Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Sisi Lain Nona Anastasya


__ADS_3

Angin masih menyelimuti dan kesejukan, sinar mentari masih memancarkan warna keemasannya. Teriknya matahari tak menggoyahkan semangat Ana untuk berjalan menyusuri keramaian.


Mereka tiba di sebuah taman, nampak indah dan asri. Siapa yang menyangka, di balik keindahan dan kesejukannya ada banyak kehidupan yang tidak seindah pemandangan kota ini.


Ana menyusuri tepian taman, langkahnya terhenti di bawah jembatan. Ia berjalan terus hingga ia menemukan yang ia cari, Ana tersenyum bahagia. Matanya berbinar, senyuman terukir dari bibir mungilnya.


Beberapa anak kecil menghampirinya, tak segan mereka memeluk Ana. Tidak tinggal diam, Ana berjongkok dan mengelus satu persatu anak yang berkerumun yang menghampirinya dengan tawanya. Seorang ibu paru baya keluar dari rumah yang begitu sederhana. Rumah kecil dengan dinding rumah yang sudah rapuh, atap yang hampir runtuh dan lantai yang sudah menyatu dengan tanah.


Edward memandang khawatir keadaan ini, Ana memang pewaris sah keluarga Endelson, tapi dia sedikitpun tak pernah memakai kekayaannya untuk kebutuhan pribadinya termasuk untuk beramal.


Jika memberi pun ia menyisakan dari uang bulanannya. Penjilat, itulah kata- kata yang selalu dilontarkan mertuanya tanpa dia ketahui, Ana tidak pernah menggunakan fasilitasnya untuk hal pribadi, dan hal itu sudah diketahui sang kakek. Maka dari itu, sang kakek selalu memberikan jatah bulanan kepada semua cucunya, agar Ana mau menerima pemberiannya.


Ana duduk di sebuah sofa yang sudah tak terbentuk keindahannya, baru sebentar duduk ia teringat sesuatu, ia kembali berdiri dan mengambil beberapa kantong plastik di tangan Edward yang masih mematung. Edward tidak menyangka bahwa, masih ada orang yang tidak beruntung seperti mereka.


Ana memberikan banyak bingkisan yang di beri Edward pada ibu parubaya itu, dengan senag ia menerimanya. Senyuman tak lepas dari bibirnya.


Ana kembali duduk dan mengajaknya berbicara. Ana menatap atap rumah yang hampir roboh. Ia meringis, namun bibirnya masih tetap tersenyum untuk menutupi kegundahannya.


Ana merogoh tas jinjing yang di bawanya. Ia mengambil sebuah amplop dan memberikannya pada sang pemilik rumah. Setiap bulan memang Ana sering datang kemari, bukan panti asuhan. Namun, disini tinggal beberapa anak jalanan yang tidak memiliki orang tua dan tidak beruntung.


Ibu Carol, adalah wanita baik hati yang hanya seorang penyanyi jalanan. Ia sudah di tinggal suaminya, tanpa ada seorang anak untuk menemaninya. Sepeninggal suaminya Ia melanjutkan hidupnya dengan menjadi seorang penyanyi jalanan.


Hidup di jalanan, membuatnya menjadi sedikit keras menghadapi keadaan namun, kelembutan hatinya masih terpancar dalam dirinya. Setiap hari ia menemukan anak- anak kurang beruntung di jalanan. Ia bertekad merawatnya dan mengajarkan mereka membaca dan menulis.


Wanita itu kaget bukan main, saat Ana memberikan amplop coklat padanya. Ana tersenyum serasa berkata berkata, "Ambilah! Semoga bisa membantu memperbaiki rumah ini," serunya dengan tersenyum ramah. "Aku akan pergi dalam waktu dekat ini," jelasnya dengan tatapan sendu.


"Nona, apa kau baik- baik saja?" tanyanya penuh kekhawatiran. "Aku baik- baik saja. Hanya saja, aku akan pergi melanjutkan studi ku di Harvard," jelasnya. "Apa kau, masih bisa mengunjungi kami?" tanya seorang gadis kecil yang terlihat menggemaskan.


Ana memangku gadis itu, seraya berkata, "Tentu saja! Setelah studiku selesai aku akan kembali menemui kalian. Ingat, jangan nakal!" titahnya dengan memeluk anak- anak kecil.


"Kalau kau kembali, kami akan membuat perayaan besar!" gadis mungil yang di pangkuan Ana berbicara dengan penuh semangat.

__ADS_1


Ana hanya terkekeh, mereka tertawa bahagia. Mereka tidak pernah menyangka bahwa itu pertemuan terakhirnya dengan Nona Anastasya yang sangat mereka banggakan.


Setiap tahun, gadis kecil yang dekat dengan Ana. Tidak bosan menunggu Ana kembali, Karena bagi mereka Nonanya sudah selesai dalam studinya. Beberapa, dari mereka ada yang sudah di adopsi.


Berbeda dengan Marisa, gadis kecil itu masih setia di rumah sederhana yang tak seburuk dulu. Menunggu dan menunggu, Carol sudah semakin tua, keriput sudah membalut kulitnya dengan sempurna, dia juga masih setia menunggu Ana. Dia selalu berharap akan bertemu Ana walau sekali sebelum dia benar- benar pergi.


.....


"Aku lapar!" Yuna berucap. "Lalu, bagaimana dengan lanjutan ceritamu?" tanyanya. "Hey, kau sudah gila! aku juga butuh tenaga untuk terus bercerita masa laluku, itu sangat menguras emosi!" sentaknya.


"Oh, Iyah. Sampai lupa," Yuna mengangkat kedua alisnya. "Ada apa?" tanya Ricki polos.


"Bukankah, banyak sekali pertanyaan yang kau lontarkan? Ingat! Ini game dan kau, harus siap untuk menanggung resiko!" Ia terkekeh menang.


"Ish, Baiklah. Tapi, nanti kau lanjutkan ceritamu, bagaimana kakek mu meninggal dan tentang Helena! Aku sungguh penasaran!" jawabnya antusias. "Tenang saja! itu hal yang mudah, sekarang serahkan wajahmu, biar ku buat kau secantik bidadari!" lagi- lagi Yuna tersenyum mengejek.


Saat ini Ricki hanya pasrah, rasa penasarannya akan masa lalu Ana membuatnya rela melakukan apapun. Baginya ini hal yang sangat menarik, Anastasya adalah wanita yang berpengaruh dalam dunia bisnis, namun tak ada satu orang pun yang tahu kehidupan peribadinya.


Ricki sudah sangat kesal, apalagi dia harus menunggu Yuna makan dengan wajah yang sangat mengerikan baginya. Lagi- lagi Ricki rela terlihat menjijikan hanya untuk mengetahui tentang masa lalu Yuna yang selalu menggangu pikirannya.


Yuna pergi menemui Bi Ami di dapur, Ia duduk di meja makan. Menikmati hidangan yang sangat lekat baginya. Dia makan dengan lahap. Ia tak pernah menyadari, ada yang menatapnya dengan terkekeh.


Mereka duduk di sebrang tempat duduk Yuna, saling bertatapan. Yuna masih tak menyadari ada dua pasang mata menatapnya dan memperhatikannya sampai ia mendengar yang berbicara pun dia hanya menjawab alakadarnya.


"Kak ...," panggilnya. "Heem." jawabnya singkat tanpa melihat sedikitpun dan melanjutkan makannya. "Sudah berapa lama kakak tidak makan?" tanyanya lagi, "Entahlah," Yuna menjawab dengan masih melanjutkan makannya.


"Kak ...," Kali ini Yuna sedikit geram. "Ada apa lagi, sih!" jawabnya sinis. "Nak, apa kau baik- baik saja?" tanya seorang wanita parubaya, ia mengenal suara itu, Yuna menghentikan makannya, mengelap bibirnya dengan beberapa tisu serta menggeser piringnya.


"Astaga! Momy ...," ia terlihat kaget sedari tadi yang mengajak bicara padanya adalah mertua dan adik iparnya, mereka hanya terkekeh melihat tingkah Yuna. "Sudah sebulan yah kakak belum makan?" ledeknya.


"Ish, apaan sih!" wanita itu terlihat canggung dibuatnya, Ia menyadari dia begitu lahap hingga tidak menyadari ada yang tengah memperhatikannya.

__ADS_1


"Ada apa, Mom?" tanyanya. Kami datang ingin melihat keadaan kalian," jawabnya. "Kami, Baik- baik saja!"


"Kaka ipar, dimana kak Ricki?" tanyanya antusias. "Ada di kamarnya, kau masuk saja!" titah Yuna.


Namun, Ana teringan sesuatu. Matanya melotot dan ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Astaga, Kakaak ...!" teriakakanya memecah keheningan. Sang mertua pun terheran, seraya ia berkata.


"Jangan lupa, Jejak! Like, komen, vote, tips dan share sangat di perbolehkan.


intermesso dulu, Oke!


Ini ceritanya Orang gaptek (OG) Vs SPG gaptek lagi pada ngejogrok di pameran komputer😌


OG : "Mbak, mau nanya dong? ENTER itu maksudnya apa?"


SPG dengan sigap menjawab, "Kayanya, untuk mempercepat program deh, Mas!"


OG : "Mempercepat maksudnya gimana, Mbak?"


SPG : "Yah biar cepet kerjanya, Mas! Kalau tulisannya ENTAR jadinya lamaaaa!"


OG : "Oh, tanya lagi yaah Mbak, ini saya mau masuk ke internet Explorer. Kok saya ketik Facebook.com gak keluar apa- apa yah?"


SPG :"Lah, di depannya mas sudah tulis Www belum, mas?"


OG : "Memangnya harus yah, Mbak? Memangnya Www itu apa?"


SPG : "Emmmm ... apa yah, pokonya kalo masuk ke website harus ketik itu, mas. Kode permisi gitu loh, kayanya kalo ga salah singkatan dari


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatu ..."

__ADS_1


Alhamdulillah, ternyata singkatan Www udah ganti menjadi lebih islami πŸ˜ŒπŸ™„πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2