindakan paling bodoh!"


Yuna tidak terima dikatakan seperti itu, akan tetapi bukan itu yang membuat dia menahan pria itu, melainkan ada hal lain yang lebih penting. Dia beranjak dari duduk dan berseru, "tunggu!"


"Besok, arah jam enam dari perusahaan tempat Anda kerja. Tepat saat senja akan pergi." Setelah mengucapkan itu, dia meninggalkan Yuna begitu saja.


Yuna hanya diam membisu tidak lama setelah itu, Ricki datang dengan napas tersengal-sengal.


"Hay, aku nyari kemana-mana ternyata ada di sini! Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi hah?"


"Ayo pulang!" Yuna mengabaikan ocehan pria dan menarik tangan Ricki.


"Kamu kenapa? Nangis ya?" tebak Ricki.

__ADS_1


"Berisik!" bentak Yuna.


"Ini nih, contoh istri gak ada akhlak," gerutunya.


__ADS_2