
Ricki menggeleng kan kepalanya agar pikiran- pikiran aneh tentang Yuna menghilang, Yuna yang melihat itu mengerutkan dahinya.
" Kau kenapa? apa kepalamu telah terjadi konsleting atau ada syaraf yang tidak pada tempat nya? akh..., mungkin telah terjadi kerusakan jaringan pada syaraf kewarasan mu. Heem, seperti nya begitu. Sini aku perbaiki biar kepala mu tidak ber geleng secara otomatis seperti itu lagi," ucapnya dengan nada serius namun Yuna terkekeh karena dengan puas meledek Ricki.
" kauu......., memangnya otak ku buatan cina hah..? beraninya menertawakan ku, kau harus ku hukum." Ricki mengelitiki pinggang Yuna tanpa henti, hingga suara tawa Yuna menghiasi kesunyian siang itu. Ricki masih menikmati renyah nya tawa Yuna kala itu.
" Hentikan! cukup otak unggas aku bisa tidak makan kalau kau kelitikin terus," Yuna berbicara dengan mencubit pinggang Ricki.
" Auuuu.., sakit kenapa tangan mu seperti kepiting, cubitan mu meninggalkan bekas yang mendalam," ucapnya dengan terkekeh.
" Hissss......, dasar CEO lebay, hentikan jangan terus menyiksa ku, aku geli. Ini beneran ga bisa makan gue atau kamu mau aku gigit hah..? ucapnya dengan mendekatkan kepalanya pada lengan Ricki dan siap menggigit.
" oke, oke ...." Ricki mengangkat kedua tangn nya di atas. " Mitos dari mana itu di kelitikin tidak bisa makan?" tanya Ricki polos.
" Memang ada orang yang makan sambil tertawa terpingkal- pingkal karena di kelitiki?" tanya Yuna dengan senyum mengejek." Weeew......., Yuna menjulurkan lidahnya.
" Asem, aku pikir efek di kelitikin gitu," ucapnya polos.
" Dasar, CEO otak unggas, hahaha." Yasudah, sekarang lanjutkan ceritamu tentang masa lalu mu."
" Ingat, jangan memotong pembicaraan ku. kalau memotong hukuman nya kau ku cium," ucapnya sambil terkekeh.
" lah, itu sih mau mu. Hahaaaaa." Yuna berucap dengan memukul lengan Ricki.
" Saat itu, aku masih berumur 10th. Ketika orang tua ku tinggal di Italia, aku tinggal bersama kakek dan nenek, aku masih sekolah dasar waktu itu. Saat kecil aku suka bergaul dengan teman sebaya ku, orang tua ku tentu saja melarang karena mereka lebih setuju aku home schooling. Beruntung kakek selalu mendukung ku."
" Sedari dulu aku selalu di kawal, meski di sekolah umum tetap saja aku tidak memiliki teman, semua yang ingin berteman dan mendekati ku pasti takut dengan para pengawal ku. Aku muak, dengan semuanya, untuk makan saja kakek mengirimkan orang untuk makan siang ku, sekali pun aku tak pernah merasakan rasanya makan di kantin. Dari situ sampai sekarang aku tak pernah mau lagi ada perlakuan berlebihan, aku ingin menjadi manusia normal."
" Naaaaaaaahhhhhhh....,teriak Yuna, Ricki sontak kaget.
" Aku yakin, kamu bertemu cinta masa kecil mu di sini kan, dia yang berusaha menghibur mu dan dia mendekati mu serta satu- satunya teman mu, maka dari itu kau sangat mencintai dan selalu menginginkan nya. Hiss, itu sudah bisa di tebak seperti kisah Novel," ucapannya sembari mengibaskan rambutnya. Namun, ia teringat sesuatu seketika menutup mulut nya. " Uppppppss...."
Woowwwwww....,
" Sepertinya ada yang ingin aku cium," Ricki berucap dengan mengangkat sebelah alisnya.
" Kemari lah..., kemari lah sayang, aku akan mewujudkan keinginan mu. Ricki memajukan Badan nya.
" Tidak, tidak...aku tidak sengaja memotong ucapan mu, ampunilah...., Tuan tampan aku berjanji Takan ku ulangi." Yuna berbicara dengan mengatupkan tangan nya memohon.
__ADS_1
" Tidak ada ampunan, janji tetap lah janji," ucapannya dengan senyum menyeringai.
CUP ....
Ricki mencium pipi Yuna, seketika pipi Yuna merah seperti tomat. Entah, apa yang ada di pikiran Yuna saat ini.
" Sudah, kondisi kan pipi mu yang memerah, karna di cium CEO tampan seperti ku," ucapnya dengan terkekeh.
" Halah, yang ada CEO mesum," ucap Yuna dngan mendorong tubuh Ricki saat ini Yuna sudah malu di buatnya.
Aduhhh....,
Akibat dorongan yuna, Ricki jadi terjengkang jatuh dari tempat tidur. Dia tersungkur mencium lantai. Yuna yang melihat itu. Sontak, tertawa terpingkal- pingkal sambil memegangi perutnya karena tidak tahan melihat ekspresi Ricki yang terlihat kesal. Namun, sangat menggemaskan menurut Yuna.
" Berhentilah tertawa..! apa kau senag melihat ku menderita? tangan mu itu seperti kuli bangunan, kau mendorong satu tangan sajah sudah membuat ku terjatuh. Besok, aku akan ganti pekerjaan mu untuk membantu pak Paijo untuk mengangkat material dan kau jadi kuli panggul nya," ucap nya.
" Heleh, heleeeh.." Yuna menggelengkan kepalanya namun masih tersirat tawa yang tersembunyi. " Lah, masa wanita secantik aku kau jadikan kuli panggul, apa kata bang Kodir." Ucapnya dengan mengedipkan satu matanya.
"Cih, kau sudah ketularan sela. Sahabat mu yang cacingan, aku melihat saat bertemu James dia selalu mengedipkan matanya seperti mu. Kenapa kau bawa tukang cuanki kemari," ucap nya dengan keheranan.
" Ehh.., tukang cuanki yang suka teriak- terjak di siang bolong itu, namanya pak Kodir?" tanyanya polos.
" Mereka pasangan paling fenomenal. Pasangan Ter keukeuh sedunia. Sela keukeuh mengejar James, sedang James keukeuh menolak." Haaaaha. Yuna tertawa puas, namun tatapan nya sendu.
" kau, merindukan mereka? seperti nya kau sangat dekat."
" Sudahlah, ceritakan trauma mu nanti ku obati, bangun lah mau sampai kapan kau berada di lantai seperti itu. Aku tidak punya uang receh." Ucap Yuna dengan terkekeh.
" sialan, emang kau pikir aku pengemis," ucapnya dengan kembali duduk menghadap Yuna.'
" Siang itu, aku baru pulang dari sekolah, bersama dua pengawal dan satu baby sister ku. Kau jangan heran mengapa sebesar itu aku masih bersama baby sister. itu karena, aku sedari kecil sudah memiliki trauma. Sejak kecil nyawa ku selalu terancam aku pernah berkali- kali hampir di bunuh pembantuku, dengan aku yang di bekap saat tidur, sampai aku melihat sendiri pengawal ku terbunuh di depan ku sat berusaha menolong ku dari pembunuhan pembantu ku sendiri."
" Malam mengerikan itu terjadi, ketika orang tua ku berada di Singapura karena ada perjalanan bisnis. kakek dan nenek ku tidak bisa pulang karena pesawat delay cuaca malam itu sangat buruk, Kala itu petir menyambar, pembantu ku yang kami anggap baik dan bisa di percaya datang."
"Aku pikir, dia akan menenangkan aku yang kala itu sendiri. Aku tenang saat dia datang, dia tersenyum padaku dan mengelus kepalaku dengan lembut. Tapi, tangan satu nya ternyata mencekik leherku dan aku di lemparnya ke tepian ranjang."
" Saat ia melepaskan cekikan nya di tangan ku , aku berteriak sekuat tenaga ku. Namun, ia mengeluarkan pisau kecil dan mengelus pipi ku dengan pisau nya. Aku hanya bisa menangis tubuh ku masih sangat kecil. Sesekali dia menekan kan pisau nya pada pipi ku, sehingga darah mengalir bersama air mata ku."
" Dia tersenyum sinis pada ku, mukanya memang cantik dia seumuran ibu ku. Biasa ya dia memakai kacamata tebal menutupi matanya. Malam itu ia tidak mengenakan nya sehingga aku bisa melihat sirat kebencian yang mendalam pada ku. Ia berkata sambil mengeratkan gigi- giginya. Tatapan nya tajam dan seakan ingin benar- benar ingin membunuh ku.
__ADS_1
" Ia berkata, pada ku bahwa hadir ku adalah musibah baginya. Aku tak pernah mengerti apa yang terjadi. Sampai pada akhirnya kebenaran itu terungkap siapa dia sebenarnya."
...Bersambung.........
...**...
Intermesso
Satu Toples Mede
Bu Dedeh sebagai penduduk baru di kompleks rumahnya, datang ke rumah tetangga sebelahnya yang dihuni seorang nenek-nenek.
Ibu Dedeh: "Permisi nek. Perkenalkan, nama saya Bu Dedeh. Saya penghuni baru rumah yang paling ujung itu."
Nenek : "Oh, tetangga baru ya! Mari...mari... masuk. Silakan duduk dulu."
Ibu Dedeh : "Aduh nggak usah nek, cuman sebentar kok. Niatnya cuma mau mampir sebentar buat silaturahmi, malah jadi ngrepotin."
Nenek: "Nggak apa-apa. Masuk aja!"
Di meja ruang tamu si nenek terdapat banyak sekali makanan kecil. Di tengah-tengah obrolan, Bu Dedeh sangat ingin mencicipi kacang mede yang ada di hadapannya.
Bu Dedeh: "Wah, kacang medenya kayaknya enak nih, nek. Boleh saya cicipi, ya?"
Nenek: "Oh, iya boleh. Silahkan!"
Awalnya hanya beberapa buah kacang mede, Bu Dedeh sampai habis satu toples saking enaknya rasa dari kacang mede tersebut,
Ibu Dedeh: "Waduh, maaf nek. Kacang medenya sampai habis nih saya makan."
Nenek: "Oh, nggak apa-apa Bu. Nenek juga nggak bisa makan. Maklum gigi nenek udah nggak kuat. Jadi ceritanya nenek kan sering dikirimi sama cucu nenek cokelat, tapi nenek cuma bisa jilatin cokelatnya aja. Daripada kacang medenya kebuang, ya nenek kumpulin aja semua ke dalam toples itu. Kalau abis ya malah syukur, nggak kebuang."
π€π€π€πππ
Ya sudah, sekarang kasi jejak ππ
biar otor cemangatπ€§π€§π€§
Share sangat di perbolehkan
__ADS_1