Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Best Friend


__ADS_3

"Jadi benar kau adalah Nona Anastasya?" Ricki bertanya karna dia masih belum yakin, atau tidak mau menerima kenyataan akan sesuatu hal. "Lalu, siapa laki- laki yang semalam merawat mu? aku juga masih heran dengan James?" Ricki bertanya tanpa henti, namun Yuna hanya tersenyum semrik.


"Kau ingat aturannya? Jika bertanya kau tahu konsekuensinya bukan? Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi sebelum itu kemari lah akan ku rias wajah mu!"


"Tidak! Apa kau sudah gila, aku tidak mau!" Ricki berdiri dari duduknya karna Ana sudah mengeluarkan peralatan make up-nya.


"Ayolah sayang, tenang saja aku akan membuat Mu sangat cantik. kemari lah sayang!" Yuna mulai mendekati Ricki dengan memegang jepit rambut Doraemon di tangannya.


"Hentikan! Aku tidak mau, ini sungguh memalukan!" sentak Ricki.


"Yasudah, kalau tidak mau, aku tidak rugi! Simpan rasa penasaran mu sampai kau mati! Kalau begitu, permi ...." Yuna hendak berpamitan namun ucapannya terpotong.


"Stop! Baiklah, terserah mau mu!" Ricki berucap pasrah.


"Terlalu ingin tahu membuat harga dirimu hancur, Tuan." Yuna berucap dengan terkekeh.


"Diam lah! atau ku robek mulut mu! cepat lakukan, dan aku akan segera menghapusnya!" geram Ricki.


"Sepertinya ada yang lagi marah. Loh, tidak bisa! Boleh di hapus kalau aku selesai bercerita, oke!" Yuna tertawa puas.


"Terserah, terserah kamu Yuna! lakukan semau mu! biar kau senang. Lakukan saja, lakukan!" Ricki berucap dengan ketidak reraannya.


Yuna sudah mulai menguncir rambut Ricki yang hanya beberapa helai ke atas seperti tokoh Upin dengan ikat rambut Doraemon. dengan menahan tawanya ia melanjutkan memakai lipstik merah cabe miliknya.


"Coba sedikit dimanyunkan bibirmu biar merahnya merata!" titah Yuna.


"Tidak! aku tidak mau!" Ricki dengan cepat menolak. "Kalau tidak dimanyunkan nanti ga rata, malah jadi terlihat seperti banci!" ucapnya dengan menahan tawanya.


Dengan polos Ricki pun percaya. "Benarkah, kalau dimanyunkan jadi tidak terlihat seperti banci ya? tanyanya. "Tentu saja! kau, percayakan padaku, aku adalah ahlinya," Yuna menyombongkan diri dengan menepuk dadanya.


"Baiklah," Ricki memanyunkan bibirnya seketika tawa Yuna pecah tak tertahan, sontak Ricki menghentikan aksinya. Bagaimana tidak wajah Ricki yang tegas, badan roti sobek yang menawan dan dia juga seorag CEO tampan dan berwibawa hari ini hilang dan hancur semua wibawanya.


"Hentikan! tawa mu itu merusak telingaku! kau, sungguh menyebalkan, Yuna!" Sentaknya penuh emosi. "Sekarang, ceritakan semuanya!"


"Baiklah, sebentar aku hanya ingin tertawa sebentar lagi saja!" Yuna tertawa dengan sesekali mengelap ujung matanya yang berair. "Berhenti, atau ku jahit mulutmu!" sentak Ricki. "Oh, jadi Sekarang kau jadi tukang jahit?" ledek Yuna dengan terkekeh. "Yuna!" teriaknya. " Baiklah, gitu aja marah!" gerutu Yuna dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Flashback on


Semenjak Ana tinggal di kediaman Tn. Robert. Ana berteman baik dengan Sela. Hari- hari berlalu begitu cepat. Mereka berempat selalau bersama. Di sini mereka tidak banyak di beri waktu bermain, sejak kedatangannya Yuna langsung bersekolah di tempat umum, bersama edward, Sela dan James.


Meski mereka dari keluarga konglomerat, mereka berempat menjalani hidupnya secara normal, berangkat dan pulang sekolah mengenakan sepeda, sejak saat itu Yuna dan Edward selalu bersama karena Sela selalu ingin di bonceng oleh James.


Rutinitas mereka sangat membosankan menjadi seorang anak- anak meski di sekolah umum mereka juga belajar dengan pengajar - pengajar ahli dan nomer satu di dunia. Sekolah umum bertujuan untuk mengajarkannya hidup bersosialisasi. Hampir setiap harinya mereka bahkan tak memiliki waktu untuk bermain.


Sepulang sekolah, mereka mengikuti mata pelajaran umum dan bisnis, meski masih kanak- Kanak tidak ada toleransi waktu untuk mereka. Hampir 24 jam mereka mengikuti semua materi dari guru ahli dan juga bela diri.


Ilmu bisnis, sudah di tetapkan sejak dini, meski begitu Sela tidak pernah serius mengikuti materi pembelajaran seperti yang lainya. Sedari kecil dia sudah terobsesi dengan James. Di ruangan belajar khusus mereka berempat, hanya sela yang bisa bersikap santai. Dia seperti hiburan yang mencairkan suasana tegang menjadi sebuah guyonan.


James adalah anak yang dingin dan pendiam, kecerdasan juga tidak main- main. Di antara yang lainnya mereka bertiga saling melengkapi setiap kekurangan terkecuali Sela yang tidak pernah serius. Namun, tetap saja mereka saling menyayangi tidak peduli kekurangan di antara mereka.


Siang yang cerah, meski begitu di tempat ini udara selalu terasa sejuk. Sepulang sekolah Sela merengek ingin pergi bermain ke danau yang lokasinya lumayan sangat jauh dari sekolahnya. Tidak memungkinkan mereka pergi mengenakan sepeda mereka. Mereka pergi ke kawah putih ciwidey bandung di antar oleh supir keluarga Endelson.


Bagi mereka memiliki waktu untuk bermain sangatlah langka, harus memiliki alasan yang kuat, untung saja sang supir mengerti dan mau menuruti keinginan mereka. Di tempat ini Sela meminta James untuk mengajarkannya bersepeda. Di antara yang lain Sela tertinggal dalam berbagai hal.


Pemandangan yang indah, danau yang berwarna hijau ke biruan, kawah yang berwarna putih mendominasi di hiasi pepohonan yang nampak seperti musim gugur, Yuna dan Edward menaiki perahu berdua mereka bergantian mendayung sembari menikmati pemandangan yang menyejukkan mata.


Di tempat yang berbeda, James sedang mengajarkan sela bersepeda. James dengan sabar memegangi sepeda sela dan sesekali mendorongnya. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut James, meski Sela berkata seperti burung beo.


"Hemmmm" James hanya bergumam.


James mendorong sepeda yang di tumpangi Sela, keringat bercucuran sesekali ia mengelap keningnya, menghembuskan nafas karna lelah, sela terus mengajak bicara James hanya terdiam dan fokus memegangi Sela. "James, kenapa kau diam saja seperti patung! apa kau sudah bisu, hah?! kenapa kau tidak pernah peduli padaku!" Sela terus mengoceh tanpa henti di katakan tidak peduli James nampak kesal, tak terasa ia menendang sepeda yang di tumpangi Sela hingga Sela terjatuh, Sela menagis tersedu memegangi lututnya yang berdarah.


James terkaget dan segera berlutut di hadapan Sela.


"Makanya, kalau belajar fokus! jangan terlalu cerewet, bikin pusing saja!" Sentaknya sembari membopong Sela duduk.di bebatuan. "Lalu bagaimana dengan lukaku, sakit," ucapnya dengan terisak.


James melepas syal yang ia pakai di lehernya untuk menutupi Luka sela yang terluka, yang terlebih dahulu membersihkan luka Sela dengan air mineral yang ada di tasnya.


"Kenapa kau tidak pernah peduli padaku, James? tanya Sela dengan nada sendu namun tak ada sedikitpun jawaban dari James. "Aku mencintaimu James!" Sela berucap dengan menggoyang tubuh James masih tak ada jawaban. Sela menghembuskan nafas kasarnya. "James jawablah!" James mendonggakan kepalanya menatap Sela. "Kita masih kecil, belum mengerti cinta! apa kau mau aku bonceng bermain sepeda, Kribo?" tanya James. Sela mengerjapkan matanya beberapa kali, karna kali pertamanya James berbicara banyak terhadapnya. "Hey, kalau tidak mau Ya sudah!" James berdiri dan akan berlalu namun langkahnya terhenti.


"Tunggu! tentu saja aku mau," sergah Sela dengan tersenyum Riang. James hanya menganggukkan kepalanya. Sela di bonceng James dengan mengelilingi kawah dengan tertawa riang, sesekali ia mengangkat kedua tangannya dan berteriak, James hanya melirik dan tersenyum. Sela tentu saja memanfaatkan moment ini untuk memeluk James, James hanya melihat tangan Sela yang memeluk pinggangnya dalam diam dia pun menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.

__ADS_1


Hari- hari berlalu begitu cepat, tidak terasa lima tahun sudah berlalu Sejak Ana tinggal bersama Tn. Robert, setiap tahun mereka merayakan hari ulang tahun dan awal pertemuan mereka di rumah pohon, seusai rutinitas mereka yang padat mereka pun selalu bermain dan kadang menginap di rumah pohon taman belakang kediaman Tn Robert.


Hari ini tepat ke lima tahun pertemuan mereka. Mereka kembali merayakan hari ulang tahun Edward dan Ana di rumah pohon, dengan hiasan lampu dan kue ulang tahun sederhana tersaji di sana.


"Ana, Edward, James Kita harus tetap bersama, yah! Apapun yang terjadi! setiap tahun, kita rayakan hari ulang tahun kita di rumah pohon ini! sampai kita dewasa dan tua kita tetap bersama, rumah pohon ini jadi saksi persahabatan kita!" Sela berucap dengan keceriaannya.


"Tentu saja, setiap tahun kan kita bersama, setiap hari juga kita selalu bersama kenapa kau berbicara seperti itu, Sel?" tanya Yuna.


"Entahlah, rasanya malam ini hatiku terasa hampa, aku juga tidak tahu penyebabnya," Sela berucap dengan tatapan sendu.


"Kita akan bersama selamanya, kau tidak perlu khawatir!" ucap Edward dengan mengacak pucuk kepala Sela. "Iyah, kan James!" tanya Edward. Namun, James hanya diam tanpa ada jawaban ataupun anggukan kepala.


...Bersambung...


Intermesso ajh lah yah.


Seorang polisi Batak menilang seorang pengemudi dari jawa karena tidak berhenti saat lampu merah.


Polisi Batak: “Kutilang kau!”


Tadinya si pengemudi mau minta maaf, tapi tiba2 marah.


Pengemudi: “Perkutut kau!”


Gini nih, kalau salah paham😪😂


Biarkan mereka debat soal burung🤔 aku mau minta jejak ajah 😂


Sekilas info


Masuk GC otor pake alesan yah😘


kenapa sih yah gaya pake alesan segala😒


Mohon maaf, biar keren dikit ke olang-olang🤗🤗😘😂

__ADS_1


1.Siapa nama sahabat Yuna/ Ana yang di kirim ke L.A?🤔


jawabannya buat alasan masuk GC. kalau ngga jejak deh banyakin🤧


__ADS_2