Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Aku Normal!


__ADS_3

Wajah perempuan bersurai hitam itu tampak berseri, kebahagiaan menyelimuti hati. Dia pulang dengan bersenandung kecil, sehingga membuat Ricki yang baru saja menuruni tangga tersenyum sinis. Dia melirik sekilas, kemudian pergi begitu saja. Tidak berapa lama, Andre datang menyusul langkah Yuna. Sikap Ricki begitu berbeda, tidak biasanya dia dingin. Padahal di depan Yuna selalu cerewet.


"Wah, menantu kesayangan mommy udah datang nih," ucap Erna.


Yuna mencium punggung tangan ibu mertua dengan takzim. "Masuk, yuk. Mommy membuat sesuatu yang istimewa."


Kemudian pandangan dia mengarah pada sosok pria tampan yang berdiri di belakang Yuna.


"Andre, kamu juga baru datang? Darimana aja?"


"Sedikit ada urusan tadi, Mom."


"Halah, urusan apa pacaran," celetuk Ricki dengan berlalu.


"Biarin gak usah ditanggapi, maklum orang gak pernah pacaran bisanya cuma sitik," cicit Erna.


Ricki tak menjawab, dia berjalan menuju ke belakang tapi langkahnya terhenti saat Jessica mencekal pergelangan tangannya.


"Kak mau kemana?"


"Mencari ketenangan ingin hidup tenang."


"Mampus, dong," sahut Jessica.


"Sialan!" Berang Ricki. Matanya melotot ke arah adiknya itu.


"Lah, aku salah apa. Kan kalau orang mati pada bilang semoga tenang gitu."


"Aku lagi males bercanda!"


"Dih, orang aku serius doain Kakak tenang di alam sana."


"Jessica!"


Ricki mencekik adiknya dengan siku. Gadis itu memberontak saat kepalanya tepat berada di bawah ketiak kakaknya. Dia terus mengatai Ricki bau ketiak. Erna sudah tidak heran lagi dengan peradaban anak-anaknya. Dia mengajak Andre dan Juga Yuna ke ruang keluarga, merasa kesal karena tidak dianggap Ricki segera melepaskan tangan di kepala adiknya dengan pandangan melihat ke arah dua pria itu.


"Sepertinya Andre suka sama Kak Yuna. Sejak di Kanada, dia suka banget tanyain istrimu. Mereka terlihat dekat. Aku pikir mereka serasi." Jesica mengetuk-ngetuk dagu dengan jari.

__ADS_1


Ricki mengusap wajah adiknya dengan telapak tangan dan berkata, "Yuna itu istriku! Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu!"


"Oh, iya aku lupa. Tapi aneh ya, udah nikah cukup lama gak bunting-bunting. Jangan-jangan Kakak ...."


"Aku apa!" pangkas Ricki.


"Nggak, nggak!" Jessica mengibaskan kedua tangan di depan wajah. Takut dengan tatapan kakaknya.


"Aku bingung ya, Kak."


"Bingung apa lagi sih?"


"Aku pikir kakak konyol, ngapain coba Kakak dengan rajinnya, menmbuntuti Kak Yuna ke taman. Kakak cemburu ya?"


"Cemburu ke siapa?"


"Ya kek Kak Andre lah!"


"Maksudnya gimana sih?"


"Ya aku herman aja sih, saat Kak Yuna dekat dengan Edward, dibiarkan. Tapi saat dengan Kak Andre sampe dibuntuti. Aku pikir Kakak cinta sama Kak Andre. Makanya gak bunting tuh istri. Tenang, Kak. Aku bisa jaga rahasia, asal ada uang tutup mulut. Lagipula di negara luar cinta sesama jenis itu yang wajar."


"Kamu pikir aku homo, hah!"


"Iya."Jesica mengangguk polos.


"Eh dengar, aku normal. Mana mungkin suka sesama jenis. Kalau bukan adik, udah gue hajar Lo!"


"Emang berani?" Adiknya menjulurkan lidah, tahu kelemahan kakaknya.


Ricki melengos dan menghembuskan napas kasar. Jesica masih belum berhenti membuat kakaknya kesal dia kembali membuka suara.


"Kalau emang kakak gak homo, kenapa Kak Yuna belum hamil?"


"Ya itu karena belum di kasih aja."


"Di kasih apa? Jangan bilang Kakak gak ngasih enak-enak ke Kak Yuna?"

__ADS_1


"Kak!" Jessica kembali berteriak, dia penasaran.


"Apa sih, anak kecil!"


"Wah, fix Kakak maho."


"Enak aja!"


"Kalau gitu buktikan, mana ada lelaki normal tidur satu kamar dengan cewek gak tegang," cicit Jesicca dengan berlalu.


Seperginya Jesica, Ricki diam sejenak. Apa yang dikatakan adiknya benar. Dan, bahkan banyak yang mengira bahwa dirinya suka sesama jenis. Menikah pun tidak mampu membungkam mulut mereka. Erna berteriak memanggil Ricki sehingga pria itu berjalan menuju ruang keluarga. Sebenarnya dia tidak heran, dengan kedekatan Andre dan keluarga tapi sekarang dia benar-benar tidak nyaman.


Jessica datang dengan sumbringah, menghampiri orang-orang yang ada di tempat itu.


"Dengerin, aku punya kejutan."


"Kejutan apa?"


"Aku buat kue tart yang lagi viral," ucap Jessica dengan tersenyum bangga.


"Halah, aku udah gak mau makan masakan kamu lagi. Mie rebus aja jadi gosong," sahut Ricki melengos.


"Elah, dendam amat. Masih mending gue baik buatin mie."


"Mending nggak deh, mie bisa warna item karena gosong."


"Ya udah mana kue virai itu?" lerai Yuna.


Dengan semangat empat lima, Jessica membawa kue hasil buatan dia dan Erna. Mereka berkata bahwa semua sesuai resep yang diajarkan Yuna, baik Ricki ataupun Andre begitu antusias karena dia tahu hasil tangan perempuan itu tidak pernah gagal. Mereka lupa siapa yang berperan penting dalam pembuatan kue ini.


Jessica kembali dengan bangga, membawa tart ke atas meja. "Anak mommy emang hebat," puji Erna.


Yuna diam memaku melihat kue tart yang tersaji. Edward hanya diam membisu sedang wajah Ricki sudah merah, dengan kedua pipi mengembung seperti menahan sesuatu. Dia ingin sekali tertawa tetapi Erna terus memelototinya agar diam, sehingga.


"Duuuuutt!"


"Ups."

__ADS_1


"Kakak jorok!" teriak Jessica dengan menendang kakaknya dengan kaki hingga mengenai paha pria itu.


"Hehe. Maaf, aku kelepasan." Ricki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


__ADS_2