
Visual๐๐๐
๏ฟผ
visual Dr. Rayhan / kak Ray..
Ricki masih terus berada di kamarnya dengan sederetan ocehan yang tidak jelas.
Sementara di tempat yang berbeda, Yuna dan Ray sibuk berbincang dan menertawakan tingkah dan kebodohan Ricki.
" Kenapa kau bisa menikah dengan laki- laki seperti itu ? apa tidak ada lagi stok laki-laki laki di dunia ini." Ucap Rayhan dengan terkekeh.
" Hey, berhentilah meledek ku, dia itu bukan orang bodoh, sebenarnya dia bisa di jagokan dalam hal bisnis dan keberhasilan mendapatkan tender. Tapi, kelemahan dia terlalu percaya orang yang baru dia kenal. kenyataan nya jika tidak tahu Erik siapa sih yang tidak tertipu, bahkan perusahaan Ayah juga jatuh ke tangan nya kan. Entahlah, kadang dia bertingkah bodoh dan konyol tapi justru karna itu aku bisa tertawa. Sebenarnya dia itu orang baik." Ucap Yuna.
" Aku hanya heran dia laki- laki tapi tidak bisa berkelahi seperti yang kau ceritakan barusan Ana."
" Entahlah, bahkan dia selalu terlihat pucat saat melihat darah dan keributan. Aku merasa ada yang aneh dengan nya." Ucap Yuna dengan kejanggalan nya.
" Sepertinya kau mulai simpati padanya. Ingat tujuan awal mu Ana. Tapi, aku lebih suka jika si bodoh itu bisa merubah mu kembali ke jalan yang benar."
" Memangnya aku sekarang sedang berada di jalan yang sesat, hah..? sembarangan kamu kak." Yuna berbicara sembari menendang kaki Ray."
" Lah, sakit kau menganiaya ku awas kau yah. Jangan terlalu banyak bergaul dengan James, dia terlatih untuk berperang mana ada dia punya hati. Sedari kecil sela selalu mengejarnya tapi sedikitpun tak pernah dia respon. Aku heran?"
" Ataukah James dari dulu sudah menyukai mu? Atau kalian telah merahasiakan hubungan kalian? Astaga Kaka, pantas sajah kau tidak pernah melihat kau memiliki pacar." Ucap Yuna dengan terkekeh.
" Ana, kau pikir aku laki- laki macam apa? sejak ikut mengaji dengan mu aku kan sudah bertekad untuk menjadi mualaf dan aku tidak ingin mencintai hal yang semu. Aku hanya ingin mencintai istri ku kelak. Kau yang mengajariku hal yang benar sekarang kau yang hidup penuh kesesatan. Berhentilah untuk membalas dendam, aku hanya ingin kau hidup bahagia meski tidak bersama orang yang kau cintai." Ucap Ray dengan mengelus pucuk kepala Yuna.
" Tidak. Aku tidak mau, aku akan tetap memperjuangkan cinta dan semua yang menjadi milik ku dan Erik harus membayar semua luka ku dan semua orang yang pernah dia hancur kan. Akan ku bunuh dia dengan tangan ku sendiri, aku ingin membuat nya memohon untuk kematian nya sendiri. Dan kau, jika masih menghalangi jalan ku aku tidak akan Sudi menemui mu lagi." Ucap Yuna dengan mengepalkan tangan nya.
" Sudahlah, aku hanya mengingatkan mu. Kau lebih paham bukan bahwa kita tidak berhak menghakimi seseorang, dan jangan pernah menjadi orang yang serakah Ana. Nikmatilah hidup yang kau jalani sekarang. Terkadang apa yang kita inginkan, mungkin bukan lah yang terbaik untuk kita." Ucap Rayhan dengan merapihkan anak rambut Ana.
" Dari kecil kita bersama, saat itu aku pergi meninggalkan kalian karena aku hanya ingin hidup normal. Menjadi seorang Dr. adalah mimpiku. Tapi, jika aku tetap berada bersama orang tua ku. Aku tidak akan pernah bisa menjadi Dokter dan bisa menolong orang."
" Sebenarnya, kakek yang mendukung ku dia juga yang menyekolahkan dan membiayai ku tanpa sepengetahuan kedua orang tua ku dan kalian. Kakek tidak sekejam itu, tapi ia tidak mau kalian juga pergi. Maka dari itu kakek selalu merahasiakan keberadaan ku karena ia tak mau salah satu di antara kalian mengikuti jejak ku. Dia khawatir siapa yang akan meneruskan bisnis nya."
" Ana, cinta itu hanya titipan, ikhlas lah jangan pernah kau melawan takdir. Membunuh nya juga tidak akan menjamin kau bahagia kelak kan ? Berhentilah, jadilah dirimu yang seperti dulu diam dan bijaksana. Jika kau seperti ini apa beda nya kau dan mereka yang telah menyakiti mu."
Yuna terdiam, memikirkan setiap ucapan Rayhan. Namun, entah mengapa dia sekarang menjadi wanita yang keras kepala.
__ADS_1
" Maafkan aku kak, aku akan memilih jalan hidup ku sendiri. Kau tahu bukan sedari kecil aku hanya mencintainya dan selalu berharap untuk menikah dengan Nya. Tapi, kenapa takdir selalu mempermainkan ku. Mereka selalu pergi di saat aku sudah merasa nyaman. Kau tidak tahu betapa menderitanya aku selama ini kak." Yuna kembali meneteskan air mata. Yuna hanya bisa menumpahkan masalah nya kepada Ray.
" Apa kau tahu bagaimana keadaan nya kak? aku sangat merindukannya. Ingin sekali aku memeluk nya dan menumpahkan kerinduan ku padanya serta menceritakan apa saja yang telah terjadi pada ku."
" Bukan kah kau memiliki kerja sama dengan nya. Seharusnya kau sering bertemu dengan nya."
" Ia tapi sebagai orang lain, aku ingin bertemu dengan nya sebagai Ana agar bisa menumpahkan semua rasa rindu ku selama ini. Banyak juga yang perlu ku pertanyakan padanya."
" Jangan terlalu serakah, kau nikmati saja apa yang kau miliki sekarang. Jangan terlalu ambisius, beluk tentu apa yang kau kejar patut untuk di perjuangkan."
" Awalnya aku sudah mencoba mengikhlaskan nya karena sakit hati ku. Tapi aku sadar bukan salahnya dan aku tak tega melihatnya terus depresi." Ucap Yuna dengan tatapan sendu.
" Sudahlah, aku harus pulang dulu. Jaga dirimu baik- baik dan ceritakan apa saja yang kau alami selama jauh dari ku. Nanti aku akan datang untuk memeriksa lukamu. Jangan terlalu mendengar kan James." Ucap nya dengan merangkul Yuna.
Mereka berjalan menuju bagasi rumah Ricki. Yuna mengantarkan Ray, samapai Ray masuk ke dalam mobil.
Ricki menatap kepergian mereka di balik pintu dengan sesekali menonjol daun pintu rumah nya, saat Yuna akan kembali ia segera berbalik.
" Apa aku sudah gila membuntuti mereka sepasang kekasih yang tidak tahu diri." Ucap Ricki sambil berlalu.
Sambil berjalan Yuna masih saja bergelut dengan pikiran nya, bukan soal apa yang menimpa dirinya. Namun, ia memikirkan Ricki kenapa Ricki selalu menghindari perkelahian dan kenapa dia tidak bisa bela diri sedikit pun. Bahkan jika melihat darah dan luka ia begitu sangat khawatir dan terlihat pucat pasi seperti mayat hidup.
Dengan langkah gontai Yuna berpikir sambil berjalan tanpa sengaja ia menabrak seseorang hingga ia terpental.
" Hey..., kemana mata mu kenapa kau menabrak ku yang sedang berdiri." Ucap Ricki dengan berteriak- teriak. Ricki memang tampak Emosi saat ini amarah nya sudah tidak terkendali.
Yuna tidak menanggapi ucapan Ricki, ia meringis sambil memegangi tangan nya yang luka. Tampah darah merembes dari tangan kiri nya yang luka. Ricki yang melihat itu seketika berjongkok dan membopong Yuna tanpa sepatah kata pun. Kini mata mereka bersitatap saat ini Yuna mengalungkan salah satu tangan nya di leher Ricki. Yuna segera memalingkan pandangan nya.
" Lepaskan aku, aku tak mau di gendong olehmu." Ucap Yuna dengan mengerucutkan bibirnya.
" Diamlah, kau sedang terluka tidak perlu banyak bergerak, maafkan aku. Aku tidak sengaja melukai mu aku tidak bisa memegangi mu saat kau tadi menabrak ku. Apa ini masih sakit?" tanya nya kembali dengan nada yang sangat lembut.
"Tentu saja masih sakit. Ada apa dengan mu apa kau salah minum obat? biasanya kau berbicara selalu berteriak- teriak." Ucap Yuna dengan menempelkan telapak tangan nya di dahi Ricki.
" Aku akan memperbaiki perban mu?" Ucap Ricki dengan tetap menggendong Yuna menuju kamarnya. Ricki menidurkan Yuna di ranjang miliknya.
" kenapa.kau bawa aku ke sini? kau jangan macam- macam yah." Ucap Yuna dengan melingkarkan kedua tangan di dadanya.
" Aku hanya ingin mengobati lukamu, tidak lebih. Yuna maafkan aku, aku bukan suami yang baik. Aku tidak bisa melindungi mu bahkan aku yang selalu di lindungi olehmu. Jika saja aku bisa mengatasi trauma ku. Mungkin aku tidak akan menjadi Laki- laki yang tidak memiliki harga diri seperti ini. Aku terlalu lemah untuk di sebut laki- laki. Aku tidak pernah ingin seperti ini. Sedari kecil mereka memperlakukan ku berbeda dengan adik ku steave semenjak kejadian itu." Ucap Ricki dengan sesekali menyunggingkan senyum kosongnya.
__ADS_1
Yuna melihat itu terenyuh hati nya. Mana mungkin ia memarahi Ricki yang lancang saat ini. kejanggalan dalam hatinya pun terjawab. Namun, kejadian apa yang membuat Ricki hingga menjadi lelaki selemah ini. Pertanyaan itu terus mengusik pikiran Yuna.
...Bersambung.......
Intermesso dlu yah biar ga galau ke mereka๐
Bocah di Operasi begini nih๐ค
Jajang: "Kenapa kamu di sini?"
Dudung: "Aku ke sini untuk operasi amandel."
Jajang: "Oh, jangan takut. Waktu aku umur empat tahun aku juga pernah dioperasi seperti itu. Kamu hanya perlu tertidur dan bangun-bangun dokter akan memberikanmu es krim lezat. Ituย
Dudung: "Hah? Masa? Syukurlah. Kalau kamu mau apa ke sini?"
Jajang: "Aku mau disunat."
Dudung: "Wah, semoga beruntung ya. Aku dulu langsung disunat saat baru lahir dan setelah itu aku tak bisa berjalan selama satu tahun!"
Di sini gue Herman nih๐ค emang ada orok yang bisa langsung jalan๐๐๐
sunat ga sunat situ tetap baru bisa jalan dah satu tahun. ujang๐๐๐ถ๐ถ
๐๐
Ya udah lah dari pada keder kaya si Ujang dan si Dudung, sekarang jejakin dulu ajh karya otor.
like
comen
vote
tips .
Bantu share sangat di perbolehkan ๐๐
Terimakasih, yang sudah setia dukung karya ku, semoga selalu bisa menghibur.
__ADS_1
love love buat kalian semua๐ค๐ค๐