Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Keluarga Absurd


__ADS_3

"Kakak!" pekik Arya ketika melihat Yuna berdiri diambang pintu.


"Bersisik lo!" umpat Yuna dengan mengusap wajah adiknya. Dia masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Rizki.


"Masuk rumah itu Assalamualaikum kek, apa kek, ini main ngeloyor aja kek bebek," cicit Arya.


"Eh, Assalamualaikum deh," ucap Yuna.


"Waalaikumsalam," sahutnya. "Lalik sama bini sama aja," gerutunya.


Yuna dan Ricki tak menanggapi, mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Tampak di sana ayah Yuna sedang menonton bola. Dia berteriak-teriak saat bola itu masuk. Pria paruh baya itu tak sendirian, ibunya juga ada disana sedang duduk bersila menonton acara kesukaan. Bukan seperti emak-emak pada umumnya yang menyukai drama ikan terbang, akan tetapi acara bola menjadi acara favorit mereka.


"Anjir, dikit lagi dan ... ah, setan!" umpat wanita paruh baya itu dengan melempar kulit kacang ke layar kaca.


Yuna melihat kedua orangtuanya begitu bahagia, meskipun sekarang mereka tidak bergelimang harta dan ayahnya tidak lagi memiliki perusahaan yang besar. tapi itu membuat mereka memiliki banyak waktu bersama berbeda dengan dulu untuk makan malam saja seakan tidak ada waktu.


"Elah sepertinya gue salah dilahirkan di dunia ini," keluh Arya.


"Napa lu? Ngeluh aja," sahut Yuna.

__ADS_1


"Kakak lihat aja Ibu sama Bapak kelakuannya asik begitu belum lagi, kamu. Ella sepertinya cuman gue yang paling waras rumah ini." Arya menepuk jidatnya.


Terlalu sibuk menontonacara pertandingan bola membuat mereka tidak menyadari kehilangan tamu yang istimewa, Yuna juga masih belum membuka suara dan menyapa kedua orang tua dia masih mengamati dan tersenyum tipis melihat kebahagiaan mereka. Arya berteriak memanggil kedua orang tua dan mengatakan bersama menantu kesayangannya.


"Bu, itu ada Bang Ricki. Jaim dikit napa," sungut Arya.


"Paan sih, ganggu aja. Gak usah boong deh. Masa Abangmu datang malam-malam," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca.


"Huh, kamu sih Arya ngajakin ngomong mulu, tuh jadi kalau kan," omelnya.


"Elah, aku mau ngomong atau enggak aku konsentrasi atau enggak itu enggak masalah emangnya ibu yang main bola? aneh-aneh aja Masa aku ngajakin ngomong ibu main bolanya jadi kalah," protes Arya.


"Elah, kalau mau nonton kartun entaran aja dah gue lagi asik-asik nonton bola sama Bapak nih. pakai niruin suara abang mau segala lagi," cicitnya.


"Ini memang aku Ricki, Bu," jawab Ricki.


Kedua orang tua paruh baya itu menoleh ke arah sumber suara matanya terbelalak tidak percaya saat melihat sosok menantu yang sangat dicintai itu berdiri di samping mereka.


"Nak Ricki, kapan datang?" tanyanya.

__ADS_1


"Dari Firaun bangkit dari kubur," sahut Arya geram.


"Tuh anak curut nyaut aja kagak ditanya juga," sahut ibunya.


"Lho kamu datang sendiri, Nak? Yuna gak ikut?"


"Ikut kok. Cuma tadi dia pergi ke kamar Lexsa."


"Dasar anak durharek datang-datang bukannya Salim dulu kek eh malah nyelonong aja masuk ke kamar," omel ibunya.


"Wajar aja sih Kakak pergi orang biasanya kalau nonton bola barengan gitu nggak pernah sadar Ada siapa di sekitaran," sahut Arya dengan berlalu.


Perempuan paruh baya itu, menanyakan pada menantunya sudah makan atau belum, dia juga menawarkan untuk minum apa tetapi sebenarnya enggan sekali beranjak untuk meninggalkan tempat itu, karena masih ingin menonton bola. Ricki yang sudah sangat hafal dengan kebiasaan kedua mertuanya itu dia meminta izin untuk menyusul Yuna. benar saja ketika menantunya itu berkata demikian wajah perempuan paruh baya itu terlihat sangat sempurna.


"Ki, nonton bola aja dulu, jangan langsung ke kamar untuk praktek," celetuk ayah Yuna dan mendapatkan pukulan di kepala dari istrinya.


"Sakit, Bu."


"Kalau ngomong itu dijaga!" semburnya.

__ADS_1


Ricki hanya tersenyum tipis, sekilas mereka tidak seperti orang-orang yang dari kalangan atas di masa lalu. Sikap mereka sangat sederhana dan apa adanya, keluarga ini memang pintar dalam melakukan penyamaran.


__ADS_2