
Malam ini Yuna tampak gelisah, jantungnya berdegup kencang, nafasnya terasa sesak.
ia berulang kali mengambil nafas dan mengeluarkannya dengan kasar. Terlihat wajahnya yang begitu sangat tegang. Ia mondar mandir ke sana kemari.
Tanpa ia sadari, Ricki menatapnya dengan mengeleng - gelengkan kepala.
"Hey, apa yang sedang kau lakukan?Membuat ku pusing saja!" sentak Ricki.
"Diam! Apa kau tak lihat aku sedang gusar!" sentaknya.
"Berhentilah, mondar mandir seperti setrikaan, Bodoh!" sentak Ricki.
"Mengapa kau sangat menyebalkan!" sungut Yuna.
"Cepat bersiap apa kau mau kita terlambat, hah?!"
"Apa kau tak lihat aku dari tadi sudah siap?!"
sentak Yuna yang mulai kesal.
"Huhhhh..." Ricki mendengus kesal.
"Apa kau lupa apa emang bodoh, bukankah kau bilang Tuan Edward, ingin mengajak kita diner dan membahasnya dengan santai?
"Cepat, ganti bajumu!"
Yuna mengambil dress putih dan di bawa ke kamar mandi. Ia membuka kemeja dan blazer nya di ganti dengan dress selutut tanpa lengan.
"Gimana?" tanya Yuna.
Ricki yang berdiri di depan cermin menoleh, ia diam terpaku menatap kecantikan Yuna.
"Apakah aku terlalu cantik? hingga kau, menatap ku seperti itu?" Yuna mengelap ujung bibir Ricki dengan jarinya.
"Ngeces nih!" ledek Yuna.
Ricki menagkap tangan Yuna dan menatap bibir merah jambu Yuna yang begitu menggoda. Namun, Yuna segera menghempasnya.
"Lepas!.jangan pegang- pegang ntar jatuh cinta, baru nyaho!" ucapnya dengan terkekeh.
"Astaga..."
"Hampir saja gue khilap," ucap Ricky dengan mengusap kasar wajahnya.
"Pak..."
"Hemmm..."
"Jangan pakai kemeja hitam, Pak. Buka lagi!" seru Yuna.
"Kenapa?" Ricki mengerutkan dahinya.
"Tuan Edward tidak menyukai warna hitam,
sebaiknya bapa ganti dengan kemeja biru dia pasti menyukainya."
"Oooo..." Ricki membulatkan bibirnya.
Tak lama mereka sudah bersiap, mereka keluar hotel berjalan sejajar. Yuna masih terlihat gugup dan tegang terlihat dari wajahnya.
Ricki terheran dengan sikap Yuna akhir akhir ini,
"*T*idak biasa ya, Yuna merasa tegang untuk bertemu klien. Bahkan klien yang ribet dan sulit pun bisa Yuna dapatkan tendernya,"
gumam Ricki.
"Yuna..."
"Iyah, Pak."
"Kamu terlihat tegang,"
"Memang terlihat yah, Pak?"
"kemari!" Ricki memegang kedua bahu Yuna dan berhadapan dengannya.
"Pak,.jangan macam macam, yah!"
sentak Yuna.
"Hey, apa yang ada di otak mu ini bodoh!"
Ricki menoyor kening Yuna.
"Sekarang dengarkan saya! Tarik nafas dalam-dalam!"
Ricki sudah tak fokus, ia tetap menatap bibir Yuna dengan tubuhnya yang berdesir.
"Buang bodoh!" sentak Ricki.
preeettttttt....
"Hey, apa kau tidak punya sopan santun!
kenapa kau membuang nya dengan kentut?"
__ADS_1
kesal Ricki
"Ooooppps" Yuna menutup mulutnya. "Lah, Maaf keceplosan, hahhaha."
"Gila kamu yah!" sentak ricki.
"Lagian Bapak, suruh tarik nafas terus malah melamun!"
"Dasar bodoh!"
"Yuna kembali berjalan meninggalkan Ricki yang menggerutu dan mengibas- ngibaskan tangannya kekanan dan ke kiri untuk menghilangkan bau."
"apa yang kupikirkan dengannya, merusak momen saja! cewek aneh!"
Dengan kejadian tadi membuat Yuna sedikit melupakan ketegangannya dan ia tak henti hentinya tersenyum melihat Ricki dengan muka yang di tekuk.
Mereka memasuki lift untuk menuju roof top.
"Pak...."
"Heemm.."
"Apa bpa marah?"
"Kau pikir saja sendiri!" ketusnya.
"Yasudah, marah saja terus, paling cepat tua!" ucapnya dengan terkekeh.
Ricki hanya mendengus kesal.
"Semangat...!"
Yuna mengepalkan jarinya dan mengangkat tangannya ke atas ke bawah.
"Semangat...!"
"Apa yang kau lakukan'?" tanya Ricki
"Menyemangati diri sendiri," huaaaa."
"Dasar, aneh!"
"Cantik sih cantik. Tapi, sedikit gila," gumam Ricki.
trink..
lift terbuka,Yuna memang sudah memboking tempat untuk diner.
"Bagaimana, bagus kan?"
"Menurut buku yang saya baca, Tn. Edward menyukai tempat terbuka dengan menampakan keindahan alam yang terlihat alami dan menyejukkan. Seperti saya, hhhaaa." songong Yuna.
Ricki hanya merasa jengah, dan memutarkan kedua bola matanya. Meski memang Ricki akui, Yuna memang cantik dan alami, Tapi karna Yuna yang mengatakannya jadi membuatnya terdengar menyebalkan. Padahal pada kenyataannya. Yuna mencoba menghibur dan mengurangi ketegangannya.
Di tempat lain tampak seorang laki laki tinggi, dengan rambut kecoklatan, mata coklat dengan tubuh tegap dan wajahnya sangat tampan. Beserta kedua bodyguardnya di belakang dan seorang asisten pribadi nya yang berjalan sejajar dengannya tidak kalah tampannya.
"Selamat malam tuan, apakah anda tuan Edward?" tanya seorang pelayan laki-laki.
Edward hanya menganggukan kepalanya.
"Anda sudah di tunggu tuan, mari ikut saya," ucap pelayan itu.
'
'
'
...----------------...
"Selamat malam tuan, Ricki mengulurkan tangannya dan di jabat langsung oleh Edward
"Perkenalkan, Saya Ricki Ariando."
"Edward..."
Ricki mempersilahkan Edward untuk duduk,
dan sedikit berbincang bincang.
"Apakah anda sendiri, Tuan Ricki?"
"Saya bersama sekretaris saya, Tuan. Maaf, dia lagi ke toilet."
"Apakah anda terlalu lama menunggu say
hingga sekretaris anda tidak di tempat saat saya datang?" tanyanya dengan nada mengintimidasi.
"Ricki hanya tersenyum ramah, karena semua orang tahu watak Tuan Edward yang dingin, tegas dan angkuh. Tidak lama Yuna datang
dengan senyum yang manis dan menawan.
Yuna berjalan dengan anggun dan senyuman nya,
__ADS_1
Yuna memang telihat cantik malam ini dengan rambut yang di gerai dan mengenakan dress putih tanpa lengannya.
Yuna menghampiri meja bosnya.
"Maaf, Tuan. membuat anda menunggu."
Yuna menjulurkan tangannya dengan senyum manisnya. Namun, Edward terus menatap lekat Yuna.
"ekhem.. " Yuna berdehem.
Edward pun menjabat tangan Yuna,
"Saya Yuna, Pak. Sekretaris tuan Ricki." sapanya.
"Saya Edward, Edward endelson." ucap nya kembali.
Mendengar nama endelson membuat jantung Yuna berdegup kencang. Namun, sebisa mungkin Yuna mencoba untuk tetap tenang.
"ekhem..,.Maaf Pak. Tanngannya."
"Maaf..."
Edward segera melepaskan tangannya dari tangan yuna.
Ricki yang melihat itu entah kenapa merasa hati nya sangat panas dan gelisah.
"Apa bisa kita lanjutkan, Tuan?" tanya Ricki.
Ricki membuka berkas nya untuk menjelaskan pada Edward tentang perusahaannya.
"Tunggu!" Sergah Edward.
"Apakah sebaiknya, anda meminta sekretaris anda untuk menjelaskan pada saya?"
Tidak bisa di pungkiri, Ricki merasa kesal, entah karna ia tidak di hargai atau karna ada hal lain.
Yuna mulai menjelaskan secara terperinci dengan singkat dan jelas, tidak bisa di pungkiri Yuna memang pandai dalam mendapatkan tender tender besar,
meski katanya dia belum selesai kuliah. Tapi, kejeniusan .dan ilmu tentang bisnis benar benar di kusai dengan sangat matang, hingga tak heran bersama Yuna Ricki sering memenangkan tender besar .
"Nagaimana tuan? apakah anda mau menerima kerja sama ini?"
.
"Oke, Saya akan mempelajarinya kembali. Namun, dengan satu syarat saya mau meeting di lakukan di luar perusahaan!"
"Bagaimana, Pak. Allah setuju? tanyanya.
"Tentu, saya setuju."
"Oke, untuk tanda tangan kontraknya nanti kalian datang ke kediaman saya yang di Bandung, hari sabtu untuk alamat nanti asisten saya yang mengaturnya."
"Baik, Tuan. Terimakasih."
Tiba saatnya makan malam baik Ricki atau pun Edward biasanya mereka tidak terbiasa makan malam setelahmeeting selesai Namun, malam ini Edward sangat menikmati jamuannya, begitu pun Ricki.
,
,
,
'
'
, intermesso
jangan sampe kebalik gini nih🙄
,Sebelum menikah
Pria: “Akhirnya! Aku sudah menunggu saat ini untuk tiba.”
Wanita: “Apakah kau rela kalau aku pergi?”
Pria: “Tentu tidak! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu.”
Wanita: “Apakah kamu mencintaiku?”
Pria: “Tentu! Selamanya akan tetap begitu.”
Wanita: “Apakah kau pernah selingkuh?”
Pria: “Tidak! Aku tak akan pernah melakukan hal buruk itu.”
Wanita: “Maukah kau menciumku?”
Pria: “Ya”
Wanita: “Sayangku…”
Setelah 10 tahun menikah, silahkan dibaca dari bawah ke atas.
mohon dukungan nya
__ADS_1
like dan komen y ka😍😍😍😍