
"Ini adalah denah rumah Eric," ucap Andra.
Kali ini mereka sedang berada di rumah kediaman Yuna, khusus untuk melakukan pertemuan. James memperhatikan peta rumah itu, kemudian dia menoleh ke arah Yuna. perempuan yang memiliki mata setajam elang itu membuka suara dia seperti tahu apa yang berada di pikiran James.
"Aku ingin melakukan penyerangan secepatnya," ucap Yuna.
"Aku rasa itu memang yang terbaik, sebelum mereka mengetahui dan membongkar identitas Nyonya," ucap James.
"Minggu depan?" usul Andra.
"Terlalu lama,"jawab Yuna.
"Lusa tepat pukul satu malam," ucap James.
"Aku setuju. Apa orang-orang yang sudah dipersiapkan James?" tanya Yuna.
"Sudah seminggu mereka berada di Indonesia."
Yuna masih menyangka bahwa keluarganya akan aman diawasi oleh orang-orang di bawah pimpinan Jeremi. sehingga mereka bisa melakukan penyerangan ke rumah Eric. Malam hari ketika semua terlelap. Yuna justru sudah bersiap. dia mengenakan celana hitam jaket kulit berwarna hitam dan sepatu boot berwarna senada, rambutnya diikat tinggi pestol sudah menghiasi saku celana dan juga bajunya.
"Kamu beneran nggak ngajak aku?" tanya Ricki dia masih mengenakan piyama dan sandal doraemon. Duduk di tepi ranjang menatap sang istri.
__ADS_1
"Ngapain ikut? Paling bisanya nyusahin!" sahut Yuna.
Ricki cukup tahu diri dalam hal ini, dia tidak akan pernah memaksa untuk ikut bersama istrinya. "Kalau melakukan sesuatu itu jangan terburu-buru, kamu harus tetap hati-hati," seru Ricki.
"Hadapi semuanya dengan sikap tenang."
Yuna menoleh ke belakang, dia mengangguk. "Sebenarnya aku bukan kamu yang selalu tampak santai dalam kondisi apapun."
Ricki mengantar kepergian sang istri hingga ke depan pintu, dia menatap sendu istrinya. Yuna tidak berbalik sedikitpun dia langsung masuk mobil pribadi dan melajukan dengan kecepatan tinggi. Ricky masih tetap menatap kepergian mobil itu saya bergumam, "Aku lebih menyukai kamu yang seorang karyawan swasta, memiliki sikap ceria dan berpenampilan apa adanya. pertemuan pertama di mall membuatku cukup terkesan, tetapi sekarang lihat siapa dirimu yang sebenarnya. rasanya kamu begitu sangat berbeda. Sejujurnya aku tak menyukai perubahan itu."
tidak ada yang bisa dilakukan oleh Ricky, dia kembali memasuki rumah berniat menghabiskan malam yang panjang di ruang kerja.
"Kemana mereka semua? Andra, kau tidak salah tempat 'kan?" Yuna menoleh ke belakang, dia menatap tajam adiknya.
"Tapi di sini tidak ada siapapun."
"Coba kalian cari di ruang bawah tanah," seru James.
Sepuluh orang pria bertumbuh tinggi besar pergi menuju tempat yang ditunjukkan oleh James. Yuna kembali menyusuri ruangan dan memerintahkan orang-orangnya untuk menggeledah setiap sudut rumah ini. Akan tetapi, menson ini kosong. Tidak berpenghuni dan tidak ada satu orang pun di tempat ini.
"Bagaimana apa kalian menemukan seseorang?" tanya Yuna pada sekelompok pria yang mengenakan setelan serba hitam datang, setelah memeriksa halaman belakang.
__ADS_1
"Tidak ada satupun."
"Aku menemukan empat gelas anggur yang masih terisi setengah wine. Bau nya masih sangat pekat, aku pikir mereka baru saja meninggalkan tempat ini."
"Jika begitu Salah satu di antara kalian ada yang berkhianat," tuduh James.
"Kau benar James," sambung Andra.
"Rencana kita sepertinya sudah didengar oleh musuh, kalian tahu berarti kita kalah star. Jika musuh sudah mengetahui pergerakan kita, berarti mereka juga sudah mengetahui siapa itu Yuna. Itu sangat berbahaya."
Ponsel Yunan tiba-tiba berdering, dan itu dari Arya. Yuna segera meletakkan ponselnya di telinga.
"Ada apa?" tanya Yuna. Nada suarao.dangat dingin. Dia benar-benar sangat frustasi dengan keadaan ini.
"Kak ...." Suara Arya tiba-tiba terputus.
"Iya, apa?"
"Eliza Kak, Eliza!" Arya berkata dengan cepat, terdengar juga suara Isak tangis ibunya.
"Arya, apa yang terjadi?" Yuna tampak bingung.
__ADS_1
"Elizabeth, Kak. Dia ...."