Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Kedatangan Edward yang Mendadak


__ADS_3

Edward meninggalkan mobilnya di toko buah, meminta salah satu orang suruhan untuk mengambil. Dia berjalan meninggalkan tempat itu dan menggunakan taksi menuju kediaman Ricki. Tidak ketinggalan buket bunga lili dan buah dibawanya. Helena sangat senang ketika dia melihat mobil Edward berhenti, dia menunggu sebentar karena tak ingin langsung masuk, takut kembali diusir, memutuskan untuk menunggu pria itu pergi. Cukup lama Helena menunggu, karena mobil yang tadi ditumpangi Edward belum pergi juga.


"Astaga, lama sekali. Dia itu beli buah sekintal apa," kesal Helena.


Sementara Helena menunggu, Edward sudah pergi dengan taksi menuju rumah Yuna. Kala itu Yuna sedang di dapur, menyiapkan untuk makan siang. Perasaan dia benar-benar sangat senang, karena mendapat kabar dari orang suruhan James yang menjadi mata-mata bahwa anak dan sahabatnya diperlakukan dengan baik. Dia juga tidak bisa gegabah untuk melakukan tindakan. Sampai detik ini Hanya Edward yang Rudi tahu fakta tentang Yuna.


Bel rumah berbunyi, seorang penjaga di di gerbang depan mengatakan bahwa ada tamu. Jessica yang mengangkat panggilan dari penjaga itu hanya mempersilahkan masuk karena pria itu mengatakan klien Rickie, tanpa merasa curiga.


"Silahkan masuk," seru Jesica.


"Terima kasih."


"Kakak karena dan tampan banget, pasti artis ya. Wah, kalau tahu Kakakku punya klien setampan Anda aku juga mau kerja deh," cicitnya.


Edward hanya tersenyum tipis, hal itu semakin menjadi gadis itu menjerit histeris tingkah Jessica membuat Edward semakin bingung dia berpikir ada yang aneh dalam diri gadis itu.


"Tuan Ricki ada?"


"Abang, ada tuh. Dia itu kalau di rumah gak ada kerjaan. Ngurus ayam terus. Kadang nih ya, suka cium-cium pantat ayam." Jessica cekikikan.


"Bukankah dia sedang sakit?"

__ADS_1


"Hah? Sakit apa? Sakit jiwa iya." Jesicca tertawa lepas.


Yuna berteriak di dapur memanggil adik iparnya itu, gadis berambut panjang itu menyahut. Namun setelah itu, dia duduk di samping Edward. Tidak ingin jauh-jauh dari pria tampan.


"Jessica, bantu kakak, Dek," seru Yuna.


Mendengar suara Yuna membuat jantung Edward berdebar lebih kencang, dia ingin sekali datang menghampiri dan menemui perempuan yang menjadi alasan dia datang ke tempat.


"Duh, Kak. Maaf aku nggak bisa bantu lagi sibuk."


"Jessica, kamu sibuk apa? bukannya tadi ada tamu katanya mau nemuin kakakmu, panggil sana dia lagi di belakang."


"Tamunya nggak jadi nemuin kakak tapi dia emang datang ke sini buat aku kok."


"Iya."


Jessica hendak beranjak, Edward menahan langkah gadis itu dengan bertanya tentunya Dia tidak memiliki keberanian untuk membantu Jessica. turut meminta gadis itu untuk kembali memanggilkan Ricky atau Yuna karena dia datang ke tempat ini untuk menjenguk kakaknya itu bukan untuk dirinya. Edward berkata dengan sangat tegas.


"Dih, Kakak tampan ini kenapa nggak mau ngobrol sama aku?"


"Bisa tolong panggilkan?"

__ADS_1


"Iya, iya. Aku lagi marahan sama kak Ricki. nanti aku minta kak Rina aja buat datang ke sini."


"Oh ya sudah, cepat ya." Edward menjawab dengan sangat antusias.


Jessica pergi ke dapur dengan wajah yang cemberut hal itu membuat Yuna bertanya karena tadi terlihat sangat ceria. gadis itu tanpa malu menceritakan semua dan membuat Erna ikut tertawa bersama Yuna.


"Lagian kamu orang mau ketemu sama abangmu eh malah di pepet," celetuk Erna.


"Ya lagian ganteng banget tau Mom."


"Ya udah biar kamu ada alasan ini bawain minuman sama cemilan buat tamu. Kakak mau ke belakang dulu buat panggil abangmu."


Yuna menyerahkan nampan kepada Jessica gadis itu menerimanya dengan senang hati dan kini kembali memiliki alasan untuk bertemu Edward. Erna penasaran siapa pria yang dikagumi putrinya itu dia pun bertanya.


"Memang siapa tamunya?"


"Ku tidak tahu. Tadi katanya mau jenguk abang. tapi anehnya dia masa sendiri kan cowok bawa buket bunga tahu nggak. secara kan nggak mungkin ya cowok kalau lihat aku nggak terkesan jangan-jangan itu selingkuhan bang Ricki."


"Kamu ini bicara apa! Emang kamu pikir abangmu eligibitih apa."


"Ya bisa jadi. buktinya sampai sekarang kak yunda belum bunting-gunting juga."

__ADS_1


"Yus, kamu itu ngaur. Masih kecil pikirkanmu itu lho." Yuna mengusap wajah Jessica dengan telapak tanhan. Lalu dia pergi ke belakang memanggil suaminya.


__ADS_2