
Acara bola sudah selesai, kini kedua orang tua paruh baya itu hendak beranjak meninggalkan ruang tengah. Namun, niat mereka diurungkan saat melihat kedatangan putri kesayangannya yang tiba-tiba duduk di antara mereka. Membuat ayahnya menggeser tempat duduk.
"Jangan dempet-dempetan terus. Aku gak mau punya adek lagi," ucap Yuna.
Kedua orang tua itu menoleh ke arah Yuna, mereka menoyor kepala putrinya bersamaan. Yuna mendesis dengan memegangi kepalanya yang terasa oleng. "Elah, jadi orang tua lembut dikit napa," keluhnya.
"Otakmu ngeres."
"Emang nyata kok. Aku gak mau punya adek lagi. Arya aja bikin pusing apalagi kalau nambah. Pecah nih otak," keluh Yuna.
"Paan lo, bawa-bawa gue? Emang gue mau jadi adek lo? Cih, kalau gue boleh milih ogah bener." Arya yang baru datang melempar kulit kuwaci ke wajah Yuna.
"Sialan lu! lempar sekarung aja sekalian, biar gue jual," sahut Yuna.
Yuna mengambil kulit kuaci dan menggemutnya. Kebiasaan yang tidak bis dihindari adalah kebiasaan itu, perempuan cantik ini lebih menyukai kulit kuaci karena menurut dia rasa manisnya alami dan ada sin sedikit ke rasa ingus cair.
"Lu datang ada apa? Gak mungkin kalau gak ada hal yang penting," tebak Arya.
"Kadang-kadang otak lo cair juga."
"Emang air kencing, cair? Sekate-kate kalau ngomong."
__ADS_1
Yuna tidak ingin membuang waktu, karena jika terlalu malam dia akan kesulitan berbicara dengan mereka karena akan tidur saat dia bicara itu kebiasaan mereka. Dia harus memulai percakapan dengan keluarganya. Sejenak dia berpikir untuk mengatakan bahwa adiknya masih hidup, tetapi tidak memiliki keberanian untuk itu. Untuk sementara dia akan menyimpannya sendiri.
"Eh malah bengong, apaan?" tegur Arya.
"Aku mau rebut Edward kembali," ucap Yuna.
Sebenernya hal ini bukan sesuatu hal yang aneh, mereka hanya merotasikan mata jengah. Ketiganya beranjak dari duduk dan hendak berlalu. Namun, Yuna menahan tangan mereka dengan menarik tangan ibu bapaknya. Arya yang tidak di tahan menunjukan protes. "Napa tangan gue gak dicekal?"
"Elah, lu gak penting," sahut Yuna.
"Aku tidak rela menyerahkan perusahaan dan Edward pada Helena."
Pria paruh baya itu saling bertatapan dengan sang istri, kemudian mereka menghembuskan napas lelah.
"Tapi Arya peduli. Enak jadi orang kaya," sahutnya.
"Nah, kan. Arya aja dukung," sahut Yuna.
"Mau jadi orang kaya tapi gak mu berurusan dengan keluarga Dawson's," keluhnya.
"Aku yang akan berurusan bukan kamu, Ya."
__ADS_1
"Jujur ya. Ibu udah enggan sekali berurusan dengan mereka. Rasanya hidup sederhana lebih tenang dan menyenangkan, kami punya waktu bersama lebih banyak. Tidak perlu bersikap elegan dan manis di depan semua orang. Ngelabrak tetangga itu menyenangkan dan gak bisa dilakukan saat jadi orang kaya."
"Tapi Bu, takdir kita bukan seperti itu. Aku akan ambil apa yang menjadi hak kita."
"Untuk apa jika kakak sudah dapat gantinya. Ikhlas aja sih. Jujur ya, meski letoy-letoy juga aku lebih suka Bang Ricki daripada Edward," ucap Arya.
"Nah kamu juga. Ricki itu gak pernah bawa masalah, meski kadang tingkahnya gak normal."
"Ibunya juga baik meskipun kadang agak gila. Daripada ibu Edward? Ah jahat."
Yuna melihat ketiga anggota keluarga yang sia anggap sangat mendukung pernikahan dia dan Ricki. Semua yang dikatakan memang benar, tetapi dia benar-benar tidak bisa terus hidup bersama suaminya, karena mereka hanya kawin kontrak dan memiliki tujuan masing-masing. Pernikahan ini harus berakhir cepat atau lambat sesuai kesepakatan mereka juga tidak boleh saling cinta.
"Ayah dah gak mau lagi dengan perusahaan itu. Mending jadi penjual mie ayam daripada jadi orang kaya tapi tersiksa."
"Aneh deh. Banyak orang yang menghalalkan segala cara agar jadi kaya. Ini malah menolak kaya, gimana sih!" omel Yuna.
Ketiga orang itu hanya diam, mereka sudah tahu jika Yuna memiliki keinginan maka tidak ada yang bisa menentangnya. sebenarnya pembicaraan ini terasa percuma saja karena apa yang ingin dilakukan oleh anak gadisnya maka itu yang akan diperbuat, sulit mendengarkan pendapat orang lain. karena mereka di sini juga hanya akan mendengarkan informasi apa yang harus akan dilakukan oleh putrinya tersebut. rasanya Wilson benar-benar telah membiarkan orang lain untuk membesarkan putrinya, singa memiliki sikap yang begitu sangat ambisius.
"Kamu itu nggak akan pernah bahagia jika dengan Edward karena terlalu banyak orang yang ingin memisahkan kalian," ucap ibunya.
"Tapi aku sangat mencintai dia dan hanya dia. lagi pula Sampai kapan kita akan bersembunyi tanpa menyelesaikan masalah? tetap saja mereka akan tahu, jika sudah seperti itu nyawa kita akan tetap terancam. lebih baik kita melawan daripada hanya diam," ucap Yuna.
__ADS_1
"Lebih baik hidup damai meskipun sederhana," sahut Arya.
Yuna tetap bersikukuh, padahal kedua orangtuanya sudah melarang. Namun, ketika dia bertemu dengan James semakin mendapat dukungan karena memiliki tujuan yang sama. Wilson sudah ingin menemui pria itu, akan tetapi istrinya melarang karena jika hal itu dilakukan akan dicurigai musuh hingga penyamaran mereka akan ketahuan. Sekarang mereka hanya bisa pasrah dan berdoa, karena sejujurnya mereka sudah tak ingin menerima Edward sebagai menantu. Meskipun kakeknya telah sangat berjasa tetapi mereka sudah sangat lelah hidup dengan didampingi malaikat maut.