
Ricki dan Yuna berjalan beriringan. Yuna terus mengomentari suaminya yang mengenakan kaos oblong dan sarung saja. Apalagi sekarang mereka sangat hobi mengurus ayam jago peliharaan Yuna.
"Kamu itu gak ada keren-kerennya tahu nggak sih, mana ada CEO yang pakai kain sarung seperti ini," omel Yuna.
"Elah. bapakmu juga begini kan kalau di rumah."
Ricky membenarkan kain sarung yang hampir melorot.
"Ya tapi ini seperti orang yang mau sunatan aja tau gak!"
"Bodo amat dah. Ribeeeet aja. Lagian masa aku pake jas dan kemeja saat mainin ayam."
"Ya tapi kan ....."
"Kamu mau lihat gak apa yang ada dibalik sarung?" seloroh Ricki.
"Sini aku lihat biar sunatin aja dua kali." Yuna yang melewati dapur, mengambil pisau kecil.
"Dih aku becanda." Ricki berlarian dan dikejar oleh Yuna dengan mengacungkan pisau dapur.
"Sini aku sunaaaat!" teriak Yuna.
Mereka berlarian seperti anak kecil dan hal ini memang sering terjadi, saat bersama suaminya yang baru Yuna selalu merasa ada sejahat yang menjengkelkan dan membuat dia lupa akan beban hidup. Ricki selalu bisa membuatnya tertawa dan bertingkah konyol bebas melakukan apapun tanpa ada aturan dan tekanan.
"Sini kamu!"
"Tidaaaaaaak!"
"Dasar pasangan suami istri gak waras," celetuk Erna dengan menggelengkan kepala.
"Woy. Ada tamu, kenapa kalian seperti anak kecil. Bikin malu aja!" sembur Steve yang baqu datang.
"Masa kecil kurang bahagia, sudah besar kurang gairah."
__ADS_1
"Lho kok gairah Mom?"
"Ya iya. Mereka tiap hari begitu terus, kapan bikin anaknya coba."
Yuna dan Ricki sudah terbiasa dengan godaan keluarga ini yang mengatakan mereka tidak memiliki gairah karena belum juga memiliki seorang anak. Sampai di ruang tamu, Ricki tiba-tiba menghentikan langkah.
"Kena kau!" Yuna menangkap tangan Ricki.
"Apa?"
"Noh!" Ricki menunjuk Edward yang sedang duduk dan yang membuat mereka terkejut ternyata Edward melihat kelakuan keduanya.
Melihat pria yang selalu ada dalam pikirannya membuat perempuan itu menjatuhkan pisau. jantungnya berdegup lebih kencang ketika melihat pria itu Dia merapikan dandanannya yang berantakan, apalagi tadi dia ditabur bergelut dengan bumbu sehingga pakaiannya sedikit kotor dan rambutnya kusut.
"Kenapa Jessica tidak bilang kalau yang datang itu Edward aku kan bisa dandan dulu," cetus Yuna.
Ricki mengusap wajah istrinya itu dengan telapak tangan. "gini-gini aku juga suamimu hargain apa."
"Berapa sih harganya?"
"Kalau di rumah mereka seperti Tom and Jerry. aku juga nggak ngerti kenapa Kakak bisa memimpin perusahaan dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan. Maklumi aja mereka itu tidak pernah bisa berpikir dewasa," cicit Jessica.
"Bayangkan saja sampai sekarang juga mereka belum punya anak. Ups." Jessica menutup bibirnya, dia keceplosan.
"Belum punya anak? Bukankah mereka sudah memiliki seorang putri?" selidik Edward.
Jessica yang merasa takut dengan tatapan tajam kedua kakaknya itu langsung beranjak berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Ricki dan Yuna berjalan menghampiri Edward. pria itu beranjak dari duduk dan tersenyum tipis ke arah mereka.
"Sepertinya aku melihat anda sudah lebih baik Tuan Ricky," ucap Edward.
Ricky mengangguk. dia akan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena itu sebuah kebiasaan tetapi dengan cepat tangan Yuna menepis tangan suaminya agar tidak melakukan tindakan hal yang bodoh.
"Kalian pasangan yang serasi," celetuk Edward.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang kalau mau datang," tanya Yuna.
"Eum, iya. aku kebetulan lewat daerah sini dan dengar kabar Kalau tuan Ricky sedang sakit maka dari itu aku menyempatkan diri untuk mampir untuk melihat keadaan Anda Tuan."
"Ah, iya terimakasih. Maaf, jika kami berpakaian seperti ini karena di rumah memang ya beginilah kami," ucap Ricki.
"Anda sendiri Tuan?" tanya Yuna. Dia takut ada Helena dan melihat suaminya baik-baik saja.
"Iya. Seperti yang Anda lihat."
"Oh iya. Ini untuk Tuan." Edward menyodorong buket bunga lili dan parsel berisi buah-buahan.
"Bunga? Kak Yuna pria ini selingkuhan Abang?Tuh, kan. Sudah aku bilang Homo," cicit Jessica.
peletak!
"Ish, sakit," desis Jessica dengan mengusap kepalanya yang sakit di pukul jari Ricki.
"Jangan salah paham, aku sebenarnya ingin memberikan bunga itu untuk istri Anda. Maaf, bukan maksud lain. Hanya saja sedang teringat dengan istri saya yang sudah tak ada," terang Edward.
"Iya terima kasih. Aku suka sekali bunga lili," jawab Yuna. Dia merampas buket bunga dari tangan Ricki.
"Woy, ada suami ini. Jangan begitu napa," protes Ricki. Yuna menjulurkan lidahnya kepada Rickie.
"Sirik aja!"
"Aku sirik? Gak! Emang kamu pikir aku kuburan dikasih bunga," sahut Ricki.
"Kamu pikir aku kuburan apa." Yuna mencubit pinggang suaminya. Ricki menjewer Yuna dan kini mereka saling serang.
"Kalian ini ada tamu malah ribut." Erna tidak mau kalau, memukul kepala anak DNA menantunya dengan kemoceng.
"Mommy, kotor tahu!" teriak mereka bersamaan.
__ADS_1
"Aku senang sekali melihat keromantisan keluarga ini. Anda sangat beruntung Tuan Ricki," ucap Edward dengan tersenyum getir.