Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Tempat Ternyaman


__ADS_3

"Kenapa balik lagi?" tanya Jennifer yang berdiri di teras depan.


"Kamu ngapain di luar aja?"


"Kakak lihat aja tuh si babon. Marah-marah Mulu. kasih obat penenang kek! Aku ya, Miki kemarin kita merampokan. Eh tahunya Kak Steven yang bikin pelayan kalang kabut," cerocos Jennifer.


"Anggap aja tontonan gratis ," sahut Ricki yang masuk ke dalam rumah dengan santai.


"Kakak gimana Elizabeth? Eh, jadi gak ke rumah Edward? Jadi kan, Kak?"


"Perubahan rencana, Dek. Masuk yuk!"


"Iya, deh."


Yuna hanya menghembuskan napas kasar, melihat sepatu berterbangan. Dia berjalan handak menaiki tangga tapi dilarang oleh Jennifer, karena Steve sedang menggila karena putus cinta. Tidak ada yang melerai pria itu. Yuna melihat Erna selaku ibunya sibuk menonton kartun Tom and Jerry, perempuan paruh baya itu seperti tak memiliki masalah dia tertawa terbahak dengan menikmati cemilan yang di peluk.


"Sepertinya hanya aku yang waras," ucap Jennifer melihat tingkah ibunya.


Yuna tak yakin dengan ucapan adik iparnya itu, karena dia pun tahu seperti apa gadis itu. Ingin rasanya berkata bahwa dia menikah dengan pria yang absurd sepaket dengan keluarganya yang sama absurdnya.


"Orang waras mending jadi penonton aja deh."


"Dasar perempuan lucnat! Udah gue kasih duit banyak, tahunya selingkuh!" Suara Steven mendominasi.


"Ya situ harusnya kasih uang ke fakir miskin, bukan ke wanita matre!"


"Diam kamu anak curut!"

__ADS_1


"Ih dasar babon, dikasih tahu gak mau!"


Yuna memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, sepertinya dia yang banyak masalah bisa tambah gila. Ditambah Erna selaku ibu mereka tak melerai perdebatan itu. Yuna tidak mungkin ke lantai dua, karena tangga rumah sudah dipenuhi sepatu koleksi milik Steve. Sudah tak heran, jika kesal akan melempar sepatu.


"Kamu selamat?" tanya Ricki yang sedang duduk dengan menikmati just jeruk. Pria itu bukan pria yang suka merokok dan bukan pecandu kopi.


"Ya setidaknya wajahku tidak terkena lemparan sepatu." Yuna mendaratkan bokong kursi.


"Minum tuh. Tadi aku minta bibi buatkan just untukmu juga," seru Ricki. Mengarahkan pandangannya ke arah just yang ada di yd meja.


"Aku ingin meminta tolong. Tapi tidak akan terjadi hal yang buruk. Setidaknya ...."


"Aku sudah mendengar pembicaraan kamu dengan Helena. Gak usah khawatir, aku tidak bercanda untuk mau melakukan apapun untuk menyelamatkan Elizabeth."


"Bagaimana dengan Mommy?"


"Dia itu bukan perempuan yang gila harta. Kau tenang saja. Setidaknya aku beruntung memiliki ibu seperti dia, mengutamakan kebahagiaan anak-anaknya. Kamu lihat Steve, dia bahkan sangat acuh saat anak itu melampiaskan kekesalan. Ya udah kebiasaan gitu."


"Mommy sudah menjelaskan mana yang baik dan buruk. Kami ketiga anaknya juga tidak akan melakukan hal yang mengecewakan. Kamu tahu sendiri, saat Mommy memaksa aku menikah. Apa aku membangkang? Kamu lihat, bahkan kami tidak ada yang mabuk, la bar atau merokok. Kami bertiga juga tak pernah bertengkar. Bahkan sangat dekat bukan? Aturan dibuat untuk dilanggar, dia menanamkan kasih sayang dan sikap santai. Saling mengerti dan memahami karena itulah arti keluarga sesungguhnya."


"Memang udah dasarnya Steven marahnya gigi. Mau gimana lagi?"


"Gimana kalau istrinya gak terima dia memiliki tabeat seperti itu?"


"Ya tugas Mommy untuk cari. Jujur aku juga gak tahu kenapa aku dinikahkan dengan kamu. Apa awalnya dia gak tahu kalau kamu istri orang? Lupakan, jangan mikir soal keluarga aku. Pikirkan cara membebaskan Elizabeth."


Yuna menyadari, selama ini dia hidup penuh dengan aturan tetapi sejak mengenal Erna bahkan dia begitu santai menjadi seorang menantu. kedua adik iparnya juga sudah seperti teman dan adik sendiri. itu berbeda dengan ketika dia menikah dengan Edward. apalagi aturan kakinya yang bahkan membuat dia harus seperti seorang putri raja yang sempurna. untuk batuk di tempat umum saja itu sangat dilarang, apalagi kentut sembarangan seperti yang dilakukan oleh Jennifer. Namun benar yang dikatakan oleh suaminya, kehidupan di rumah ini lebih nyaman. jangankan menunjukkan kemurahan seperti Steven, menangis saja dulu dia tidak boleh tertawa pun tidak boleh kelihatan gigi. itu berlaku untuk pria dan juga wanita dari keluarga Wilson dan Dawson's.

__ADS_1


Yuna tidak lagi melihat keributan ketika dia kembali masuk ke dalam rumah itu, diatur belalang tidak percaya ketika melihat Steven kini tidur di pangkuan ibunya sedang menangis seperti seorang anak kecil. kumpulan paruh baya itu mulus pucuk rambut anaknya dengan lembut, sedangkan Jennifer tampak acuh dengan bersandar di bahu ibunya dengan menikmati cemilan. Semua tampak biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu.


"Aku benar-benar sudah mencintainya."


Yuna mendengar suara Steven begitu sangat lirih.


"Beruntung kamu mengetahui kebusukannya sekarang daripada kalau sudah menikah?"


"Lebih beruntung aku tak pernah bertemu dengannya."


"Jangan menyesali sebuah pertemuan. Jika kamu cukup cerdas itu akan menjadi jalan untukmu lebih dewasa."


"Dengerin tuh!" Jesica menjulurkan lidahnya setelah mengucapkan itu pada Steven.


"Diam curut!" Steven memukul kepala Jennifer.


Yuna berdiri mematuhi memperhatikan keharmonisan keluarga ini. meskipun dia tak pernah melihat ayah mertua tetapi sepertinya Erna tidak mempermasalahkan dia itu yang sibuk. Padahal dalam urusan rumah tangga hal itu menjadi konflik terberat.


"Mami selalu menempatkan dirinya sebagai sahabat untuk anak-anaknya," ucap Ricki yang berada di samping Yuna.


"Dengan begitu kami ada tempat berkurang dan berbagi cerita. Meskipun dia seperti nenek lampir yang sangat cerewet tapi kami nyaman. tidak ada tempat berbagi yang lebih baik selain berbicara dengan mami dan tidur di pangkuannya."


"Aku ingin belajar seperti Mami Erna," ucap Yuna.


"Jika begitu aku ingin memilih sepuluh anak darimu."


"Hah?"

__ADS_1


"Jika ingin menjadi seperti Mommy. Kamu harus menerima yang sudah ada bukan mengajar yang telah pergi," ucap Ricki dengan berlalu.


Yuna diam mamaku, otaknya seperti buntu dan tidak bisa berpikir, tiba-tiba menjadi orang yang bodoh tak mengerti apa yang dimaksud ucapan pria itu.


__ADS_2