
Ini adalah kali pertama James dan Andre bertemu, di sebuah rumah besar milik Yuna mereka bertiga melakukan pertemuan. Di sebuah meja bundar Yuna duduk di head, James dan Andre saling berhadapan. Sebagai orang yang sudah lama bergelut dengan dunia hitam, James bertanya dengan sangat mendetail kepada Andre.
"Tidak ada orang yang tulus di dunia ini, Jadi apa yang diinginkan oleh mereka setelah menyelamatkanmu," selidik James.
Satu kata pun belum terucap dari bibir Andre tetapi pria itu seolah-olah mengetahui semua. tidak heran karena itu hal yang biasa dalam dunia mereka.
"Suaminya, kini berada di dalam cengkraman Erik," ucap Andre.
James berdecak, "Sudah aku duga. lalu?"
"Dia memohon untuk meminta bantuan kalian untuk melepaskan."
"Aku sudah mempelajari semuanya," ucap Yuna.
"Apa yang kau ketahui?"
"Aku tidak tahu sedekat apa Ibu Edward dengan Erik. dalam kasusnya Ibu Erna dia seperti orang yang melindungi bisnis Erik. aku mencurigai sesuatu?"
"Kita tidak emiliki bukti untuk itu."
"Tapi kau memiliki mata dan telinga, James!"
"Aku tidak ingin terlibat lebih jauh Yang sekarang kita harus pikirkan adalah menyingkirkan Helena. Satu persatu dulu setelah itu kita cabut akarnya."
"Bukankah lebih baik kita langsung mencabut akar?"
James menggeleng, Dia tidak setuju untuk langsung menyerang Erik. harus mengambil terlebih dahulu, orang-orang yang mendukung mereka. setelah kekuatan pria itu lemah maka di sanalah waktu yang tepat untuk menjatuhkannya. merampas kembali hak yang sudah diambil oleh mereka. namun mereka membutuhkan waktu yang cukup lama, jika terlambat maka semua penyamaran Yuna selama ini akan sia-sia. kehidupan mereka seperti benang kusut yang sulit untuk dirapikan dan terlalu banyak misteri dan rahasia yang bersembunyi di baliknya. jarum kecil yang terlilit benang itu siap untuk melukai tangan siapa saja yang menyentuhnya, kasus ini terlalu rumit untuk dipecahkan karena saling berkaitan.
__ADS_1
"Helena bukan anak Erik!" ucap James dengan menyodorkan berkas.
"Sebenarnya dia hanya korban, jadi tidak sepenuhnya bersalah."
Yuna menggebrak meja dengan sangat keras ketika pria itu mengatakan hal demikian. salat mata perempuan itu menyalat tajam gini dia tidak lagi bersembunyi menjadi kucing manis, perpaduan antara sikap Yoona yang barbar dan Anastasia yang lembut di luar tapi kejam di dalam kini telah menyatu.
"Kau bilang dia tidak bersalah? dia yang merampas Edward dariku!"
"Kita sudah berbicara selanjutnya bukan urusan percintaan. sebaiknya kamu bisa memilah ini dua perkara yang berbeda, kok tidak bisa menyelesaikannya dengan berbarengan. Aku rasa kau cukup cerdas!"
"Duduklah," seru Andre. "Dengarkan James."
"Untuk urusan percintaan itu bisa diselesaikan belakangan, aku yakin setelah Helena tahu dia sedang dimanfaatkan akan berpikir seribu kali untuk tetap membela Erik. Kau bisa mengingat perbuatan baik dia ketika masih kecil padamu."
"Itu masa lalu, sekarang dia musuh terbesarku!"
"Aku rasa sekarang kok mulai kurang ajar padaku James! Aku ini Nonamu, Anastasya."
Sejenak pria itu diam tidak lagi mengucapkan satu patah kata pun, lalu dia kembali menyampaikan rencana. Apa yang harus mereka lakukan terhadap Erik.
Ketika Yuna dan orang-orang di masa lalu mulai menyusun rencana penyerangan, berbeda dengan Edward. Pria itu lebih banyak diam sekarang, bagaimana pun dia masih belum menerima kepergian istrinya. Saat ini pria itu sedang berdiri di balkon, memegangi kalung peninggalan sang istri di saat kecelakaan. Dalam hati kecilnya, dia berharap bahwa Yuna adalah Anastasya di masa lalu, tetapi saat melihat sikap Yuna di pesta pernikahan yang tampak biasa dan ceria membuat dia sadar. Meruntuhkan harapan dan mimpinya. Terlebih Yuna bisa bernyanyi dengan indah sedang dia tahu bahwa menyanyi dan memainkan alt musik itu adalah satu-satunya yang tidak bisa di lakukan oleh istrinya. Sebuah kelemahan Anastasya.
"Aku pikir kamu adalah orang yang sama, ternyata aku terlalu banyak berharap," keluh Edward.
"Tapi Kenapa, meski aku tau Yuna bukan Anastasya, aku merasa getaran yang hebat di jantungku. Harusnya itu tidak terjadi pada orang asing."
Edward masih belum bisa menerima jika Yuna bukanlah istrinya, ada perasaan tidak rela. Tapi logikanya berpikir lebih jernih, dia tidak mungkin menyakiti Ricki, karena telah baik padanya selama ini. Edward merasakan kerinduan yang menjalar ke seluruh tubuh, akan tetapi dia tidak mungkin terus-menerus mencari cara untuk dekat dengan Yuna. Tapi cinta kadang membuat dia tidak ingin menggunakan logika dan akal sehat.
__ADS_1
"Tidak akan menyakiti, jika aku hanya menjalin hubungan pertemanan saja. Aku rasa Rickie akan mengerti, aku hanya sedang ingin melepaskan kerinduan pada istriku yang telah tiada."
Edward benar-benar nekat, dia menghubungi Rickie, meminta pria itu untuk melakukan pertemuan. Alasan kerja sama degan perusahaan itu mempermudah caranya untuk dekat dan melihat Yuna, terlebih perempuan itu adalah sekertaris Ricki. Terkadang dia merasa iri, karena Rickie sangat beruntung memiliki seorang sekertaris istrinya sendiri.
Ricki yang baru saja menerima panggilan dari klien terbesar dan menurut dia paling menyebalkan itu, sedikit kesal. Wajahnya kembali murung dan itu membuat Erna yang sedang berada tak jauh dari tempatnya bertanya. Saat ini mereka memang sedang berada di taman belakang, menikmati kopi racikan khas daerah Toraja.
"Siapa? Baru angkat telepon kamu murung gitu."
"Edward, ngajak makan siang. Katanya ada yang ingin dibicarakan. Tapi aku yakin, bukan itu tujuan utamanya," keluh Ricki. Dia memang tidak bisa merahasiakan apapun dari ibunya.
Erna mengangkat cangkir, meneguk kopi setelah dia meniup pelan. Menghirup aroma khas dan rasa yang pekat dari kopi racikan itu. Dia melirik ke.aeah Ricki yang menunduk dengan tatapan sendu, kemudian dia kembali menyimpan cangkir di atas meja.
"Bukan mengeluh tapi berjuang," ucap Erna.
"Berjuang untuk apa? Yuna hanya mencintai Edward, aku hanya perisai pelindung. Dengan kata lain, kami hanya terikat tanpa bisa memikat."
"Elah. Kalau gitu kamu buat dia terpikat."
"Caranya?"
"Edward itu masa lalu Yuna, sekarang dia istrimu. Kamu punya kesempatan untuk mengambil hatinya. Manfaatkan waktu yang ada."
"Tapi aku janji untuk membantu dia aga bisa kembali pada Edward."
"Emang kamu ikhlas?"
Ricki diam tidak menjawab. Erna kembali bersuara. "Ngomong gampang aku bahagia asal kamu bahagia. Nyatanya? Cinta itu egois. Jangan sampai nyesel." Erna beranjak dari duduk, meninggalkan pria itu dengan pikirannya.
__ADS_1
Ricky mengusap wajahnya dengan kasar seraya bergumam. "Ini salah, aku tidak bisa mencintainya, karena aku sudah memiliki janji dengan seseorang."