
"Kamu sudah menemukan tempat itu, James?"
"Ya."
"Syukurlah."
Jemes sangat mengkhawatirkan Yuna, karena perempuan itu sejak tadi menundukkan pandangan.
James maju dua langkah, menarik kursi dan duduk hingga kini berhadapan dengan Yuna. "Apakah itu eksepsi yang pas?" sindir James.
Yuna tidak menjawab, dia menghembuskan napas lelah, kemudian mengangkat wajah dan menatap sendu James.
"Aku tidak yakin," keluh Yuna.
"Tidak yakin?" ulang James.
Yuna menyandarkan tubuhnya di badan kursi, "Aku takut kita gagal dan Elizabeth celaka."
Mendengar itu, James menatap tajam dia tidak senang. "Kita sudah berjalan selama ini, apa Anda ingin menyerah?"
"Entahlah, James." Yuna kembali menegakkan tubuhnya. "Menurutmu?"
"Tidak!" James menjawab lantang.
"Nyawa Sela dan Elizabeth akan raib jika kita tetap melanjutkan rencana ini."
James mengepalkan satu tangan di bawah meja, wajahnya memerah, sorot matanya begitu tajam. Yuna tidak pernah melihat James seperti ini.
"Aku tidak menyangka, kamu akan membuat aku kecewa."
"James, aku hanya—"
"Hanya apa?" pangkas James.
"Tidak ingin ada korban lagi."
__ADS_1
"Apa dengan menyerah, Anda yakin semua akan berakhir?"
"Setidaknya aku tidak akan kehilangan Elizabeth."
"Bagaimana dengan Edward? Bukankah sudah janji akan terus bersama dia?"
Yuna kembali diam. Dia semakin dibuat pusing dengan keadaan ini.
"Bukan hanya itu. Selama ini aku hanya diam, menu dan sabar Kapan waktu balas dendam tiba. Namun, di saat semuanya matang Anda begitu saja menyerah."
"Aku hanya—"
"Kakek mati, ayahku mati, lalu ayah Anda juga nyaris mati. Apa kita hanya diam saja?"
"Karena itu Aku tidak ingin ada korban lagi. terserah dia menguasai semua harta tapi jangan usik aku lagi."
"Anda yakin?"
"Maksudnya?"
"Aku akan pergi dari dia."
"Apa dengan begitu akan aman?"
"James. Aku benar-benar tidak bisa."
"Aku sudah menyusun rencana matang, Tapi itu tidak berhasil jika Anda ragu."
"Apa hari ini kita akan berhasil?"
"Tergantung Anda."
"Beri aku waktu, James."
James menggeleng cepat, "Waktu kita sangat singkat."
__ADS_1
Yuna meminta waktu kepada James, untuk mengembalikan semangat dan kepercayaan dirinya lagi. Sebuah kekecewaan terlalu menyakitkan, membuat dia merasa bimbang. Di sisi lain James sudah menyusun banyak rencana, Dia sangat berharap Yuna kembali memiliki semangat.
"Pulanglah Nona," titah James.
"Maaf James."
"Aku akan menunggu."
Yuna bisa melihat dengan jelas wajah pria itu yang tampak tidak senang, penuh kekecewaan. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Yuna saat ini. Dia pulang dengan kehampaan, mengajukan kendaraan dengan kecepatan sedang dan pikiran melayang. Sampai di rumah, seperti biasa sang suami akan menunggunya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Ricki. Pria itu berdiri di depan pintu mobil sang istri.
"Sepertinya kamu capek banget, " tebak Ricki. Dia berjalan beriringan dengan Yuna.
"Iya."
"Oh, iya. Kamu tahu gak?"
"Apa?" Yuna menoleh.
"Apa yang dilakukan orang Korea saat galau."
"Apa?"
"Ayo ikut aku. Nanti aku kasih tahu." Ricki menarik tangan Yuna.
"Aku sedang malas ngapa-ngapain."
"Kamu tidak usah melakukan sesuatu, cukup duduk saja."
"Duduk?"
"Heum." Ricki meminta sangat istri untuk duduk di meja makan.
"Jangan bilang kamu mau masak mie India lagi," tebak Yuna. Dia akan beranjak.
__ADS_1
"Jangan pergi, aku akan menunjukkan sesuatu."