
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang yang berada di luar.
"waalaikumsalam," jawab Arya dengan membuka pintu.
"Hallo brownies," ucap Arin menjawil dagu Arya.
"Apaan sih? Centil banget!" Arya menepis tangan itu.
"Lagian ngapain coba, pagi-pagi udah datang ke rumah orang. Gak ada kerjaan banget," sungut Arya.
"Gue mau numpang makan. Ayo masuk, anggap rumah sendiri," ucap Arin dengan menarik tangan Rina.
"Eh, ini rumah gue. Harusnya gue yang bilang gitu."
"ET dah, curut protes mulu," sahut Arin.
Mereka berjalan memasuki rumah, melihat anggota keluarga sedang makan dan menikmati sarapan nasi goreng, tanpa permisi mereka langsung duduk.
"Selamat makan," ucap Rina.
"Makan yang banyak ya," jawab Arini.
"Eh, ******! Siapa yang nawain lu makan," semur Yuna.
"Elah. Ditawarin atau nggak, kita tetap makan," jawabnya dengan menyendok nasi.
Ricky hanya menggeleng lemah, melihat tingkah kedua sahabat istrinya itu yang saat ini makan dengan lahap. Mereka terus memuji makanan yang dibuat oleh ibu Yuna.
__ADS_1
"Kalian gak makan udah sebulan ya? Laper amat," protes Arya.
"Ini tanggal berapa? Kita belum gajian, duit abis. Bengek gak tuh. Tanggal gajian itu jatuh pada hari minggu. Eh, sebelnya itu perusahaan nunda ke senin. Apa susahnya maju ke Jumat aja sih," cerocos Arini.
"Ekhem." Ricki berdehem.
"Ebusyeet, anjir gue lupa." Arini menepuk jidatnya yang luas seperti lapangan bola.
"Pak kades," celetuk Rina.
"Pak bos, Setan! Napa pula jadi Pak Kades?"
"Salah ya?"
"Ya iya salah, Bego!" Arini menoyor kepala sahabatnya.
"Kenapa jadi pendiam gitu?" tegur Yuna.
"Diem lu! Gue lagi jaim, takut gaji gak dibayar," jawab Arini.
"Gak usah dibayar aja, Bang. Karyawan begini mah, dipecat aja sih," cicit Arya.
Arini dan Rina menatap tajam ke arah Arya. Pria itu semakin gencar menertawakan, dia benar-benar senang dan merasa lucu melihat dua orang yang biasanya berisik berubah menjadi pendiam.
"Mamah," panggil anak kecil yang berjalan dengan mengucek kedua matanya.
"Itu Mamah, kan, Eyang? Apa salah lihat?" Anak kecil yang baru bangun itu kembali bertanya.
__ADS_1
Yuna menggeser kursi dan berbalik, menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan sang putri. "Iya ini mamah, Sayang," ucap Yuna.
"Mamah, Isa kangen." Gadis kecil itu memeluk erat Yuna. Ricki beranjak dari meja makan.
"Papah!" pekik Elizabeth.
"Udah bangun, Sayang? Tunggu ya, papah punya mainan buat kamu," ucap Ricki dengan mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Makan dulu aja," seru Willson.
"Udah, Yah," jawab Ricki dengan berlalu.
Yuna menggendong Elizabeth, mendudukkan putrinya di meja makan. Sudah ada bubur kesukaan yang berasal di atas meja, Ibunya Yuna selalu rajin membuat sarapan untuk cucu kesayangan.
"Mandi dulu napa, jorok banget dah," ucap Arini.
"Mau mandi dulu, Sayang?" tanya Yuna lembut.
"Makan dulu, udah laper," jawabannya dengan mengusap perut.
Yuna menyuapinya dan mendapatkan protes, karena belum memandikan sudah makan terlebih dahulu. Namun hal itu tidak didengar oleh Yuna.
"Gini nih, anak jadi beda didikan. Ya persis nih anak kek emaknya, jorok mandi," celetuk Arya.
"Gue gak mandi juga tetap cantik. Lah elu, mandi tujuh sumur aja tetap jelek," sahut Yuna.
"Anjir good looking emang paling depan deh," timpal Rina.
__ADS_1
Perdebatan mereka berhenti ketika Ricki datang dengan membawa mainan untuk anak tirinya. Selama ini dia selalu bersikap baik, sehingga anak kecil itu sangat akrab dengannya. Hal itu juga yang membuat kedua orang tua Yuna sangat menyukai Ricki.