Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Menjenguk yang Sakit


__ADS_3

James sudah mempersiapkan semua, dia juga mengumpulkan bukti yang banyak. Semua itu dilakukan tanpa sepengetahuan Yuna. Bukti hubungan Erik, dikirim ke rumah kediaman Edward. Tanpa diduga yang menerima amplop yang di simpan di depan pintu adalah Edward. Dia membuka amplop itu, matanya terbelalak sempurna menatap tak percaya. Ibunya datang dengan menggunakan pakaian kantor, tampak elegan tak tampak bahwa dia seorang perempuan pengkhianat.


"Ada apa?" tanyanya.


"Seseorang mengirim gambar Erik bersama seorang perempuan."


Deg


Jantung perempuan itu berdegup lebih kencang, takut sekali jika Edward mengetahui skandal dia dan Erik yang sudah dijalani sejak dulu.


"Jaman mudah percaya dengan hal seperti ini!"


Perempuan itu merampas amplop coklat di tanah Edward, hal itu membuat anaknya menatap heran. Dengan tangan yang bergetar dia membuka amplop itu, matanya merah padam, tangannya bergetar dan ingin sekali meremas foto-foto yang membuat hatinya berdenyut nyeri.


"Kenapa Mom?" tanya Edward ketika dia melihat wajah ibunya pucat.


"TI tidak, Nak. Kau tahu siapa yang mengirim ini?"


"Tidak. Tapi apa tujuan dia mengirim foto Erik dengan wanita. Sungguh tak ada kerjaan. Lagipula tidur dengan wanita hal yang wajar bukan?"


"I iya."


"Aku tak habis pikir, memang disini rumah istrinya apa. Ah, lagipula Paman Erik memang harus segera menikah."


Wanita itu hanya mengangguk, dia meminta izin pergi meninggalkan rumah dengan membawa amplop berisi foto Erik yang sedang bermesraan dengan wanita lain. Hatinya terbakar cemburu, selama ini dia benar-benar menghindari sang suami. Menolak bercinta dengan suami sendiri hanya untuk Erik, dia juga menyerahkan banyak harta dan kekuasaan demi Erik, bahkan mengkhianati anak dan suami demi kekasih gelapnya itu. Namun, melihat kemesraan Erik dengan perempuan lain itu di luar kesepakatan.


Edward bingung dengan sikap ibunya yang tidak biasa, ekspresi yang ditunjukan sangat tidak masuk akal. Namun, tidak mau ambil pusing. Sekarang dia berniat menjenguk Ricki karena mendengar sakit. Berniat berjuang ke rumah itu. Dia baru saja akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Helena turun dan mobil dan berteriak.


"Edward kau akan pergi kemana?"


"Bukan urusanmu!" Edward menjawab dengan acuh.


"Aku tahu kau akan pergi ke rumah Ana kan?"

__ADS_1


"Ana?"


"Oh, maaf. Yuna maksudku."


"Iya. Untuk melihat Tuan Ricki."


"Aku ikut."


"Aku gak ngajak kamu."


"Ya. Aku menawarkan diri."


"Sayangnya aku tidak tertarik dengan tawaranmu."


Tanpa banyak bicara, saat Edward masuk Helena juga Ikut masuk dan duduk di samping kursi kemudi. Pria Beretta biru itu hanya menghembuskan napas lelah dengan tingkah Helena. Ingin rasanya dia mengurungkan diri untuk pergi, kesal karena perempuan itu selalu membuntuti. Jika saja itu Anastasia, dia akan dengan senang hati membawanya pergi. Namun Helena Edward merasa risih jika dekat dengan perempuan itu.


"Kita harus membeli buah atau semacamnya," ucap Helena.


"Oh, iya. Setelah dari sana bagaimana kita jalan-jalan."


"Aku tidak ada waktu."


"Oh, ayolah. Saat kau bersama Ana selalu jalan-jalan tapi dengan aku?"


"Karena saat aku sangat ingin membuat dia bahagia."


"Seharusnya kamu juga begitu padaku!"


"Memang kau siapa?"


"Aku ini tunanganmu, apa kau lupa!"


"Kau saja yang merasa bertunangan. Aku tak merasa."

__ADS_1


"Kau menyebalkan!"


"Aku memang menyebabkan, makanya pergi dari hidupku. Cari pria yang cinta sama kamu. Jangan buang waktu aku gak ada rasa."


"Tapi aku cintanya sama kamu."


Edward menghentikan mobilnya secara mendadak saat di depan swalayan, tubuh Helena terpental ke depan dan keningnya mengenai dasbor.


"Cepat turun beli sesuatu untuk Tuan Ricki!"


"Kenapa kau kejam? Harusnya kau bertanya apakah keningku sakit atau tidak? Kau tiupi kek. Bukannya kau akan sangat khawatir jika Ana terluka sedikit saja?" cerocos Helena.


"Ya itu jika Ana, bukan kau. Cepat turun jangan mengeluh terus."


"Kau gak adil!"


"Gak suka tinggal minggat dari kehidupanku. Sudah sana turun! Beli yang bagus dan segar, kalau tidak aku tinggal kau di sini!"


"Edward kau berniat meninggalkan aku? Sebaiknya kita pergi bersama."


"Tidak. Aku enggan jalan berduaan denganmu."


Helena tak memiliki pilihan lain, setelah melihat Helena masuk ke dalam supermarket. Edward melajukan kendaraannya dan meninggalkan swalayan itu, membuat Helena yang menyadari saat melihat ke belakang berteriak histeris. Dia menghentakkan kedua kaki dan mengumpat.


"Dasar sial! Bisa-bisanya meninggalkan aku sendiri. Edward kurang ajaaaar!"


Helena tidak perduli menjadi tontonan gratis di tempat umum. Dia tidak jadi membeli buah, memutuskan untuk mengejar mobil Edward dengan ojek yang ada di sana. Tida mungkin dia menunggu taksi apalagi memesan supir online karena akan membutuhkan waktu yang cukup lama.


Edward tidak perduli dengan Helena. Dia sangat tidak suka dengan perempuan, pikirnya mereka sangat berisik. Berbeda dengan Anastasia, baginya suara perempuan yang sangat dicintai itu bagai nyanyian surga yang mendamaikan.


"Aku sangat merindukanmu Ana. Semoga nenek sihir itu tak menyusulku ke rumah Ricki. Beruntung pria itu sakit, sehingga ada alasan aku bertemu denganmu."


Edward melihat ke kursi belakang, buket bunga lili sudah bertengger di sana. Dia tersenyum getir saat menyadari bahwa dia bahkan tak membelikan sesuatu untuk orang sakit, melainkan membelikan bunga yang sangat disukai oleh Anastasia. Tidak ingin malu, diapun akhirnya membeli buah segar untuk Ricki. Dia sejak tadi melihat Helena terus mengejarnya. Edward mulai berpikir bagaimana mengelabui perempuan itu, sehingga ide gila pun muncul.

__ADS_1


__ADS_2