Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Mulai Menemukan Celah


__ADS_3

"Aku sudah menemukan ada dimana dia," ucap James.


"Alat itu cukup bekerja dengan baik."


"Seharusnya kita bisa menyadap ponselnya."


"Aku harus meminjam ponselnya terlebih dahulu. Caranya bagaimana?"


"Kenapa Anda tidak pinjam ponsel dia, pura-pura untuk menghubungi rumah sakit. Ya setidaknya tinggalkan ponsel Anda.


"Aku tak bisa melakukan itu dengan waktu yang sangat singkat. Kita cukup beruntung bukan, sekarang kita tahu dimana Elizabeth dan Della disekap. Aku ingin segera melakukan penyerangan!"


"Tidak!"


"Kenapa, James?"


"Apa Anda ingin gagal lagi? Kali ini gak main-main. Taruhannya adalah nyawa."


Yuna menghembuskan napas lelah, dia menyerahkan laptop pada James. memijat pelipisnya yang terasa sangat sakit. Yuna mengatakan tidak memiliki banyak waktu, karena dia tahu Ricki tak mungkin pura-pura terus sakit, pekerjaan akan berantakan dan dia tak mungkin juga begitu saja menyerahkan perusahaan para Helena.


"Aku ingin melakukan pemanis terlebih dahulu."


"Tapi sebelum itu Anda harus tahu satu hal."


"Apa itu?"


"Ikut aku!"


Mereka kembali meninggalkan rumah, Ricki yang masih berpura-pura sakit mengejar langkah sang istri dengan memegang tiang infus.


"Kamu mau kemana Yuna? Aku bagaimana?"


"His, kenapa dia sangat bodoh James?" Yuna mengeluh.


"Kenapa ku masih memasang infus?"


"Kamu yang menyuruh aku begini. Sekarang kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Hadeuh. Sekarang buka. Sudah tak berguna tapi ingat!" Yuna mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah Ricki.


"Ingat apa?"


"Jangan keluar rumah, berpura-pura sakit. Diem aja di kamar."


"Oh ya sudah. Kamu mau kemana?"


"Ada urusan. Satu lagi, tidak usah menunggu aku pulang!" tekan Yuna. Ricki mengangguk.


Pria yang masih mengenakan piyama itu berdiri dibalik jendela menatap kepergian Yuna dan James. Mobil melaju dengan sangat kencang, membuat Ricki mendesah panjang.


"Semoga kamu segera menemukan kebahagiaanmu, Yuna," gumam Ricki.


"Kembali bersama dengan orang yang sangat kamu cintai," tambahnya dengan menghembuskan napas lelah.


Ricki berbalik, dan ....


Dooor!


"Ck! Ibu durhalek," cetusnya.


"Haha. Baru dengar ada ibu yang durhaka."


"Ya ini modelnya."


"Duduk yuk," ajak Erna dengan menggandeng tangan anaknya, mereka kini duduk di sofa.


"Ada apa? Jangan bicara hal aneh-aneh."


Ricki mulai curiga, merek kini duduk bersebelahan. Erna tidak menjawab dituduh seperti itu. Kini wajahnya tampak serius, Ricki bingung dengan hal itu.


"Apa kamu tidak mencintainya?"


Pertanyaan itu membuat Ricki diam memaku, wajahnya pucat pasi. Takut dan bingung harus menjawab apa.


"Kenapa diam?"


"Aku tak tahu, Mom."


"Bohong! Aku ini ibumu, perempuan yang melahirkamu."


"Semua orang juga tahu, Mom. Gak perlu diperjelas, gak ada juga yang ingin punya anak aku selain Mommy. Jadi gak usah diingatan terus," cicit Ricki.


"Yuna itu perempuan yang baik, tetapi kurang arahan. Dia sebenarnya belum mengerti apa itu cinta. Hanya berambisi dan selalu mempertahankan apa yang dimiliki."


"Aku tak mengerti."


"Dia salah mengartikan kata setia."

__ADS_1


"Jadi dia?"


"Ya. Dia itu pernah cerita sama Mommy, kalau dulu dia sudah berjanji pada kakeknya. Akan terus bersama Edward apapun yang tejadi, menemani dan melindungi. Banyak orang jahat disekeliling Edward dan tugas dia dan James, adalah untuk tetap setia berada di pihak Edward. Mereka bertiga sangat dekat, sehingga Edward jantan bisa terbuka pada Yuna."


"Sebenarnya bukannya Edward memiliki seorang ibu?"


"Tidak semua ibu mendukung anaknya, ada yang bertentangan."


"Aneh. Maka dari itu kamu beruntung punya aku."


"His, untung apa. Kepo begitu," keluh Ricki.


"Sekarang kembali ke topik utama. Kamu mencintai Yuna kan?"


"Entahlah." Ricki mengedikan kedua bahu.


"Aku melihat kau sangat mencintai Yuna."


"Sok tahu!"


"Kalau gak cinta, ngapain kamu pura-pura sakit? Untuk apa nunggu di luar kalau dia belum pulang? Lalu begitu saja menyerahkan perusahaan untuk menyelamatkan Elizabeth? Itu bukan yang namanya cinta? Eh, Udin! Orang bego aja tahu, kalau kamu itu cinta."


"Ya yang mikir gitu berarti orang bego ya." Ricki terkekeh pelan.


"Sial! Aku tidak bodoh!" Erna tertampar ucapannya sendiri.


Ricki hanya diam, mencoba merenungi setiap pernyataan ibunya itu, dia juga tidak tahu kenapa selalu ingin membantu Yuna. bahkan Dera pura-pura sakit, jika untuk mencintai dia sendiri tidak yakin karena Sampai detik ini dia masih memiliki janji dengan seorang gadis kecil di masa lalu. Dia tetap ingin menepati janjinya. semakin dia berpikir keras semakin tidak menemukan jawaban.


"Aku bisa bertaruh Sebenarnya kalian saling mencintai hanya saja belum sadar," ucap Erna.


"Aku rasa ini bukan perasaan cinta, lebih ke tanggung jawab sebagai seorang suami yang memang harus melindungi istri. Mommy tau sendiri aku tidak bisa bela diri, hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh Yuna. Semoga dengan begitu membantu."


"Sekarang coba kamu pikirkan dan rasakan. Bagaimana jika kamu melihat Yuna pergi bersama Edward dan hidup bahagia? Apa kamu juga akan bahagia?"


Rentetan pertanyaan itu membuat Ricky dia membisu. Dia masih ingat saat Yuna bersama dengan Edward, ada perasaan tak rela dan ingin menjauhkan mereka. Namun, melihat wajah Yuna yang selalu bahagia, selalu bersemangat saat akan bertemu dengan Edward rasa sakit itu terganti dengan perasaan bahagia. Dia senang melihat Yuna tersenyum, tertawa dan penuh semangat. Dia hanya ingin Yuna bahagia, jika harus melepas dia akan rela.


"Aku pikir, ini bukan soal cinta."


"Lalu?"


"Selama ini aku terbiasa hidup bersama dengan Yuna. Banyak hal unik dan tanpa terduga ketika kita bersama, bahkan aku bisa kembali merasakan kue buatan nenek. Sangat menyenangkan memiliki istri dan sekretaris secerdas Yuna. Namun, bukan kamu ini selalu mengajarkan agar aku tidak egois? kebahagiaan dia yang terpenting bagiku."


"Aku salah selama ini. Seharusnya aku berkata kita tetap harus egois dalam urusan cinta!"


"Tidak! Cinta yang sesungguhnya jika kita bisa merelakan dia pergi dengan orang lain. Sampai di titik itu barulah kita sadar bahwa kita benar-benar mencintainya."


"Ternyata kamu sekarang sudah dewasa. Untuk menggantikan Yuna apakah kamu kembali pada perempuan tidak anak kecil yang dulu kamu cari itu?"


"Bagaimana kalau perempuan itu ternyata Yuna?"


"Oh, tidak! Memangnya dia itu memiliki jurus seribu bayangan sehingga bisa menjadi apa saja." Ricki menghempaskan tubuhnya di sofa membuat Erna terkekeh pelan.


"Hal itu bisa saja terjadi bukan?"


"Tidak, tidak! Jika begitu aku akan menikah dengan siapa?"


"Sepertinya kau memang ditakdirkan untuk menduda seumur hidup," celetuk Jesica yang baru datang.


"Dasar Curut!" umpat Ricki pada adiknya.


"Aku berpikir juga begitu Mom? Kak Yuna itu adalah orang yang dicari."


"Tidak mungkin. Yuna itu asli dari Inggris, sedangkan gadis itu hanyalah anak kecil dari pesisir pantai. Itu sangat tidak mungkin!"


"Ya semoga aja gitu."


"Kenapa semua semua harus dihubungkan dengan Yuna memangnya di dunia ini cuman ada perempuan dia doang."


"Ya kalau lingkaran jodoh memang begitu, ya nggak sih, Mom?"


"Bisa jadi sih."


"Tauk ah. Bicara dengan kalian semakin membuat otakku pusing dan putus asa."


***


"Sepertinya suamimu begitu sangat cinta. lihatlah dia sampai mau pura-pura sakit dan memasang infus padahal dia baik-baik saja," goda James. Saat ini mereka sedang mengendarai mobil menuju lokasi.


"Jangan ngawur! Kita hanya menikah dengan sebuah kesepakatan, lagi bulan ini juga sudah memiliki perempuan yang dicintai."


"Aku bisa menebak dia menikahimu karena tuntutan orang tua bukan?"


"Dia dulu tidak menceritakannya kepada ibunya. episode telah tahu keadaanku dan siapa sebenarnya aku, dia mulai membuka diri dan menceritakan semua sehingga mertuaku mengerti."


"Lalu bagaimana dengan perjanjian kontrak apakah di sana tidak ada syarat orang ketiga tidak boleh ada yang tahu?"


"Semua kontak Sudah batal dan kami perbaharui lagi."

__ADS_1


"Entahlah aku tak tahu dan tak ingin tahu."


Yuna kemudian bertanya mereka akan pergi kemana karena sejak tadi tidak sampai ke tempat lokasi dan ini justru menuju ke arah puncak. James mengatakan kepada Yuna agar menghubungi suaminya dan berkata bahwa mereka akan menginap, tetapi yang namanya dia harus pergi dari tempat itu dan paginya harus tetap bekerja dan ke kantor seperti biasa. menggantikan suaminya yang pura-pura sakit.


"Jika di malam hari kita tidak akan menemukan apapun."


"Maksudnya?"


"Kamu akan tahu siapa mantan mertuamu sebenarnya."


Tepat pukul sembilan malam mereka sudah sampai di villa, sudah terbiasa James dan Yuna bekerja sama dan kali ini mereka tinggal berdua di sebuah Villa. Sampai di sebuah kamar Villa, mereka masuk bersama. Yuna tidak pernah takut pria ini akan berbuat kurang ajar, karena sejak dulu dia memang sangat profesional. James meletakan teleskop di dekat jendela dan hal itu membuat Yuna bertanya.


"Untuk apa benda itu?"


"Cukup lama aku mengamati dan sekarang aku sudah bisa memasukkan salah satu orang ku diantara pengawal Erik."


Wah, hebat bagaimana ceritanya?"


"Oang yang kemarin berkhianat pada kita. Aku sudah menguasainya.".


"Kau tidak bisa mempercayai seorang penghianat James!"


"Tentu saja aku tidak percaya padanya, tapi bisa memanfaatkannya dengan mengancam keluarga dan orang-orang yang disayangi."


"Kau sangat licik."


"Terima kasih pujian Anda, Nona."


"Aku tidak sedang memuji!"


"Maaf, Nona. mulai sekarang saya yang menentukan target dan rencana, licik dan jahat Anda harus mengikutinya. Kali ini aku bisa pastikan bahwa Anda juga harus membunuh."


"Aku tak ingin melakukan itu!"


"Jika itu tak Anda lakukan, aku menjamin Elizabet tidak akan selamat!"


"Nanti aku pikirkan, sekarang jelaskan apa tujuan memasang teleskop di sini?"


"Sebaiknya And lihat saja."


Yuna mendekatkan wajahnya, dia mengamati dan dia kembali menjauhkan tubuhnya dengan mata yang membolak sempurna menetap tajam ke arah James.


"Apa yang kau lihat ini adalah sebuah kebenaran?"


"Kau bisa lihat kebusukan Erna."


"Bagaimana kau bisa yakin bahwa itu Erna? aku bahkan tak melihatnya!"


"Hah? Bagaimana?"


"Kau lihat James!"


James mulai memeriksa, dan kini dia melihat sesuatu yang berbeda.


"Maaf, aku salah target."


"b


Bagaimana kau bisa melakukan kesalahan hal yang fatal? sungguh menjijikan aku melihat kedua batang saling bersentuhan!" Yuna membuang wajah.


"Maaf, Nona."


"Sepertinya benar yang dikatakan oleh Sera kau memang benar-benar gay!"


"Jangan memancing ku seperti itu."


"Lalu kau kenapa tak pernah menyentuh Sheila padahal dia sudah terus menggodamu?"


"Jangan bahas diluar pekerjaan!" Tekan James.


Yuna hanya mendesis, pria itu kembali mengarahkan teleskop dan kini Yuna bisa melihat apa yang ingin ditujukan oleh James. Yuna kembali menatap pria itu.


"Kenapa lagi? Tidak ada penampakan aneh kan?"


"Ini benar Mommy Erna?"


"Ck! Kau masih sudi menyebut dia dengan panggilan Mommy!"


"Itu benar dia dengan pria sialan itu?"


"Ya."


"Ini sangat gila! Bagaimana jika Edward dan suaminya tahu?"


"Ide yang bagus!"


"Apa kita sepemikiran James?"

__ADS_1


Bukankah kita memang sering begitu?"


Mereka berdua tersenyum menyeringai secara bersamaan.


__ADS_2