
Pagi ini Yuna bersama Ricki pergi ke Bandung untuk menemui Edward. karena, weekend jalanan padat. Alamat yang di berikan sekretaris Edward tidak berada di pusat kota.
Dengan bermodalkan sabar Ricki dan Yuna sudah memasuki kota bandung. Mereka terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.Tidak ada percakapan di antara mereka, jelas saja karna setiap ingin bertemu Edward, Yuna selalu merasa tak karuan, entah apa penyebabnya.
Udara sudah mulai terasa sejuk. Itu menunjukkan sudah melewati perkebunan teh yang luas hijau dan sangat memanjakan mata. Sedari tadi Yuna melihat keluar jendela, Ia membuka sedikit kaca mobil, agar udara sejuk masuk ke dalam dan hembusan angin menerpa wajah cantiknya.
Jalanan sudah mulai naik turun, pepohonan tinggi menjulang, sepi dan jarang sekali penduduk. Ricki sudah mulai ragu dengan alamat yang di tunjukan Yuna. karena, pikirnya orang besar seperti edward. Mengapa rela tinggal di tempat seperti ini.
"Yuna?"
"Iyah, Pak." Yuna menoleh pada Ricki.
"Apa kau tidak sala ini sangat jauh sekali dari pusat kota," tanyanya.
"Benar, Pak! Ini alamat yang di berikan sekretaris pribadi Tuan Edward," sambungnya.
"Apakah Tuan Edward orang baik?"
"Maksudnya?" Yuna di buat kaget dan sedikit tersentak hatinya.
"Yah, kita kan hanya tanda tangan kontrak, kenapa harus jauh jauh ke sini? apa kau tak merasa aneh?" tanya Ricki penuh keheranan.
"Pak Ricki tidak mempercayai nya?"
"Bukan begitu!" sergah Ricki.
"Tenag saja, Pak." Yuna menyunging kan senyumnya.
__ADS_1
"Edward ehh, maksud ku Tuan Edward adalah laki laki yang baik. Dia berbisnis dengan bersih. Mungkin saja, dia tidak ingin keberadaannya di ketahui banyak orang," Yuna menjelaskan.
"Mungkin karena ada sesuatu hal, untuk seorang pewaris satu satunya kerajaan bisnis terbesar seperti dia, memang sangat tidak aman bila terlalu di publis keberadaan nya."
"Kita kan tak pernah tahu musuh kita, Pak!
yang saya dengar memang banyak yang mengincar posisinya."
"kenapa? Kau, sepertinya tahu banyak,"
Ricki keheranan.
"Ahh, itu hanya dugaan ku saja," ucap Yuna dengan sedikit gugup.
"Di depan belok kiri, Pak!"
"Aku tak menyangka, di tempat terpencil ada rumah semewah ini?" tanya Ricki keheranan.
Yuna tak menjawab, hanya menganggukan kepalanya, entah apa yang ada di pikiran nya.
"Yang mana Rumahnya, Yuna?"
"Mana saya tahu, Tn. Edward di rumah yang mana?"
Disini memang ada dua bangunan rumah mewah, bernuansa Eropa keduanya memiliki cat putih. Namun, dengan model yang berbeda. Satu model rumah khas Eropa clasik, dan satu lagi lebih modern dengan kolam renang dan tangga menghiasi keelokan rumah. Rimbun pepohonan yang membuat pemilik rumah terlihat sejuk.
rumah ini seperti rumah yang di desain khusus
__ADS_1
Yuna menghubungi asisten pribadi tuan Edward, untuk memberitahu keberadaannya yang sudah sampai. Seseorang menghamipiri Yuna yang tak lain adalah sekretarisnya Tn. Edward.
"Mohon maaf tuan, kami sedikit terlambat, kami hanya sedikit kebingungan mencari alamat," jelas Yuna dengan mengatupkan tangannya.
Ricki di buat keheranan dengan ucapan yuna karna pada kenyataannya yuna sangat hapal jalan menuju tempat ini. Tidak selang berapa lama Yuna di ajak masuk ke dalam rumah mewah tempat Edward berada.
Namun, saat akan memasuki rumah. Tuan Edward keluar dan berjalan menghampiri mereka.
"Selamat datang," sapa nya. "Berkas yang kalian berikan pada ku, ada di rumah ku." jelasnya dengan menunjuk rumah di samping mereka berada. Edward mengajak memasuki rumahnya.
Ricki di buat kagum dengan desain rumah Tuan Edward.
"Ekhem," Edward berdehem karna Ricki tampak terlihat heran. "istri ku yang mendesain rumah ini," jelasny dengan senyumnya .
"Wah, istri anda seorang arsitektur yang handal," puji Ricki. Edward menatap ke atas dan berucap. "Dia bukan seorang Arsitek," tegasnya dengan tatapan sendu.
"Sungguh wanita yang mengagumkan bukan seorang arsitek saja dia bisa mendesain rumah sebagus dan seunik ini," puji Ricki kembali.
Edward menatap Ricki. "Terkadang aku membenci istriku yang terlalu jenius," tegasnya. Ricki mengerutkan dahinya.
"karena terlalu banyak orang yang menginginkannya," Edward berucap
dengan tersenyum getir.
__ADS_1
Yuna yang yang membuntuti mereka berdua hanya menjadi pendengar terbaik dengan menundukan kepalanya ,lentah apa yang ada di pikiran nya.